BUPATI Kabupaten Bangka, Fery Insani dan Wakil Bupati Syah budin, dilantik Rabu 5 November 2025 dan sudah hampir tiga bulan, menjalankan tugasnya memimpin daerah ini. Sungguh mengejutkan mengawali langkahnya, bupati memegang sapu bersih bersih lingkungan dan semoga sapu yang ada ditangannya, akan bergerak bersih bersih kantor seisinya.
Memang berat, namun kantor juga harus dibersihkan, tanpa harus melihat kanan kiri sampah yang menumpuk. Tunggu dulu Mas Bro? Apa bersih bersih itu tugas bupati? Kan ada pegawai kebersihan? Nah ini pemikiran bagus yang perlu dapat bonus. Minimal tunjangan menghadapi lebaran bertambah. Bupati sekedar beri contoh agar bawahannya tahu tentang kebersihan itu sehat. Bersih, jujur cakap bekerja dan bisa diatur. Tentunya tidak hanya sampah yang mengotori kantor yang dibersihkan, tapi juga bersih- bersih pimpinan dan punggawa kantor juga harus dibersihkan. Mengingat revolusi mental agar kerja kedepan lebih terarah tidak menambah pusing dalam mengatur anggaran.
Waduh! Jauh benar pemikirannya, sampai kejabatan juga dibersihkan. Nah, itu masalahnya buat penasaran para pejabat yang kemungkinan besar disapu dampak dari bersih-bersih. Masak bisa begitu? Why not (mengapa tidak). Wait! Gawat! Apanya yang gawat? Itu tadi didepak dari jabatan. Ah.. Itu hal wajar, ganti bupati otomatis juga ganti bawahannya. Oke bisa diterima alur kisahnya. Seperti dendam politik gitu ya? Nah, betul sekali. Mungkin waktu dulu beliau maju di pilkada, ada beberapa kepala dinas, atau camat yang tidak mendukung beliau. Ketika beliau menang, tentunya ada rasa kurang nyaman. Sebaliknya mungkin beliau juga sudah mencatat beberapa pejabat tersebut. Bahkan baru baru ini, ada kepala dinas yang sudah menyatakan nyebrang ke luar ke kabupaten lain. Barangkali ada yang menyusul juga. Mungkin ada juga hijrah ke kota.
Rasanya mau ketawa, tapi takut dosa? Ketawa saja Mas Bro! Sebelum ada larangan ketawa, jadi barang bukti sah di pengadilan. Serius sedikitlah berkisah? Lebih dari serius ini! Coba kalau kita cermati beberapa kali keputusan pelantikan diundur undur. Lho.. kok bisa begitu? Bisa saja, karena ada tekanan dari pihak pihak yang merasa berjasa pada pemilihan kepala daerah kemarin. Bisa dari partai pengusung atau, bisa juga dari kantor sebelah tetangga kantor bupati? Atau tekanan dari pihak lain sponsor misalnya? Waduh! No comen terkait hal itu! Semua berpulang pada bupati dan wakil bupati? Atau mungkin sudah berseberangan ke dua pimpinan Bangka ini, sehingga susah menempatkan para calon pembantu yang bekerja membantu memajukan daerah ini? Terlihat ada tarik ulur yang kuat dan ada ketidak tegasan dalam memutuskan persoalan? Beberapa langkah yang diambil blunder. Seperti Ayah harus menjemput anaknya pulang sekolah. Kemudian penyelesaian diskotik Indisky Laonge di Jalan S Parman 60 Sungailiat, diundur undur menunggu evaluasi. Harus tegas dong seorang pimpinan itu. Hal yang sama juga, dalam menentukan merisafel jajarannya. Ayo pak jangan takut! Toh demi majunya Bangka.
Sebentar Mas Bro? Jangan suudzon dulu dalam menangkap persoalan. Pasalnya tidak gampang menentukan orang yang tepat untuk memegang jabatan yang harus pas sesuai latar belakang pendidikan. Gimana tidak pusing, data di kepegawaian pemkab Bangka, sudah tumpang tindih? Loncat sana, loncat sini? Lah memangnya permainan game? Disisi lain juga tidak gampang untuk memutuskan melantik. Harus buat surat izin dulu ke gubernur, lalu ke pusat. Itu membutuhkan waktu. Wajarlah kalau diundur undur dan bisa bisa setelah lebaran.
Bukan itu persoalannya? Bupati harus tegas, tanpa melihat kanan kiri dan tidak ada kompromi politik serta kompromi apapun. Apalagi titip titipan dalam menempatkan orang di jabatan tertentu. Penulis yakin, meski bukan orang lapangan, namun pengalaman bupati di birokrasi sudah membumi dan tidak diragukan lagi. Hebat dong bupati? La iyalah! Kalau tidak hebat tidak terpilih jabat bupati!
Jadi proges apa yang ditunggu? Itu loh.. Ayunan sapu bupati bersih-bersih? Jangan sampai terlalu kuat mengayun, pegangan sapunya jadi patah?
Bupati harus kuat luar dalam memegang sapu. Jangan sampai menyapunya dikendalikan pihak luar yang tidak memiliki kompetensi dalam urusan mindah memindah jabatan?
Yang dikhawatirkan saking asyik menyapu berdampak pada para wartawan yang meliput berita di pemkab Bangka, bisa-bisa kena sapu juga? Maksudnya wartawan juga disapu? Sekarang saja sudah terlihat bayang bayang kearah itu. Bupati sepertinya lebih mementingkan Tik Tok dari pada berita. Teman teman wartawan harap maklum, itu hak bupati, dalam pencitraan bekerja untuk kepentingan warganya. Jadi wartawan harus ber tik tok juga? Memang kondisi begitu? Kalau tidak bisa, otomatis disapu? Kita berdoa saja semoga bupati tidak menganak tirikan wartawan?
Sudahlah Mas Bro, lebih baik ngopi saja di kantin belakang gedung DPRD Bangka, sembari mendengar Lagu Iwan Fals album Opini (Sapuku, Sapumu, Sapu-Sapu) Tukang sapu/Bawa sapu/Masuk dikantor/Bersihkan yang kotor/Cukong kotor/Mandor Kotor/Semuanya kotor/Awas kena sensor/Tukang sapu/Bawa sapu/Juga disapu/Kok bisa begitu/
Semoga bersih-bersih bupati tidak sembarangan menyapu dan bermanfaat bagi kesejahteraan warga masyarakat Bangka. Semoga. (*)








