Berpuasa
Adab manusia berlatar iman
Menyerukan tubuh membatinkan rasa
Rayuan mata menjadi godaan pikiran
Hati yang tenang menandai mula hasrat berikrar
Turun-temurun melakukan dengan sadar jiwa
Tumpuan harap suci menjadi idaman insan
Sahabat tantangan memberikan suara
Junjungan puasa alamat setia
Suaka Cinta
Alunan melodi selalu indah
Karena terselip tipis nada-nada cinta
Yang merebahkan hati tanpa harus diminta
Menyentuh dan menghidupkan aksara-aksara yang mati
Terlarut dalam buaian mimpi-mimpi
Enggan tersadar dalam pusaran embun-embun cinta
Memberi kesegaran dan ketenteraman yang lama berdiam
Hingga betah tanpa mau meninggalkan rasa
Terpesona dan terperdaya
Oleh cinta yang mengikat bak suaka yang enggan lekang
Bahasa-bahasa cinta bertebaran dimana-mana
Tertambatlah hati tak ingin ingkar pergi
Lautan Delusi
Sejak kapan langit menjadi kelabu,
bukannya tadi masih bersinar cerah?
Lima menit yang lalu hatiku masih tenteram
Duduk santai sambil menyeruput secangkir kopi hangat
Memandang senyum-senyum yang lalu lalang bak matahari menyengat
Memandang sekitar yang masih aman,
semua mata masih menajam pada mimpi-mimpinya!
Mataku tak pernah bohong pada hatiku
Melaporkan keadaan sekitar dengan cekatan dan ringan tangan
Tapi, mata juga sempat terperdaya,
dengan sosok-sosok yang berubah-ubah rupa,
Baik pikiran dan penampakan fisiknya
Sehingga membuat pemakluman yang sedemikian rupa
Kesimpulanku …
Inikah delusi di dunia nyata?
Hujan Kata-Kata
Pagi ini lengang bersambut hujan menderu
Suara keramaian orang sekitar dibungkam dengan jutaan titik air
Yang mampir agak lama membasahi hati yang masih sendu
Tetesannya berubah menjadi bahasa sapaan
Menyentuh kulitku yang dari tadi mengerut
Seolah ingin menyampaikan selamat pagi,
yang jarang lagi terdengar dan tak terucap
Kali ini, hujan membawa pesan perdamaian
Tak mengamuk, yang biasanya disertai petir dan badai
Banyak kata yang ingin terucap dibalik langit gelap
Alunan angin sekali lagi membawa pesan:
Jangan takut berjalan tanpa kata!
Jangan takut kata-kata itu punah!
Karena masih ada alam dengan sejuta kejutan
Hingga aku sadari,
kata-kataku terbatas untuk mengungkapkan rasa
Diksi pun seakan belum mau menepi dan menambat
Namun, hujan berkata banyak tentang mimpiku
Walau hadirnya kini tak lagi dapat diprediksi. (*)


