Menerangi Serumpun Sebalai

Konflik Manusia dan Buaya Disebabkan Habitat yang Rusak

Avatar photo
Foto ilustrasi

MENTOK, LASPELA  — Konflik antara manusia dan buaya belakangan ini semakin memanas, terakhir terjadi di Kabupaten Bangka, Belitung dan Bangka Barat. Dua orang korban meninggal dunia setelah diserang buaya.

Di Kabupaten Bangka Barat (Babar), seorang pria paruh baya mengalami luka serius pada bagian kaki setelah digigit buaya.

Salah satu tim Alobi Bangka Belitung, Endi menyampaikan, selama dua tahun terakhir, konflik buaya dan manusia sangat tinggi, bahkan hampir setiap bulan menimbulkan korban jiwa.

“Selama dua tahun terakhir setiap satu bulan, satu orang meninggal dunia, hari Senin tadi satu meninggal dan hari ini juga ada kejadian di Mendo Barat,” ucapnya, Rabu (11/2/2026).

Baca Juga  Kolaborasi PT TIMAH, Pemerintah Kabupaten Bangka dan Warga Ubah Kolong AKHLAK Jadi Kawasan Produktif

Sementara, untuk di Kabupaten Bangka Barat, buaya terbilang masih belum terlalu agresif. Namun sudah terjadi penyimpangan kebiasaan, lantaran reptil air tawar itu, sudah sering turun ke laut.

“Kalau di Bangka Barat paling banyak masuk ke wilayah nelayan ke laut, kalau dulu buaya tidak pernah ke laut, tapi sekarang meraka ke laut karena habitat sudah benar-benar rusak,” ujar Endi.

Endi menilai, kerusakan habitat satwa tersebut disebabkan, maraknya aktivitas tambang timah ilegal yang berdampak para hewan itu harus mencari tempat baru.

Baca Juga  Perjuangan Habibi Melawan Hirschsprung, Bantuan PT TIMAH Ringankan Beban Keluarga

“Penyebab utama konflik tinggi di Bangka Belitung, karena aktivitas tambang ilegal yang merusak semua habitat, jadi ketika habitat dirusak, mereka akan lari ke tempat baru, dan itu akan menjadi konflik dengan manusia yang ada di situ,” ucapnya.

Buaya terkadang menyerang manusia bukan hanya sekadar lapar dan mencari makanan, melainkan berusaha mempertahankan wilayahnya supaya tak selalu terusir.

“Karena buaya inikan teritorial, ketika mereka terusir meraka akan berkonflik dengan buaya lain (termasuk manusia) dan membuat mereka lebih agresif.  Buaya ini menyerang bukan hanya untuk makan, tapi kadang-kadang karena meraka merasa terancam,” ujarnya. (oka).