Hitungan waktu
Karya: Nikolas Adventus Wolo Koten
Saat aku disini
Ketajaman jarum sangat menusuk di tubuh
Pohon menjadi saksi mata
dan awan pun menjadi tiang pelindung
Beribu tempo sudah kujalani
Tampaknya semua akan sirna pada waktunya
Jelinya kala ku hitung saat itu
Membuat terombang-ambing dalam kurunnya zaman
Kepada siapa aku mencari era
Sedangkan putih telah berubah menjadi hitam
Memang waktu tidak selalu indah
Namun, kenangan waktu tak akan hilang. (*)
Sepi Dalam Hati
Karya : Metodius Eden Selo
Dalam kegelapan ku tersembunyi
Menutupi keindahan yang ada
Di balik layar ‘ku membeku
Takut akan orang ramai
Air yang terus bercucuran
Dada terasa amat sakit
Suka-duka yang ku rasakan
Sangat menusuk hati. (*)
Kau Menangkup
Karya: Eduardus Julius Odu Langi
Kau tahu sajak yang meriap-riap
Dengan rembang ke arah langit
dan …
terbang bersama mimpi
Namun pikir terlebur
Tidak ada sedikitpun untukmu
Ternyata, kau menangkup saat sajak …
berbaris bersama angin
Di sela-sela awan dan langit
Kita ‘kan menguntai jalanya kembali. (*)
Sepintas
Karya: Bernadus Egi Damar Julianto
Warna-warni pudar, tinggal jejak fosil berdebu
Waktu terus berotasi membawa cerita,
tersimpan dalam memori di putar duka
Aku terlelap hingga mentari membangunkanku
Hembusan angin menggoyangkan bunga di halaman rumah
Rintikan air menawarkan sukacita
Asap putih menjulang tinggi terbawa angin
melewati jalan sempit berputar-putar meninggalkan pilu
senyum menjadi toping yang menyayat sukma
Elegi menawar malam dengan air mata,
Dicetak menjadi puisi
Riak angkara meluap meninggalkan jejak di lantai
Dingin sesal menghantui pikiran menimbulkan lamunan mendalam. (*)
Memori
Karya : Yosef Nicolas Papu
Aku kembali lagi di tempat yang sama
Di tengah pasir putih dan desiran ombak terdengar
Menggulung memoriku kala itu
Kala atmaku tergores manis olehmu
Di bawah pohon itu
Engkau termangu entah karena apa
Pandanganku bertanya-tanya:
“Siapa yang kau cari?”
Lengkungan tipis terlukis indah di bibirmu
Seakan aku dan kau saling mengerti
Di sanalah tercipta sepasang insan
Bara asa dalam pandang terdalam
Kini, bagaimana kabarmu?
Seakan kisah ini baru saja berlalu
Tak henti gejolak cinta ini
Doa, harapan, dan bayangmu selalu ku nanti. (*)
Masih Pekat
Karya : Bernadus Egi Damar Julianto
Buana terkejut melihat jerawat yang tumbuh di pori-pori kehidupan
Air mata menenggelamkan euforia yang diutarakan piringan hitam
Ukiran indah namamu tersusun rapi di dinding-dinding ingatanku
Bayang-bayang mengujarkan:
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Rintihan bergema dimana-mana
Cahaya euforia meremang
Warna-warni bunga bertebaran
Hanya tersisa duka dan elegi yang mendera ingatan. (*)




