SUNGAILIAT, LASPELA – Kasus serangan buaya terhadap manusia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) terus menjadi perhatian serius.
Badan SAR Nasional (Basarnas) Babel mencatat belasan operasi SAR telah dilakukan akibat insiden serangan buaya dalam beberapa tahun terakhir.
Komandan Tim (Dantim) Basarnas Babel, Yurizal mengatakan bahwa pihaknya telah menangani sedikitnya 18 operasi SAR terkait serangan buaya terhadap manusia sejak tahun 2024 hingga awal 2026.
Ia merinci, pada tahun 2024 Basarnas Babel menangani sebanyak 10 operasi SAR.
Dari jumlah tersebut, total korban mencapai 10 orang dengan rincian tidak ada yang selamat, tujuh orang meninggal dunia, dan tiga orang dinyatakan hilang.
Sementara pada tahun 2025, jumlah operasi SAR adanya penurunan menjadi enam operasi.
Seluruh korban dalam kejadian tersebut, sebanyak enam orang, ditemukan meninggal dunia.
“Untuk tahun 2026, hingga saat ini sudah ada dua kejadian, masing-masing terjadi di wilayah Belitung dan Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka,” jelasnya, Rabu (11/2/2026)
Menurut Yurizal, kasus serangan buaya paling banyak terjadi di wilayah Belitung.
Selain itu, beberapa kejadian juga tercatat terjadi di wilayah Mendo serta Bangka Selatan.
Basarnas Babel mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sungai, muara, dan kawasan perairan yang diketahui merupakan habitat buaya.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu berhati-hati, menghindari aktivitas di perairan rawan, terutama pada waktu senja dan malam hari, serta segera melapor jika melihat keberadaan buaya di sekitar permukiman,” pungkasnya.
Maraknya kasus serangan buaya ini diharapkan menjadi perhatian bersama antara pemerintah daerah, aparat terkait, dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi serta pencegahan guna meminimalisir jatuhnya korban jiwa di masa mendatang. (mah)







