KETIKA Adam as. diyakini sebagai manusia pertama dan pendampingnya, St.Hawa diatas biosfir bumi, lalu lahirkan beberapa anak, sejak itu sudah dimulai pertumpahan darah diantara anak keturunannya. Maka sangat logis bila malaikat mempertanyakan kehadiran manusia. Faktanya, memang terjadi apa yang dikhawatirkan sebelumnya. Disebutkan dalam QS.Al-Baqarah (2):30)–Artinya: “Dan ketika Tuhan mu berfirman kepada para malaikat: Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi. Mereka berkata: apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih, memuji-Mu dan mensucikan nama Mu?. Dia berfirman: sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Apapun bentuknya, manusia memulai hidupnya dengan cara berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Tidak sebatas berkehendak untuk bertahan hidup, melainkan berpikir kedepan perkuat peradaban. Untuk tujuan itu, sebagian manusia optimalkan karsa, cipta dan rasa sehingga hasilkan sesuatu dalam bentuk tertentu. Akhirnya kebutuhan manusia terpenuhi bahkan tercapainya supremasi dalam periode masyarakat tertentu. Manusia-manusia pilihan diterjunkan sebagai estafet Adam as. yang sejak awal hidup telah meng-esakan Tuhan, Allah Swt. Tiada lain tujuan perutusan (risalah) mereka, kecuali untuk kemaslahatan umat.
Terbentuklah kelompok ( kabilah), suku-suku dengan karakteristiknya masing-masing, kemudian menjadi masyarakat besar, disebut bangsa, berbangsa-bangsa yang menyebar ke penjuru bumi. Tak terbantahkan, melekat kepada mereka ideologi bahkan agama tertentu yang bersumber dari wujud ideal dan atau wujud kelakuan seperti agama budaya (cultural religion). Agama yang bersumber dari Tuhan dengan aspek-aspek lain yang melekat (divine religion) menjadi pijakan kehidupan bagi manusia. Pengembannya adalah nabi atau rasul. Tidak juga mudah tugas yang diamanatkan kepada nabi-nabi tersebut. Maka dari itu dianugerahkan kepada sebagian dari mereka mukjizat untuk melemahkan orang-orang yang menentang risalah.
Persinggungan dan atau pergolakan sebagaimana disebutkan Huntington dengan istilah,”The Clash of Civilization” terjadi diantara sebagian manusia. Beberapa faktor yang menyebabkan dan atau mungkin ada maksud tertentu. Truth claim ( klaim kebenaran) dan sikap partikularistik beragama kelompok tertentu bisa jadi menjadi pemicu sehingga konfliks pun terjadi bahkan perang berkepanjangan.
Tantangan Peradaban. Supremasi peradaban dalan bentuk kekuatan teknologi dan ilmu pengetahuan pada kenyataannya tidak membuat sebagian manusia sadar dan beradab bahkan sebaliknya berada di titik non-sadar, cenderung berseberangan, bertikai hingga lakukan pertumpahan darah. Obsesi al-Farabi akan perwujudan masyarakat Madani belasan abad lalu nampaknya sangat sulit. Benda sebagai wujud material peradaban menjadi tidak fungsional karena dimanfaatkan untuk tujuan tidak baik atau disalahgunakan oleh mereka yang mengaku lebih berperadaban.
Terlebih bila terpatri ambisi pribadi atau kelompok selain juga faktor minimnya pengetahuan agama, maka konflik pun muncul bahkan perang.
Bila perang dipropagandakan, hal itu sebenarnya menjadi sebuah keputusan akhir yang destruktif. Perang tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah, melainkan semata-mata memunculkan keangkuhan pihak yang menang atas pihak yang kalah. Kemenangan semacam ini sering kali hanya didasarkan pada perasaan lebih kuat dan klaim supremasi atas ilmu pengetahuan serta teknologi modern sebuah wujud material peradaban yang telah disalahgunakan.
Menyadari kesia-siaan tersebut, segala bentuk interaksi global dan tata kelola dunia harus dikembalikan pada satu tujuan luhur, yakni demi keberlangsungan hidup umat manusia. Hal ini hanya bisa dicapai melalui upaya penguatan peradaban dan kebudayaan yang inklusif, bukan lagi melalui jalan pedang (Konfrontasi) dan dominasi hegemoni militer. Pada akhirnya, peradaban yang benar-benar kuat adalah peradaban yang mampu merawat keberagaman, memajukan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan bersama, dan senantiasa mengedepankan jalan dialog (Diplomasi) dalam menyelesaikan setiap perbedaan.
Fakta geopolitik belakangan ini, khususnya eskalasi konflik antara dua negara, yaitu Iran dan Amerika Serikat yang bahkan kini telah menyeret keterlibatan beberapa negara lain sungguh sangat mengusik semangat berperadaban kita. Alih-alih berlomba dalam kemajuan teknologi untuk mengatasi krisis global seperti perubahan iklim atau kemiskinan, dunia, justru sebaliknya masyarakat dunia disuguhi tontonan ketegangan militer yang sewaktu-waktu berpotensi memicu kehancuran massal. Konflik ini menjadi bukti nyata bahwa benturan peradaban dan kepentingan adalah ancaman nyata ketika ego negara-negara yang merasa kuat tak lagi bisa dikendalikan oleh nalar sehat.
Semestinya tidak demikian, tatanan dunia ini diharapkan berjalan normal. Era modern yang ditandai dengan kecanggihan peradaban seharusnya membawa kita pada kedewasaan komunal bahwa perang dan pamer kekuatan tidak pernah menghasilkan pemenang sejati; ia hanya menyisakan penderitaan dan kemunduran sejarah. Yang diinginkan dan sangat didambakan oleh seluruh Masyarakat dunia saat ini adalah kemaslahatan untuk semua (bonum commune). Sudah saatnya para pemimpin dunia menanggalkan ego supremasinya, kembali pada meja diplomasi, dan merajut kembali peradaban kemanusiaan yang damai, adil, bermartabat, dan mudah mudahan semangat menuju supremasi pradaban yang lebih maslahah terwujud. Waasalamaualaikum wr.wb



