Opini  

Puasa di Tengah Keterusikan Duniawi

Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam ( Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja Bangka

Avatar photo
Rusydi Sulaiman

Ditunggu atau tidak ditunggu, Bulan Ramadhan pasti datang menghampiri kita karena secara kalender Hijriyah bulan tersebut berada setelah Sya’ban, lagi pula nuansa kesucian bulan ke-8 tersebut sengaja dikondisikan untuk menghadapi Ramadhan ( bulan ke-9).

Sebagian muslim selalu panjatkan do’a, seperti: “Allahumma baariklanaa fi rajaba wa sya’baana waballighnaa ramadhaan” ( Ya Allah, berikanlah kami keberkahan di Bulan Rajab dan juga Sya’ban, lalu sampaikanlah kami ke Bulan Ramadhan).

Statemen tersebut memberi makna bahwa Ramadhan tidak sekedar datang, tapi ia siap disikapi oleh siapapun yang mengaku beragama Islam.

Mereka yang menganut agama lain dan atau tidak beragama sekalipun nampaknya beradaptasi. Setidaknya bulan tersebut diwarnai dengan kebaikan (amal shaleh) kebaktian (al-Birru) dan kebajikan.

Banyak penegasan Allah Swt dalam kitab suci-Nya, Hadits Nabi dan dukungan pendapat ulama yang bersandar kepada dua sumber utama tersebut tentang perintah dan larangan, anjuran dan Fadhilah serta hal-hal spesifik terkait Bulan Ramadhan.

Muslim yang taat dipastikan terpanggil untuk berbuat baik di bulan tersebut. Mungkin orang yang sebelumnya belum sadar beragama juga tergerak menjadi lebih taat beragama, terkhusus di bulan Ramadhan–berpuasa tunaikan shalat Tarawih, bersedekah dan beramal shaleh lainnya.

Na’uuzubillah bila sebaliknya terjadi–ada yang mengabaikan bulan tersebut.

Begitu dahsyat nuansa ramadhan, melampaui psikologi siapapun kecuali mereka yang sengaja menjauh, lari dari agama–menafikan puasa sehingga tidak berpuasa.

Bisa jadi mencemoohkannya dan lakukan hal-hal keji dan kemungkaran. Bagi mereka tersebut, puasa tidak berdampak kepada dirinya.

Normatifitas Puasa

Orang-orang terdahulu sudah berpuasa, terlebih pasca kehadiran agama walaupun dengan cara berbeda (QS.Al-Baqarah (2): 183).

Intinya puasa berarti menahan diri dan atau diam, tidak lakukan sesuatu apapun dalam waktu tertentu. Secara etimologis, puasa dimaknai menahan diri (al-Imsaaku) dari suatu tindakan, mengekang hawa nafsu, dan mencegah diri dari makan , minum dan berbicara.

Ulama mendefinisikan, bahwa puasa mengandung pengertian meninggalkan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Selain di Bulan Ramadhan terdapat beberapa puasa wajib, yaitu: pertama, puasa kaffarat, hukuman wajib puasa bagi suami isteri yang melakukan hubungan badan di siang hari Bulan Ramadhan karena yang bersangkutan tidak mampu beri makan fakir miskin; kedua, wajib puasa bagi yang tidak menunaikan nadzar tertentu yang sudah diikrarkan; ketiga, puasa qadha’, wajib berpuasa sebagai ganti hari-hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan di tahun sebelumnya.

Selain itu terdapat beberapa puasa Sunnah, baik yang Sunnah mu’akkadah ( hampir wajib) maupun Sunnah ghairu mu’akkadah ( Sunnah biasa). Di hari-hari tertentu, seorang muslim dianjurkan berpuasa untuk melipatgandakan pahalanya dan atau sebagai bentuk muhasabah diri.

Seringkali seseorang merutinkan dirinya puasa Sunnah karena alasan dan tujuan tertentu. Misalnya, sesuatu yang Sunnah disikapi seakan-akan menjadi wajib (iltizam). Ia akan menyesal bila riyadhah tersebut ditinggalkan karena lupa.

Orang tersebut berupaya mengikat jiwa dan logikanya (muraabathah) dengan Tuhan, Dzat yang Suci. Begitu juga puasa tertentu.

Puasa Tidak Sebatas Menahan Lapar dan Dahaga. Secara normatif, sebagian besar umat Islam intens dan rutin berpuasa di setiap Bulan Ramadhan setelah kewajiban puasa turun kepada mereka (QS Al-Baqarah (2):183) “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Maksudnya sekedar memenuhi normatifitas puasa. Namun, tidak banyak yang mencapai hakikat puasa dalam pengertian sebenarnya).

Satu tokoh perempuan yang mengindikasikan hal tersebut adalah Siti Maryam (QS.Maryam (19):26) “Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini”. Kata, “shaum” dalam ayat tersebut berbeda dengan kata,”shiyaam” walaupun keduanya bermakna puasa.

Puasa (shaum) dimaksud adalah puasa bicara atau diam terstruktur “ash-Shumtu hikmatun, qaliilun faa’iluhu” (Diam itu bijaksana, sedikit yang melakukannya).

Puasa tersebut dalam pengertian menahan diri dari hal-hal yang tidak layak (kurang etis). Bila dilakukan, maka hal tersebut akan mengganggu Marwah (muruu’ah) dan integritas diri seseorang.

Pastinya adalah orang-orang tertentu, bukan manusia umumnya, seperti Siti Maryam. Mereka benar-benar menjaga diri mereka agar tetap lurus dalam keseharian apalagi di Bulan Ramadhan, Nuansa Ramadhan memang beda, ia memberi kesan lebih religius dari bulan-bulan lain.

Berperadaban di Bulan Ramadhan

Ketika sebuah peradaban identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, maka dua aspek tersebut mesti diperkuat dan dilekatkan pada diri setiap muslim.

Niat dan Pemanfaatannya secara baik ( shahiih). Selain berpuasa selama ramadhan, banyak kegiatan yang bisa dilakukan; ibadah lainnya dan muamalah–diharapkan mewarnai keseharian setiap muslim.

Bidang-bidang apapun yang ditekuni untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi perlu dikhidmahkan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai supremasi peradaban berpijak pada agama dan bukan keduniaan ansich.

Bulan-bulan sepanjang tahun Hijriyah mesti diwarnai dengan kebaikan. Terlebih bulan Ramadhan, nuansa religius lebih diintensifkan.

Surga terbuka lebar bagi orang-orang yang berperadaban di Bulan Ramadhan. “Al-Madiinah al-Faadhilah adalah representasi masyarakat ideal yang diobsesikan di negeri ini.

Merekalah yang menyentuhkannya.”innahum fityatun aamanuu birabbihim, wazidnaahum hudaa” (mereka adalah pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan hidayah kepada mereka). Mudah-mudahan terealisasi. Wassalam. (*)

[Heateor-SC]