PANGKALPINANG, LASPELA – Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Pangkalpinang perdana mengekspor 10 ton udang laut jenis kipas senilai Rp1 miliar lebih ke Australia.
“Untuk pertama kalinya kita ekspor udang laut jenis kipas ini ke negara tetangga dalam rangka national logistic ecosystem atau ekosistem logistik nasional,” kata Kepala BKIPM Pangkalpinang, Dedy Arief Hendriyanto, Kamis (6/7/2023).
Dikatakan Dedy, pihaknya melakukan ekspor ini hanya terhadap unit pengolahan ikan yang sudah mengantongi sertifikat hak Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Grade B.
“Untuk produk perikanan sampai saat ini baru PT Cahaya Bintang Laut Abadi yang ada di Kota Pangkalpinang,” ucapnya.
BKIPM Pangkalpinang terus mendorong para pelaku industri hasil perikanan untuk bisa melakukan ekspor, mengingat permintaan pasar sangat banyak.
“Kita berharap Babel dapat melakukan ekspor sendiri, dimana para investor ini membangun coldstorage sendiri disini sembari membenahi pelabuhan yang harus segera jadi. Setelah itu BKIPM akan menjamin dari hulu ke hilirnya,” ujarnya.
Dikatakan Dedy, Babel saat ini punya 7.500 directory pasar dunia yang siap menjadi buyers.
“Kita siap menjadi buyers untuk memenuhi permintaan yang sangat banyak untuk udang laut jenis kipas ini,” tukasnya.
Dijelaskan Dedy, BKIPM ranahnya hanya menjamin mutu kesehatan dari hulu ke hilir. Selama ada NIB tetap bisa kirim ekspor dan jika ada coldstorage dan termoking yang muatan spacenya besar.
“Namun yang menjadi kendala pelabuhan belum mampu masalah di kita hanya logistik saja, kualitas mutu kita jamin,” jelasnya.
Dia menambahkan, tahun 2022 produksi udang vaname Babel mencapai 20.000 ton tapi belum ada ekspor sama sekali. Oleh karena itu BKIPM mendorong udang vaname untuk bisa ekspor.
“Untuk mendorong kita paling tidak melalui pelatihan, kerjasama pemerintah kabupaten kota, provinsi dan pusat serta masyarakat harus sadar implementasinya dan sinergitas yang sangat penting agar Babel dapat melakukan ekspor,” tutupnya.(chu)





