PANGKALPINANG, LASPELA – Temuan kasus HIV di Kota Pangkalpinang menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pangkalpinang menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh bertambahnya penularan baru, melainkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes dan terbukanya akses layanan kesehatan.
Pengelola Program HIV KPA Pangkalpinang, Syahru Siam, mengatakan lonjakan data kasus perlu dilihat secara lebih utuh dan tidak menimbulkan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Kalau dilihat sepintas memang terlihat meningkat tajam. Tetapi ini lebih karena masyarakat yang sebelumnya tidak pernah tes, sekarang mulai berani memeriksakan diri. Fenomena gunung es yang selama ini tersembunyi mulai terlihat,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Syahru menjelaskan, pada masa pandemi COVID-19 sekitar 2018 hingga 2020, angka temuan HIV sempat menurun.
Penurunan tersebut bukan karena risiko penularan berkurang, melainkan rendahnya kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.
Memasuki 2025, edukasi yang lebih intensif serta pendekatan berbasis komunitas mendorong kelompok berisiko untuk melakukan skrining HIV secara sukarela.
Kelompok tersebut antara lain laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), waria, pekerja seks, serta kelompok rentan lainnya.
“Banyak yang datang karena sering sakit, tapi tidak tahu penyebabnya. Setelah tes, baru diketahui status kesehatannya,” kata Syahru.
Ia menambahkan, peningkatan temuan kasus juga didukung oleh perubahan pendekatan layanan kesehatan yang kini lebih ramah dan minim diskriminasi.
“Layanan sekarang lebih terbuka dan tidak menghakimi. Walaupun stigma masih ada, tetapi terus kami upayakan agar ODHA merasa aman untuk berobat dan minum obat secara rutin,” ujarnya.
Syahru menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari, melainkan melalui perilaku berisiko tertentu.
Pemerintah juga telah menyediakan obat antiretroviral (ARV) secara gratis yang dapat menekan jumlah virus dalam tubuh, sehingga ODHA dapat hidup sehat dan tidak menularkan virus kepada orang lain.
KPA Pangkalpinang juga menaruh perhatian terhadap meningkatnya temuan HIV pada usia muda, termasuk pelajar dan mahasiswa.
Minimnya edukasi kesehatan reproduksi dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku berisiko.
“Edukasi itu penting, bukan untuk melegalkan perilaku tertentu, tapi untuk melindungi generasi muda agar memahami risiko dan menjaga kesehatannya,” tegas Syahru.
Selain itu, mobilitas penduduk dan keberadaan mahasiswa dari luar daerah turut memengaruhi data kasus HIV di Pangkalpinang.
Setiap warga yang melakukan pemeriksaan dan pengobatan di Pangkalpinang akan tercatat sebagai kasus di wilayah tersebut.
“Bukan berarti Pangkalpinang menjadi sumber masalah. Prinsipnya, siapa pun yang datang dan membutuhkan layanan kesehatan, wajib kami layani,” katanya.
KPA juga melakukan pendampingan terhadap ibu rumah tangga serta pasangan dengan status HIV berbeda (serodiscordant) melalui edukasi dan konseling untuk mencegah stigma serta konflik dalam keluarga.
Menurut Syahru, peningkatan temuan kasus HIV seharusnya dipandang sebagai momentum untuk memperkuat edukasi, layanan kesehatan, dan dukungan sosial.
“Kasus yang terdata meningkat belum tentu menunjukkan kegagalan. Bisa jadi itu tanda kesadaran masyarakat meningkat dan layanan kesehatan semakin dipercaya,” tuturnya. (dnd)


