PANGKALPINANG, LASPELA — Kemeriahan lomba kolase yang digelar di TK Trisula menjadi momentum penting dalam menandai kebangkitan kembali Yayasan Trisula setelah sempat mengalami masa vakum.
Kegiatan yang melibatkan anak-anak dan orang tua ini tidak hanya menghadirkan suasana penuh keceriaan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menghidupkan kembali eksistensi sekolah bersejarah tersebut.
Pengawas Yayasan Trisula, Eti Fahriaty, mengungkapkan bahwa lomba ini merupakan salah satu langkah konkret yayasan dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap TK Trisula.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya yayasan sempat tidak aktif karena faktor usia para pengurus lama.
“Yayasan ini sempat ‘mati suri’ karena pengurus lama banyak yang sudah uzur, sakit, bahkan ada yang telah meninggal dunia. Kondisi itu membuat roda organisasi tidak berjalan optimal. Karena itu, kami khususnya bu Ishadi mendapat mandat utk membentuk kepengurusan Yayasan Trisula yg baru agar Trisula bisa bangkit kembali dan lebih tertata,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Eti menambahkan, kepengurusan baru diisi oleh Ibu Ishadi sebagai Ketua Yayasan, Aminah sebagai Bendahara, dan Ibu fifi (siti rofiqih kepala sman 4 sekarang) sebagai Sekretaris. Selama kurang lebih tiga tahun terakhir, yayasan fokus membantu sekolah, terutama dalam hal promosi dan pembenahan manajemen.
“Fokus kami adalah menghidupkan kembali TK Trisula yang hampir tutup. Kami bantu dari sisi promosi, memperbaiki administrasi, hingga membangun citra sekolah di tengah persaingan yang semakin ketat. Kami juga ingin menegaskan bahwa TK Trisula ini adalah sekolah pertama di Pangkalpinang yang memiliki sejarah panjang sejak 1958,” jelasnya.
Lebih lanjut, Eti menyampaikan bahwa pihak yayasan juga tengah mengupayakan pengakuan TK Trisula sebagai sekolah berwawasan historis karena bangunannya merupakan peninggalan era kolonial Belanda.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan alhamdulillah disambut baik. Ke depan, kami ingin mendorong agar sekolah ini mendapat pengakuan lebih luas hingga ke tingkat nasional, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga dan bisa menjadi kebanggaan daerah,” tambahnya.
Kepala Sekolah TK Trisula, Sri Miharsi, menuturkan bahwa lomba kolase ini tidak hanya berfokus pada kreativitas anak, tetapi juga memperkuat hubungan emosional antara sekolah dan orang tua.
“Kegiatan ini kami rancang sebagai ruang kebersamaan. Anak-anak membuat kolase dari bahan bekas dengan didampingi langsung oleh orang tua. Jadi bukan hanya belajar, tapi ada interaksi, ada kedekatan yang terbangun antara anak, orang tua, dan guru,” jelasnya.
Menurut Sri Miharsi, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah menjadi salah satu kunci dalam membangun kepercayaan dan kenyamanan anak dalam belajar.
“Kami ingin orang tua merasa menjadi bagian dari proses pendidikan. Ketika orang tua terlibat, anak juga lebih semangat.
Ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan RA Kartini kepada anak-anak sejak dini.
“Kartini adalah simbol perjuangan perempuan. Dari situ kami ingin anak-anak, khususnya perempuan, termotivasi untuk berani bermimpi dan berkembang. Nilai-nilai itu kami kemas melalui kegiatan yang menyenangkan seperti lomba ini,” tambahnya.
Sementara itu, Bendahara Yayasan Trisula, Aminah, menyampaikan bahwa berbagai kegiatan yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari upaya nyata untuk mengembalikan eksistensi TK Trisula di tengah masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa TK Trisula masih ada dan terus berkembang. Dulu jumlah murid sangat minim, bahkan hampir tidak memenuhi syarat operasional. Tapi sekarang, alhamdulillah, jumlahnya sudah meningkat dan sudah bisa diajukan untuk mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan,” ungkapnya.
Aminah menilai, kegiatan seperti lomba kolase ini memiliki dampak positif dalam memperkenalkan kembali sekolah kepada masyarakat luas.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa melihat langsung aktivitas di sekolah, melihat kebersamaan antara guru, anak, dan orang tua. Ini menjadi nilai tambah yang kami tampilkan agar masyarakat kembali percaya dan tertarik menyekolahkan anaknya di sini,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa yayasan akan terus mendukung berbagai program sekolah ke depan, baik dari sisi kegiatan maupun penguatan kelembagaan.
“Kami optimistis, dengan kerja sama antara yayasan, sekolah, dan orang tua, TK Trisula bisa kembali berjaya seperti dulu. Ini bukan hanya soal jumlah murid, tapi juga bagaimana kami menjaga kualitas dan nilai sejarah yang dimiliki sekolah ini,” tutupnya.
Dengan kegiatan sederhana ini, Yayasan Trisula menunjukkan bahwa kebangkitan sebuah lembaga pendidikan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten, dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus berkembang. (dnd)


