Menerangi Serumpun Sebalai

Jazz Humanis Akhir 2017

  • Erzaldi-Idang Gelar Jazz on The EMAS Bridge Bangka 29-30 Desember 2017
  • Idang Rasjidi, Tompi, Mus Mulyadi dan Fariz RM
  • Tampilkan Penyanyi Tuna Netra dan Siswa Diffable
  • Jembatan Emas Jadi Wisata Ikonik dengan Tata Cahaya

Oleh: Agus Ismunarno

Pemimpin Redaki LASPELA GROUP

“Creativity involves breaking out of established patterns in order to look at things in a different way.”

Edward de Bono

BERPENDARAN CAHAYA-Jembatan EMAS buka tutup menjadi ikon wisata baru di Pangkalpinang-Bangka. Kini, Jembatan Emas berpendaran cahaya menjelang pagelaran Jazz on The EMAS Bridge 29-30 Desember 2017.

MENJELANG pukul 00.00, tepatnya 23.50, di Bulan November 2017, Gubernur Kepulauan Bangka Bangka Belitung Dr H Erzaldi Rosman SE MM diam sejenak sesudah mengakhiri arahan pada Rapat Bangka Belitung Food Festival 2017 di Ruang Rapat Kediaman Djohan Riduan Hasan, Ketua Umum GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) Babel.

Dengan kalimat-kalimat yang bertenaga orang nomor satu di Babel itu berkata, “Tanggal 29 dan 30 Desember 2017, saya ingin menyelenggarakan pagelaran Jazz on The EMAS Bridge Bangka (JoEBB). Kita akan hiasi Jembatan Emas bersistem buka tutup itu dengan tata cahaya warna-warni sebagai pagelaran jazz yang menampilkan Master Jazz kelahiran Bangka, Bang Idang Rasjidi bersama para musisi nasional. Tentunya Bang Idang Rasjidi akan berkolaborasi dengan para musisi Babel.”

Mantan Bupati Bangka Tengah dua periode itu menandaskan, “Kita wajib menghormati, menghargai karya-karya para pendahulu kita yang visioner. Kita jadikan Jembatan Emas ini icon baru, landmark ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menghubungkan Pangkalpinang dengan Kabupaten Bangka.”

Edward de Bono benar ketika menyimpulkan kreativitas itu melibatkan pemecahan pola yang telah mapan untuk melihat hal-hal dengan cara yang berbeda. Jembatan Emas secara fungsional adalah penghubung dua tempat, dua wilayah namun dengan perspektif yang berbeda, Gubernur Erzaldi menjadikannya sebagai ikon wisata baru.

Gubernur Erzaldi sepertinya mengikuti saran Presiden Jokowi yang pernah mengatakan, “Saat orang berkata yang tidak baik tentang kita, padahal kita tidak mengusik kehidupan orang itu, itu tandanya kehidupan kita lebih indah.”

Gubernur tidak hanya memperindah kehidupan dirinya, namun kehidupan masyarakat Negeri Serumpun Sebalai yang dipimpinnya. Dua minggu sebelum pagelaran Jazz on The Emas Bridge (JoEB) digelar Jembatan Emas itu sudah berpendaran cahaya warna-warni di waktu malam menjadi kebanggaan masyarakat Negeri Laskar Pelangi.

Makna Filosofis JoEBB

IDANG RASJIDI, yang mendapat anugerah Life Achievement Award senada dalam visi dan misi dengan Gubernur Erzaldi. Musisi senior di blantika musik jazz tanah air ini bahkan bercita-cita menjadikan Jazz on The Emas Bridge ini menjadi kalender musih tahunan nasional.

“Makna filosofis Jazz on The Emas Bridge ini adalah musik jazz bermakna sebagai penghubung yang mempertemukan; mempertemukan yang tua dengan yang muda, pemimpin dengan rakyatnya; mempertemukan Kepulauan Bangka Belitung dengan nasional dan dunia,” ungkap Idang Rasjidi.

“Musik adalah bahasa ekspresi yang tulus. Melalui Jazz on The Emas Bridge saya dan kawan-kawan musisi bisa memperkenalkan dan menyampaikan potensi dan semua keungguhaln Bangka Belitung beserta talenta SDMnya, khususnya musik. Bukan tidak mungkin nanti kita bisa menyamai event nasional sekelas Java Jazz Festival dan semakin memperkenalkan Bangka Belitung pada dunia,” kata Idang Rasjidi.

Jembatan Emas juga simbol sinergitas berbagai elemen di Kepulauan Bangka Belitung yang mesti bersatu, bergandeng tangan bersama-sama mendorong Babel berjaya.

“Saya berharap media massa sebagai garda terdepan komunikasi, membantu mempromosikan agenda akbar akhir tahun ini. Tanpa sinergi dan dukungan semua elemen kita akan sulit mewujudkan Babel jaya,” kata Idang.

Jazz on The Emas Bridge akan menampilkan musisi jazz nasional seperti Fariz RM, Tompi dan Mus Mujiono. Seperti tradisi edukator yang melekat pada diri Idang Rasjidi, Idang juga akan memberikan edukasi dan panggung bagi musisi jazz daerah.

Idang menjanjikan, “Jazz on the Emas Bridge Bangka akan saya racik secaara istimewa sehingga memiliki karakteristik sendiri, berbeda dengan festival Java Jazz. Proyeksi saya Jazz on The Emas Bridge ini menjadi agenda nasional setara Java Jazz, even terbesar di dunia. Babel pun harus memiliki event musik yang berkelas dunia.”

Jazz on The Emas Bridge ini, kata Idang, merupakan kontribusi saya buat negeri tanah kelahirannya. “Saya lahir di Bangka dan ingin membesarkan pariwisata Bangka Beliltung. Saya juga memberikan atensi serta sentuhan terhadap para musisi di Bangka Belitung agar dapat menjadi musisi terkenal,” kata Idang Rasjidi.

Idang juga berpesan, janganlah kita hanya jadi penonton artis-artis atau musisi-musisi top yang ada. Ia berharap, saatnya musisi Bangka Belitung.

Pagelaran Humanis Akhir Tahun

PAGELARAN JAZZ di Jembatan Emas bernilai Rp 400 miliar itu juga akan menjadi pagelaran humanis akhir tahun. Gubernur Erzaldi juga akan mengajak kalangan pendidikan untuk berkumpul di Jazz on The Emas Bridge.

Dua anak Negeri Serumpun Sebalai, Gilang Aditya Pratama, siswa diffabel berprestasi dan penyanyi tuna netra Asep “Zailani” akan ditampilkan oleh Gubernur Erzaldi pada Jazz on The Emas Bridge Bangka.

Pada acara Pemberian Anugerah Pendidikan oleh Dewan Pendidikan Babel,  “Yang Terbatas, yang Melampaui Batas”  Gilang Aditya Pratama dengan suara emasnya mendendangkan lagu “mama” yang membuat haru pendengarnya. Sedang video Asep Zailani yang sedang menyanyikan lagu ibu dan disimak oleh Gubernur Erzaldi menjadi viral di media sosial.

“Kita akan tampilkan dua anak negeri tersebut  pada Jazz on The Emas Bridge,” janji Gubernur Erzaldi.

Foto : Bambang Ari Satya

Jembatan Emas di kawasan Ketapang, Kota Pangkalpinang kini telah menjadi destinasi wisata ikonik yang dikunjungi oleh wisatawan lokal, regional maupun nasional. Rombongan Lemhanas berbagai angkatan yang berkunjung ke Bangka memprioritaskan berkunjung ke Jembatan Emas. Jembatan Emas sangat indah dan artistik sebagai latar berfoto.

Jembatan Emas digagas dan diprakarsai oleh Eko Maulana Ali Suroso (Emas). “Saya akan mewariskan kepada generasi sesudah saya warisan jembatan yang nantinya setara dengan Jembatan Ampera di Palembang dalam popularitas. Saya juga akan membangun jalan Lingkar Timur di bibir pantai lengkap dengan Rumah Sakit Internasional Medical Tourism dengan  view pantai. Sedang di Pantai Air Anyir akan saya bangun karya arsitektural Giant Ship free wifi sebagai pusat pariwisata,” kata Gubernur Eko Maulana Ali kepada LASPELA dalam penerbangan Bangka-Kuala Lumpur memenuhi Konvensi Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) tahun 2007, beberapa waktu sesudah dilantik menggantikan Gubernur Hudarni Rani..

Foto: Nico Alpiandy

Keistimewaan Jembatan Emas adalah sistem jembatan buka tutup (bascule). Bascule berbahan beton yang artistik dengan rangka baja itu terlihat menjulang tinggi ke atas menembus langit. Jembatan ini membentang sepanjang 720 meter lebar 24 meter; dari daratan Kota Pangkalpinang hingga pesisir  Kabupaten Bangka, tepatnya di Desa Airanyir, Kecamatan Merawang, Bangka.

Sebelum Jembatan Emas dibangun, untuk menjangkau dua wilayah ini harus menyeberang menggunakan perahu atau melewati jalan darat yang jaraknya sekitar 30 Km. Jembatan Emas dibangun sejak tahun 2009 lalu dengan sistem multiyears atau tahun jamak.

Sesuai perda yang disepakati, jembatan tersebut harus selesai seiring berakhirnya masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Babel periode 2007-2012 yakni Eko Maulana Ali-Syamsudin Basari. Jembatan yang mengadopsi teknologi dari Inggris itu tak selesai saat itu.

Pemprov Babel mengajukan anggaran lagi untuk melanjutkan pembangunan Jembatan Emas. Jembatan Emas dikerjakan kontraktor Pembangunan Perumahan (PP) dan PT Hutama Karya (HK) dengan biasa Rp 420 miliar. Konstruksi bagian bascule dikerjakan di pabrik di Manschester, Inggris. Sejak September 2017, Jembatan Emas sudah bisa difungsikan.(*)

 

[Heateor-SC]