KOBA, LASPELA – Menu MBG tidak luput dari perhatian dan kritik dari sejumlah pihak, terutama ketika di bulan ramadan karena sajiannya yang berbeda dari hari biasa.
Menanggapi itu, Ketua DPRD Bangka Tengah Batianus mengatakan, program tersebut tetap membawa dampak positif bagi siswa, terutama dalam nilai kebersamaan.
“Tentu, dengan adanya MBG di Bangka Tengah sangat membantu masyarakat, terutama anak-anak kami di sekolah,” katanya, Rabu (4/3/2026).
Ia menilai, esensi MBG tidak hanya diukur dari nilai materi yang diterima siswa, tapi juga dari nilai kebersamaan yang tercipta saat anak-anak makan bersama di sekolah.
“Ketika anak-anak kita makan bersama, itu ada nilai kebersamaan. Jangan sampai ada kesenjangan ketika anak-anak makan dengan lauk yang berbeda, itu yang paling utama,” katanya.
Batianus sempat mengunjungi SMPN 1 Koba melihat langsung pelaksanaan program MBG. Dari kunjungan tersebut, ia menilai terdapat sisi positif yang perlu diapresiasi.
“Ada yang menarik dan baik dari MBG ini, menumbuhkan nilai kebersamaan dengan cara makan bersama,” katanya.
Sementara itu, terkait polemik nilai gizi, Batianus mengaku telah melihat unggahan video yang menyoroti menu MBG. Namun, ia menegaskan, persoalan teknis gizi menjadi ranah pihak yang berkompeten.
“Peruntukan nilai gizi ini adalah bagi kesehatan. Tentu kami DPRD tidak berani berbicara panjang lebar, tapi kami berharap penyedia memperhatikan menu-menu dari MBG itu sendiri,” ucapnya.
Selaku Ketua DPRD Bangka Tengah, ia menyampaikan Komisi I rutin melakukan pemantauan ke sejumlah SPPG di wilayah Jelutung, Namang, dan sekitarnya.(pri)








