TABAYYUN

Oleh: Rusydi Sulaiman (Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung)

Avatar photo
Rusydi Sulaiman

RAMADHAN adalah bulan mulia, didalamnya diwajibkan umat Islam berpuasa sebulan penuh dan tunaikan amal shaleh lainnya yang bersifat Sunnah dan Fadhilah lainnya. Namun dalam proses penunaiannya ada saja usikan bahkan godaan terhadap setiap orang sehingga rutinitas ibadah dan amal shaleh tersebut agak terganggu oleh sebab tertentu dalam kesehariannya.
Siapapun bisa salah karena khilaf atau lengah, ceroboh dan atau sengaja lakukan suatu perbuatan yang mengusik orang lain. Ketika seseorang sudah sangat dewasa (senior), seyogyanya ia bersikap bijak–berhusnuzhzhan (berbaik sangka) kepada siapapun dan dalam kondisi apapun. Setidaknya bertabayyun terlebih dahulu sebelum bersikap dan/atau menyikapi sesuatu. Orang yang diyakini religius sekalipun bisa berbuat salah dan bahkan dosa, baik dosa kecil (shaghaair) ataupun dosa besar (kabaair).

Kasus pelecehan seksual misalnya yang dilakukan oleh oknum tertentu di negeri ini mengindikasikan hal tersebut. “Na’uuzubillah min dzaalika”. satu hal yang mesti dilakukan adalah bersikap hati-hati dan menghindarkan diri dari hal di atas bahkan dari hal yang mungkin tidak layak untuk dilakukan bagi orang-orang tertentu. Tabayyun adalah solusi, setidaknya hal tersebut sebagai bentuk sikap mengalah dan atau menahan diri.

Kata “Tabayyun” terderivasi dari kata dalam Bahasa Arab, yaitu: “bayyana-yubayyinu-bayaanun”, berarti menjelaskan-penjelasan. “Bayyinun”, berarti jelas dan terang, menjadi “Tabayyun” atau bertabayyun berarti berusaha menjelaskan. Secara istilah, kata “tabayyun” mengandung pengertian proses mencari kejelasan, memverifikasi kebenaran suatu informasi sebelum memutuskan sesuatu dan atau bertindak, sebagaimana ditegaskan dalam QS.Al-Hujurat ( 49): 6) “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Kuat atau tidak kuatnya kepribadian dan integritas diri seseorang tergantung seoptimal apa ia fungsikan akal dan kalbunya, karena dua potensi tersebut yang membedakan manusia sebagai makhluk dibandingkan dengan makhluk lain. Selanjutnya persentuhannya dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar dalam bentuk pengaruh tertentu sehingga menjadikannya lebih baik atau sebaliknya.

Itulah pendidikan berupa pengaruh dari segala pengaruh yang sengaja dipilih untuk membantu seseorang agar berkembang secara fisik, akal dan akhlak untuk kebahagiaan yang diinginkan, baik di dunia dan di akhirat. Pengaruh tersebut dapat dibentuk misalnya oleh seorang pendidik terhadap anak didiknya ketika dia menginginkan anak tersebut menjadi sosok yang lebih baik (berperadaban).

Persentuhan panjang dalam hidup seseorang dengan peradaban sebelumnya menjadikannya lebih berpengalaman, lebih dewasa dan bijak selain faktor genealogi dan atau tokoh tertentu yang membesarkan jiwanya. Bila tidak, berarti ia tidak memanfaatkan kesempatan berharga tersebut sehingga keberadaan dirinya lemah atau tidak diakui.
Namun demikian, setiap orang tidak selalu mulus pengalaman hidupnya, ada saja yang mengusik dan seringkali benturan tertentu terjadi dalam dirinya. Sebenarnya itulah dinamika kehidupan manusia yang menjadikannya semakin berpengalaman menjadi pribadi yang sesungguhnya. Terkadang beruntung atau sebaliknya sial; dihargai atau sebaliknya dizalimi; disetujui atau sebaliknya dibiarkan; diterima atau sebaliknya ditolak.

Pada akhirnya berusahalah untuk wujudkan kekuatan dan kebertahanan diri dalam hidup ini juga keberlangsungan kehidupan orang lain. Tingkatkan kebermanfaatan diri tanpa tendensi apapun. Menjadi diri sendiri lebih baik, tidak semata-mata dari orang lain. Wassalam and have a good time forever. (*)

[Heateor-SC]