Opini  

Pendidikan Pondok Pesantren; Antara Rutinitas dan Ghirah Pengembangan Lembaga

Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center

Avatar photo
Rusydi Sulaiman

Pesantren adalah lembaga pendidikan khas nusantaraan indigenous institution yang kehadirannya jauh sebelum NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Ia tidak hanya tampil secara konsisten selenggarakan forum-forum pembelajaran khas pesantren, melainkan telah melewati babak sejarah panjang dalam  mempertahankan survavilitas kelembagaannya.

Pesantren selanjutnya memiliki posisi strategis dalam dunia pendidikan di negeri ini. Perubahan sosial, politik, budaya dan aspek lainnya nampaknya  tidak begitu berpengaruh terhadap eksistensi pesantren.

Pesantren

Secara umum, lembaga tersebut memiliki tiga fungsi, yaitu: pertama, sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berfungsi untuk menyebarluaskan dan mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan Islam. Kedua, sebagai lembaga pengkaderan yang berhasil mencetak kader umat dan kader bangsa.

Umumnya mereka memperoleh pengakuan sosial (social recognition) yang luas. Ketiga, berfungsi sebagai agen reformasi sosial yang menciptakan perubahan dan perbaikan dalam kehidupan masyarakat.

Sebagaimana lembaga lain, pasca sejarah panjang pengelolaannnya,   pesantren mungkin saja mengalami pergeseran sehingga kelembagaannya disoroti masyarakat.

Fakta itu ada, bahkan ditemukan beberapa  pesantren terhenti (kolaps) disebabkan oleh tidak adanya generasi kuat yang mampu mengendalikannya. Lalu bagaimana keadaan sejumlah pesantren di Kepulauan Bangka Belitung?

Pastinya perlu ditelusuri  selain pimpinan pesantren diharapkan mengambil sikap bijak dalam mengelola lembaganya agar tetap solid.

Dalam konteks mempertahankan eksistensi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, lebih spesifik ghirah memajukannya, masih menyisakan pertanyaan sehingga berikutnya dirasa perlu dibenahi.

Jangan sampai kelembagaan pondok  tersebut melemah tergadaikan begitu saja hanya oleh faktor-faktor yang sebenarnya meliputi dan menghantui, namun tidak dirasakan. Lembaga pendidikan tersebut harus tetap berdiri tegak, mengakar dan senantiasa berada di hati masyarakat.

Hakikat Kelembagaan Pesantren

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang kental dengan kekhasan masyarakat disekitarnya; tradisional Islam. Lembaga tersebut selain mengamalkan ajaran Islam, juga menekankan moral keagamaan sebagai pedoman perilaku.

Dalam pengertian sempit,  pesantren bukan hanya merupakan lembaga pendidikan Islam dan pusat penyebaran Islam, tetapi ia merupakan benteng pertahanan umat (defence of Islamic community) dan institusi yang melestarikan budaya religius.

Tidak mudah merintis sebuah pesantren apalagi mempertahankan keutuhannya di tengah hiruk pikuk politik dan tekanan pengaruh eksternal lainnya.

Secara spesifik, pesantren adalah lembaga yang otoritasnya berada di tangan  seorang kyai dimana masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Kesiapan psikologis  seorang kyai dengan segala dedikasinya memotivasi orang untuk datang, disebut santri.

Para santri tinggal di sekitar kediaman kyai atau masjid. Umumnya lahan tanah sebagai cikal bakal lokasi  pondok adalah milik kyai yang diwakafkan untuk kepentingan umat.

Disebut pesantren bila lembaga tersebut memiliki visi, misi dan fungsi kelembagaannya di masyarakat.  Ciri khas lain seperti ruh atau jiwa dan nilai serta  tradisi yang mendasari dan meresapi seluruh kegiatan yang dilakukan oleh komunitas pesantren.

Ruh atau jiwa tersebut merupakan salah satu prinsip dari sekian banyak prinsip-prinsip yang harus dipegang dan juga diamalkan, dilandasi dengan iman, dimotivasi oleh kebersamaan, persatuan dan kesatuan (togetherness and unity) serta berjiwa bebas.

Dan nilai-nilai dasar yang dimaksud  adalah : nilai-nilai dasar Agama Islam, nilai-nilai budaya bangsa, nilai-nilai dasar pendidikan, nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan.

Sebesar apapun kelembagaan pesantren, ia harus berpijak pada landasan pendidikan, tujuan pendidikan dan berada dalam bingkai pendidikan.

Memahami dan menilai pesantren tidak boleh seperti orang buta meraba gajar dan tidak seeperti kera makan manggis, seperti melihat batas, melihat secara parsial dan tidak komprehensif.

Deskripsi yang persis dan benar-benar pas tentang pesantren adakah hal yang mustahil. Pesantren merupakan lembaga yang sangat unik, ada hal-hal yang tidak dapat diungkapkan.

Belajar dan tinggal lama di sebuah pondok pesantren, belum juga memastikan bahwa seseorang memahami betul tentang kehidupan di dalamnya.

Falsafah dan Idealisme Pesantren

Pondok pesantren tidak muncul tiba-tiba dalam periode sejarah tertentu, melainkan melalui pengorbanan dan perjuangan panjang para sesepuh pendirinya.

Falsafah dan idealisme merupakan bagian dari prinsip pendidikan  mendasari kelembagaan  pesantren dalam mengawali pembaharuan pendidikan, yaitu: Pertama, nilai-nilai Dasar terdiri dari: nilai-nilai dasar agama Islam, nilai-nilai budaya bangsa, nilai-nilai dasar pendidikan, nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan:

Kedua, jiwa-Jiwa kepesantrenan yang terdiri dari: bersikap ikhlas, hidup sederhana, berjiwa mandiri, Ukhuwah Islamiyah, berjiwa bebas; Ruh atau jiwa tersebut juga mencerminkan kehidupan santrimanifestasi kearifan lokal yang diharmonisasikan dengan nilai-nilai universal Islam;

Ketiga, tradisi kepesantrenan. Kehidupan di lingkungan  pesantren idealnya diatur atas dasar prinsip-prinsip hidup kooperatif dan  self government, segalanya berjalan atau dilakukan dari, oleh dan untuk santri dalam suasana yang harmonis, penuh kasih sayang dan penuh  kebersamaan;

Keempat, prinsip memelihara dan mengakomodasi. Prinsip tersebut adalah: al Muhaafadzah ala al-Qadiim al-Shaalih wa al- Akhdzu bi al- Jadiid al-Ashlah (mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik).

Fenomena  Pesantren di Kep. Bangka Belitung

Dimaklumi bahwa  tidak begitu banyak jumlah  pesantren di Kep. Bangka Belitung, apalagi yang usianya cukup tua. Regenerasi menjadi salah satu faktor lemahnya kelembagaan pesantren.

Beberapa pesantren di wilayah ini masih relatif muda dan akar kepesantrenannya pun belum jelas bila dikaitkan dengan filosofi pembentukan pesantren  yang sesungghnya kecuali pesantren tetentu.

Sedikit sekali literatur khususnya hasil penelitian yang mengindikasikan hal tersebut.

Tak terbantahkan bahwa pesantren  merupakan lembaga pendidikan islam yang juga mengawali proses pendidikan di Pulau Bangka.

Semangat tersebut tak telepas dari kelanjutan dari gagasan ulama setempat yang pernah mukim dan menempuh ilmu di timur tengah. Al-Islam Kemuja misalnya sebuah pesantren  yang digagas pendiriannya  pada tahun 1930-an Masehi.

Beberapa lembaga tua lainnya yang bermunculan di awal abad keduapuluh masehi di kepulauan ini adalah Pondok Pesantren Nurul Ihsan Baturusa, Pondok Pesantren Darussalam yang juga sebenarnya berawal dari sekolah Arab.

Berikutnya Pondok Modern Daarul Abror Kace Bangka, Pondok Pesantren Nurul Muhibin Kemuja angka, MTHQ Puding Bangka, Pondok Pesantren Darun-Najah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan menyusul beberapa lainnya.

Beberapa ulama cenderung bergerak secara individual dalam bentuk pengajian kitab tertentu tentang ilmu agama Islam dasar,  dan kemudian diminati oleh komunitas tertentu.

Setelah itu muncul beberapa pesantren sebagai kelanjutan pesantren di Pulau Jawa dan kalimantan karena beberapa putra daerah yang merintisnya atau gagasan ulama pendatang.

Pesantren-pesantren tersebut memiliki karakternya sendiri-sendiri tergantung kekuatan falsafah dan idealisme serta arah afiliasinya.

Pondok Pesantren dan Ghirah Pengembangan Lembaga

Pesantren tidak muncul begitu saja melainkan didasari atas perjuangan dan pengorbanan para pendiri dengan dukungan kuat masyarakat.

Satu hal yang membedakan lembaga ini dengan lembaga formal disekitarnya adalah hakikat, falsafah dan idealisme yang secara spesifik berkenaan dengan jiwa, nilai-nilai dan tradisi kepesantrenan sebagaimana diurai serta manajemen kelembagaannya yang berlangsung lama didalamnya.

Ghirah mereka dalam mengembangkan lembaga tiada saingatnya, melekat kepadanya kekuatan moral dan spiritual.

Selanjutnya kehadiran pesantren dirasakan sangat membantu bagi terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan  pendidikan termasuk  mencerdaskan anak-anak mereka.

Sebagai lembaga pendidikan Islam, pengelola pesantren diharapkan tidak menanggalkan falsafah dan idealisme para pendiri sebelumnya, dan terus berusaha lakukan yang terbaik.

Tentu kesemuanya diperlukan kebersamaan dan saling bekerja sama secara internal, dan juga tidak ketinggalan dengan pihak di luar pesantren selama memberikan kontribusi yang jelas berkhidmah di tengah masyarakat.

Pesantren adalah pesantren segala kekhasannya. Mudah-mudahan uraian ini menginspirasi para pengelola lembaga pendidikan untuk lakukan langkah strategis pengembangan. (*)

[Heateor-SC]