KOBA, LASPELA – Ketua Pokdarwis Lubuk Pabrik, Kabupaten Bangka Tengah, Basori mengatakan di desanya mempunyai kebun kopi yang dikelola oleh petani lokal.
Masyarakat petani di Dusun C2 Desa Lubukpabrik sudah menanam kopi sejak tahun 2016. Akan tetapi sempat berhenti karena pemasarannya tidak jelas.
“Pemasaran yang tidak jelas karena tidak adanya pembeli kopi menyebabkan mayoritas petani beralih ke perkebunan lada atau sahang,” ungkap Basori.
Basori menambahkan banyak petani yang beralih ke sahang, tetapi sebagian kecil tetap konsisten berkebun kopi di Dusun C2, Desa Lubuk Pabrik untuk konsumsi pribadi.
Basori mengisahkan pada tahun 2017, ketika dirinya menjadi Kepala Dusun C2. ada seorang petani yang mengeluh karena tidak ada yang mau membeli hasil panen kebun kopi miliknya.
“Alhamdulillah saya berunding sama isteri kita beli, kita coba produksi dengan alat ala kadarnya, masih manual, kita juga pasarkan ke wisata,” kata Basori, Jumat (30/1/2026).
Oleh karena itu, saat ini di Dusun C2 sudah ada lebih dari 10 hektare kebun kopi yang terdiri dari milik Gapoktan 2 hektare dan sisanya milik perorangan warga.
Hasil kebun kopi seluas 2 hektare milik Gapoktan di tahun 2025 telah menghasilkan biji kopi sebanyak 8 ton dan sebagian besar langsung dijual ke Jakarta.
“Kalau kopi khas Bangka nih hanya ada tiga rasa kalau kopi luar Bangka itu ada 4 rasa. Kopi khas Bangka itu gurih, pahit dan manis tanpa rasa asam,” katanya. (Pri)




