PANGKALPINANG, LASPELA – Budayawan Ratna Purnamasari yang akrab disapa Bunda Tudung Saji (BTS) mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah dan aktivitas usaha selama bulan Ramadan.
Ia menilai, bulan suci bukan berarti seluruh aktivitas ekonomi harus berhenti, namun perlu ada penyesuaian yang bijak dan saling menghargai.
Di tengah polemik pembatasan live music di sejumlah kafe di Pangkalpinang, BTS melihat persoalan tersebut dari dua sisi.
Sebagai pegiat seni dan budaya, ia memahami bahwa banyak musisi dan pelaku usaha menggantungkan penghasilan dari aktivitas hiburan.
Namun di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya menghormati masyarakat yang tengah menjalankan ibadah.
“Ramadan itu kesempatan yang belum tentu kita temui lagi tahun depan. Jadi fokusnya tetap pada ibadah, baik secara pribadi maupun sosial. Tapi bukan berarti usaha harus mati total,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Menurut BTS, pelaku usaha perlu memahami aturan yang berlaku, termasuk perbedaan izin antara usaha makanan dan minuman dengan izin hiburan.
Restoran yang menghadirkan live music, misalnya, memang diwajibkan memiliki izin tambahan.
Ia juga menilai sosialisasi dari pemerintah perlu lebih maksimal agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.
Lebih lanjut, BTS menawarkan solusi moderat.
Ia menyarankan agar aktivitas hiburan bisa dimulai setelah salat Tarawih dan dibatasi hingga sekitar pukul 23.30 WIB, terutama bagi tempat usaha yang berada dekat permukiman warga.
“Kalau Tarawih selesai sekitar jam 9 malam, mungkin bisa mulai setelah itu. Tapi jangan sampai berlebihan sampai mengganggu waktu istirahat warga,” katanya.
Ia juga menyebut alternatif lain seperti mengganti live music dengan musik internal yang tidak terlalu keras.
Baginya, yang terpenting adalah kemampuan semua pihak untuk menempatkan diri sesuai norma agama dan sosial masyarakat.
Terkait Surat Edaran (SE) yang mengatur aktivitas selama Ramadan, BTS menilai aturan tersebut bukan untuk mempersulit, melainkan perlu diperjelas batasan-batasannya agar tidak menimbulkan multitafsir.
“Intinya bagaimana kita sama-sama menjaga suasana Ramadan tetap kondusif, tanpa mematikan roda ekonomi. Keseimbangan itu yang harus dijaga,” tutupnya. (dnd)








