“Pelangi tidak lahir dari langit cerah, tetapi dari hujan yang diberi cahaya.”
DASA WARSA lalu, sebuah gagasan sederhana lahir dari seorang pengusaha Bangka, Babel: Ir. Thomas Jusman MM—bahwa media tidak boleh sekadar menjadi penyampai kabar, tetapi harus menjadi penyulam makna bagi tanah kelahirannya, Kepulauan Bangka Belitung. Dari sanalah Media Negeri Laskar Pelangi bertumbuh. Bukan hanya sebagai media, tetapi sebagai cermin dan sekaligus kompas bagi Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata—yang ditenun dalam perspektif Sosial, Budaya, dan Pendidikan di Bumi Serumpun Sebalai.
Nama itu bukan tanpa ruh. Nama Negeri Laskar Pelangi diciptakan oleh saya dari restu seorang legenda hidup, Andrea Hirata—yang menciptakan Novel Laskar Pelangi dan telah mengangkat Belitung dari sunyi menjadi gema dunia. Sejak saat itu, “Negeri Laskar Pelangi” bukan sekadar nama.
Ia adalah identitas, doa, sekaligus arah peradaban. Media, Peradaban, dan Tanggung Jawab Zaman Media sejatinya bukan hanya industri. Ia adalah arsitek kesadaran kolektif.
Dalam konteks Bangka Belitung, Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata bukan sekadar sektor pembangunan—melainkan tulang punggung peradaban baru yang hendak meninggalkan ketergantungan masa lalu menuju masa depan yang berkelanjutan.
Di sinilah Media Negeri Laskar Pelangi mengambil posisi: tidak hanya memberitakan, tetapi menggerakkan.
Tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi menyalakan harapan. Ia hadir untuk: Menguatkan UMKM sebagai denyut ekonomi rakyat, Mengundang investasi sebagai energi pertumbuhan, Mengangkat pariwisata sebagai wajah peradaban, Menjaga harmoni sosial dalam keberagaman yang indah. Karena media yang sejati tidak hidup dari berita, tetapi dari kepercayaan publik dan keberanian moralnya.
Dari Cover Both Sides ke Cover Multi Sides
Selama ini, dunia pers mengenal prinsip “cover both sides”.
Namun Media Negeri Laskar Pelangi melangkah lebih jauh:
Cover Multi Sides. Karena realitas tidak pernah hitam putih.
Ia berlapis, berwarna, seperti pelangi itu sendiri. Di sinilah media ini memilih jalan sunyi: menjadi jembatan, bukan jurang. menjadi penjernih, bukan pengabur.
Media Dewasa: Kata Memiliki Nurani
Sepuluh tahun adalah usia yang matang. Dalam dunia media, ini bukan sekadar bertahan—ini adalah lulus dari ujian zaman. Media yang dewasa adalah media yang: Tidak tergoda sensasi, tetapi setia pada substansi, Tidak terjebak kecepatan, tetapi menjaga kedalaman, Tidak menjadi alat kekuasaan, tetapi tetap kritis dan berintegritas, Tidak menyebar ketakutan, tetapi menumbuhkan harapan. Media yang dewasa tahu: setiap kata adalah tanggung jawab sejarah.
Pandemi, Penundaan, dan Keteguhan
Pandemi Covid-19 pernah menunda banyak mimpi: dari Kawasan Ekonomi Khusus hingga Jembatan Bahtera Sriwijaya yang didorong dengan sangat baik oleh Media Negeri Laskar Pelangi. Namun satu hal tidak pernah tertunda:
komitmen. Media Negeri Laskar Pelangi tetap berdiri— menguatkan narasi optimisme, menjaga api harapan,
dan terus mengawal transformasi: From Mining to Tourism.
Media sebagai Penjaga Harapan
Di tengah dunia yang sering gaduh oleh pesimisme, media ini memilih untuk tetap menyalakan terang. Karena pembaca tidak hanya butuh informasi. Mereka butuh harapan.
Harapan bahwa: ekonomi bisa tumbuh dengan keadilan, pariwisata bisa berkembang dengan keberlanjutan, masyarakat bisa hidup dalam harmoni. Dan harapan itu… harus dirawat setiap hari, melalui kata-kata.
Bersyukur atas Dasa Warsa
Sepuluh tahun adalah awal dari kedewasaan. Bukan akhir perjalanan. Media Negeri Laskar Pelangi telah membuktikan: bahwa media daerah pun bisa menjadi penentu arah peradaban. Selamat atas satu dasa warsa perjuangan. Tetaplah setia pada ideologi. Tetaplah berani pada kebenaran. Tetaplah menyalakan harapan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras bersuara—tetapi siapa yang paling setia menjaga cahaya.
Selamat Ulang Tahun ke-10
Media Negeri Laskar Pelangi. Semoga… terus menjadi pelangi bagi negeri ini!








