Menerangi Serumpun Sebalai

Pulang, Mengingat dan Belajar Ikhlas

* Jerie Yanti

Avatar photo
Jerie Yanti (foto: ist)

Setiap tahun, saat tradisi Cengbeng tiba, banyak keluarga Tionghoa pulang ke kampung halaman untuk berziarah dan mengenang leluhur. Momen yang sarat makna ini juga dirasakan oleh Jerie Yanti, seorang content creator asal Koba, Bangka Tengah yang menemukan arti baru tentang rindu, tanggung jawab, dan keikhlasan sejak kepergian sang ibu pada 2023 silam.

Perempuan kelahiran Koba, 12 Juli ini bukan hanya dikenal sebagai content creator, tapi juga sebagai sosok yang memaknai tradisi keluarga dengan cara yang hangat dan dalam, terutama saat momen Cengbeng tiba.

Bagi Jerie, Cengbeng atau yang juga dikenal sebagai Qing Ming bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah tentang pulang. Tentang mengingat. Tentang menyambung rasa yang tak pernah benar-benar putus antara yang hidup dan yang telah lebih dulu pergi.

“Cengbeng itu momen kami berziarah, sembahyang kubur untuk leluhur. Kami membawa buah, makanan, bunga, dan hio sebagai bentuk penghormatan,” ceritanya.

Baca Juga  Perjuangan Habibi Melawan Hirschsprung, Bantuan PT TIMAH Ringankan Beban Keluarga

Namun lebih dari itu, Cengbeng adalah ruang temu. Tempat di mana jarak seolah runtuh. Keluarga yang tersebar dari berbagai daerah kembali ke Bangka, berkumpul, bercengkerama, saling bertanya kabar, dan menghidupkan kembali kehangatan yang mungkin sempat tertunda oleh waktu.

“Biasanya rame sekali. Di situ kita bisa ketemu keluarga yang jarang banget ketemu. Ngobrol, ketawa, dan merasa dekat lagi,” tambahnya.

Sejak 2023, makna Cengbeng bagi Jerie berubah. Kepergian sang mama menjadi titik balik yang membuat tradisi ini terasa lebih personal dan emosional. Jika dulu ia hanya mengikuti, kini ia harus memahami dan menjalani.

“Sekarang kami, anak-anak, yang harus menyiapkan semuanya. Dulu mama yang selalu urus. Jujur, awalnya kami bingung, karena belum terlalu mengerti,” ungkapnya.

Dari situ, Jerie belajar banyak hal tentang tanggung jawab, tentang menghargai proses, dan tentang bagaimana cinta orang tua tetap hidup lewat tradisi yang diwariskan.

Baca Juga  Kolaborasi PT TIMAH, Pemerintah Kabupaten Bangka dan Warga Ubah Kolong AKHLAK Jadi Kawasan Produktif

Setiap tahun, ia selalu pulang. Bukan hanya karena kewajiban dalam tradisi, tapi karena ada rasa yang memanggil. Rasa rindu, hormat, dan keinginan untuk tetap terhubung.

Di tengah kesibukannya sebagai content creator yang melanglang buana ke berbagai daerah dalam dan luar negeri, Jerie justru menemukan makna yang sederhana namun kuat: bahwa di balik kesibukan dunia modern, ada nilai-nilai lama yang justru membuat kita tetap utuh.

Bagi Jerie, Cengbeng bukan sekadar mengenang masa lalu. Tapi juga cara untuk terus belajar menjadi manusia yang tahu dari mana ia berasal dan ke mana ia harus kembali.

Pulang ke kampung halaman juga memberikan nuansa berbeda bagi pemilik akun instagram @perutkarets ini, ia juga bisa sekalian menikmati liburan di tanah kelahirannya, menjelajah wisata di Bangka Belitung dan sekaligus mempromosikan di media sosialnya dengan 454 ribu followers. (rul)