Menerangi Serumpun Sebalai
Opini  

THR dan Momentum Penggerak Ekonomi

Oleh : Devi Valeriani (Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Bangka Belitung)

Avatar photo

TUNJANGAN Hari Raya (THR) selalu menjadi momen yang dinantikan oleh para pekerja menjelang Hari Raya Idulfitri. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai swasta, maupun tenaga kerja sektor informal. THR tidak sekadar tambahan pendapatan, tetapi juga menjadi penggerak penting aktivitas ekonomi daerah.

 

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), perputaran uang dari THR berpotensi memberikan dorongan signifikan terhadap konsumsi masyarakat yang menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Secara ekonomi, THR memiliki efek multiplier yang cukup besar. Ketika ribuan ASN dan pekerja menerima THR, dana tersebut segera beredar di masyarakat melalui aktivitas belanja, terutama untuk kebutuhan hari raya seperti makanan, pakaian, transportasi, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Lonjakan konsumsi ini secara langsung meningkatkan omzet pedagang pasar, pelaku UMKM, hingga sektor jasa.

Di Bangka Belitung, yang struktur ekonominya cukup ditopang oleh sektor perdagangan, pariwisata, dan usaha mikro kecil menengah, peredaran THR dapat memberikan stimulus ekonomi jangka pendek yang cukup terasa. Pasar tradisional, pusat perbelanjaan, hingga pelaku usaha kuliner biasanya mengalami peningkatan permintaan yang signifikan menjelang Idulfitri.

 

Selain itu, peningkatan konsumsi masyarakat akibat THR juga mendorong aktivitas produksi. Pelaku usaha kecil seperti pembuat kue kering, katering, penjahit pakaian, hingga usaha oleh-oleh khas daerah akan mengalami peningkatan pesanan. Hal ini membuka peluang tambahan pendapatan bagi pelaku usaha lokal sekaligus menciptakan efek ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Dari sisi makroekonomi daerah, peningkatan konsumsi selama periode menjelang Lebaran juga dapat membantu menjaga pertumbuhan ekonomi regional. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sehingga peningkatan belanja masyarakat akibat THR berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi daerah, meskipun sifatnya musiman. Namun demikian, peredaran THR juga berpotensi menimbulkan tekanan inflasi, terutama pada komoditas yang permintaannya meningkat tajam seperti bahan pangan, transportasi, dan kebutuhan sandang.

 

Oleh karena itu, stabilitas harga dan ketersediaan barang menjadi faktor penting agar dampak positif THR bagi ekonomi daerah dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
Di tengah momentum ini, masyarakat juga diharapkan mampu memanfaatkan THR secara bijak. Bagi ASN dan tenaga kerja, THR sebaiknya tidak hanya dihabiskan untuk konsumsi jangka pendek, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih produktif. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengalokasikan sebagian THR untuk kebutuhan pokok dan kewajiban keluarga, seperti pembayaran zakat, kebutuhan hari raya, serta membantu keluarga yang membutuhkan. Hal ini tidak hanya memenuhi kebutuhan sosial dan keagamaan, tetapi juga memperkuat nilai solidaritas di tengah masyarakat.

 

Langkah kedua adalah mengelola THR dengan prinsip perencanaan keuangan yang sehat. Sebagian dari dana tersebut dapat disisihkan sebagai tabungan atau dana darurat. Kebiasaan menyisihkan sebagian pendapatan, termasuk THR, akan membantu meningkatkan ketahanan finansial rumah tangga di masa depan. Selain itu, ASN dan tenaga kerja juga dapat memanfaatkan THR sebagai modal kecil untuk kegiatan usaha produktif.

 

Di Bangka Belitung, banyak peluang usaha rumahan yang bisa dikembangkan, seperti usaha kuliner, produk olahan lokal, atau perdagangan kecil yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga. Penggunaan THR secara produktif juga dapat memperkuat ekonomi lokal. Ketika masyarakat membelanjakan THR pada produk lokal atau usaha kecil di daerah, maka dampak ekonomi yang dihasilkan akan lebih besar karena uang tersebut terus berputar di dalam daerah.
Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam memastikan momentum ekonomi dari THR dapat dimanfaatkan secara optimal. Upaya pengawasan harga, penyelenggaraan pasar murah, serta dukungan terhadap UMKM menjadi langkah penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pelaku usaha lokal mendapatkan manfaat maksimal.

 

Di sisi lain, edukasi literasi keuangan kepada masyarakat juga menjadi penting. Dengan pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, masyarakat tidak hanya menikmati manfaat THR secara sesaat, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Momentum THR sejatinya bukan hanya tentang belanja menjelang Lebaran, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memanfaatkan tambahan pendapatan tersebut untuk memperkuat kesejahteraan keluarga dan mendorong aktivitas ekonomi daerah.Dengan pengelolaan yang bijak, THR dapat menjadi salah satu faktor yang membantu memperkuat perputaran ekonomi di Bangka Belitung, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih berkelanjutan. (*)

 

[Heateor-SC]