Menerangi Serumpun Sebalai

Soal Ijazah yang Tertahan, Ini Penjelasan Dinas Pendidikan

Avatar photo
Plt Kepala Dinas Pendidikan Babel Saiful saat audiensi dengan Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya, Rabu (18/2/2026)

PANGKALPINANG, LASPELA – Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Saiful Bakri, tak menampik jika masih banyak ijazah SMA/SMK di Babel yang belum diambil oleh siswa setelah lulus sekolah.

Ia mengimbau kepada masyarakat khususnya alumni lulusan SMA/SMK, untuk dapat mendatangi asal sekolah guna mendapatkan ijazah.

 

“Mulai besok silakan datang ke sekolah negeri, InsyaAllah sore ataupun besok surat sudah kami layangkan ke sekolah-sekolah. Kami sambil lapor juga dengan Pak Gubernur, mudah-mudahan beliau sangat mendukung untuk hal ini karena beliau pro juga kepada kepentingan masyarakat banyak,” ujarnya, ketika audiensi dengan Ketua DPRD Babel, di ruang kerjanya, Rabu (18/2/2026).

Baca Juga  Kolaborasi PT TIMAH, Pemerintah Kabupaten Bangka dan Warga Ubah Kolong AKHLAK Jadi Kawasan Produktif

Menurut Saiful, pemberian ijazah akan menjadi prioritas, untuk memastikan kepentingan dan kebutuhan masyarakat di sektor pendidikan dapat terpenuhi.

“Selembar kertas itu sangat besar artinya untuk masa depan mereka tentunya, jadi insyaallah sekolah negeri tidak akan menghambat itu,” katanya.

Sementara itu untuk sekolah swasta akan ada upaya lebih lanjut khususnya perihal teknis penyaluran ijazah.

“Kami juga mengimbau untuk orang tua tidak mampu, walaupun di swasta jangan sampai itu jadi penghalang juga. Tapi bagaimana teknisnya nanti kami akan diskusikan, agar semuanya mendapatkan solusi terbaik untuk sekolah maupun untuk alumni,” jelasnya.

Baca Juga  Perjuangan Habibi Melawan Hirschsprung, Bantuan PT TIMAH Ringankan Beban Keluarga

Dikatakan Saiful, saat ini ada 3.568 ijazah yang masih tertahan di sekolah sudah ada sejak 2016. Dan 594 ijazah diantaranya merupakan ijazah yang dikeluarkan oleh sekolah swasta.

“Mungkin ini ada miskomunikasi dan ini bukan kejadian di tahun 2025 saja namun sejak 2016 – 2017 itu masih banyak anak-anak yang seolah-olah tidak peduli, atau memang ada kendala dari hal finansialnya pembayaran tagihan yang ada di sekolah,” ungkapnya.

“Sementara di tahun 2019-2020 angka-angka itu lumayan tinggi,” tutupnya. (chu)