Mengenal Sosok Cik Akil, Atlet Triathlon Asal Sungailiat yang Kantongi Hampir 200 Medali

Avatar photo
Atlet Triathlon asal Sungailiat, Cik Akil, Senin (26/1/2026).

SUNGAILIAT, LASPELA — Cik Akil, atlet triathlon asal Sungailiat tercatat telah mengoleksi hampir 200 medali dari berbagai kejuaraan yang diikutinya di dalam maupun luar daerah.

Pria berusia 64 tahun ini mengaku telah menekuni dunia olahraga sejak tahun 1979, atau sejak ia menamatkan pendidikan sekolah dasar.

Olahraga pertama yang digelutinya adalah atletik, kemudian berlanjut ke balap sepeda, hingga akhirnya menekuni triathlon—cabang olahraga gabungan lari, bersepeda, dan renang.

“Alhamdulillah, setengah Indonesia sudah saya jelajahi untuk ikut kompetisi,” kata Cik Akil, Senin (26/1/2026).

Sejumlah daerah yang pernah menjadi arena perlombaannya antara lain Padang, Bengkulu, Balikpapan, Pulau Seribu, serta berbagai daerah lain.

Selain triathlon, ia juga aktif mengikuti lomba lari 10 kilometer (10K) di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Cik Akil, ketertarikannya pada olahraga bukan hanya soal prestasi, tetapi juga nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

“Olahraga itu harus fair, terbuka, tidak ada dendam dan iri dengki. Disiplin itu wajib, mulai dari makan sampai tidur harus teratur,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sportivitas dalam bertanding. Kekalahan, menurutnya, bukan untuk disesali, melainkan dijadikan bahan evaluasi.

“Kalau kalah dalam perlombaan jangan dendam. Kalau sudah dendam itu akan memacu jantung, sehingga stamina jadi berkurang,” ujarnya.

Dengan segudang pengalaman dan prestasi, Cik Akil mengaku bangga karena semangat olahraga yang ia tekuni kini diteruskan oleh anaknya, yang juga menekuni cabang olahraga triathlon.

“Alhamdulillah, olahraga ini diteruskan oleh anak saya di cabang yang sama, yaitu Triathlon,” tukasnya.

Tak Tahu “Pintu Rumah Sakit”

Meski kini telah berusia 64 tahun, ia mengaku jarang tersentuh masalah kesehatan hingga tak pernah sekalipun menjalani perawatan di rumah sakit.

“Alhamdulillah saya sehat, tidak pernah masuk rumah sakit. Ibaratnya saya tidak tahu pintu rumah sakit itu seperti apa,” kata Cik Akil.

Menekuni olahraga sejak lulus sekolah dasar, Cik Akil mengatakan saat ini dirinya tidak lagi mengejar prestasi semata.

Tujuan utamanya kini adalah menjaga kesehatan sekaligus memberi teladan bagi generasi muda.

“Kalau sekarang mungkin sudah lewat masanya untuk prestasi. Sekarang ini untuk kesehatan, dan saya mau kasih contoh ke anak-anak muda bahwa olahraga itu sehat,” ujarnya.

Ia menyoroti tren olahraga lari yang belakangan marak, termasuk fenomena sebagian peserta yang mengikuti lomba hanya untuk bersenang-senang atau berfoto.

“Sekarang lari itu lagi ngetren. Ada juga yang ikut cuma happy-happy, foto-foto. Itu tidak apa-apa, no problem,” ujarnya.

Menurut Cik Akil, hobi olahraga tidak selalu harus berorientasi pada kemenangan atau hadiah.

Bahkan, ia mencontohkan turis asing yang rela mengikuti lomba di Indonesia meski hadiah yang diperoleh tak sebanding dengan biaya perjalanan.

“Mereka datang karena hobi, senang, bersepeda sambil selfie, itu sudah menjadi kepuasan tersendiri. Awalnya mungkin senang-senang, lama-lama jadi hobi yang menyehatkan,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, Cik Akil dijadwalkan akan mengikuti lomba lari di Kabupaten Bangka Selatan.

Meski tak menargetkan juara, ia tetap menjalani latihan rutin dengan disiplin tinggi.

“Latihan saya pagi dan sore, lari 11 sampai 12 kilometer. Kalau lombanya 10K, latihannya harus lebih dari itu,” katanya.

Ia menegaskan keikutsertaannya dalam lomba bukan untuk podium, melainkan sebagai sarana motivasi.

“Saya tidak menargetkan juara. Saya ingin memotivasi anak-anak muda, anak-anak kita supaya semangat berolahraga,” tukasnya.(mah)

[Heateor-SC]