Setiap lembaga pendidikan apapun bentuknya (sebelum pendirian), mesti diawali atas idealisme kuat tokoh- tokoh penting untuk tujuan penguatan lembaga tersebut sebagai wadah dalam berkhidmah.
Aspek-aspek terkait keseluruhan kebutuhan lembaga pendidikan akan terpenuhi bila kemudian didukung oleh manajemen pengelolaan yang baik dan terstruktur.
Sebagai kelengkapan, semangat berdampingan dan kerjasama dengan pihak- pihak terkait mesti dilakukan. Mereka akan terpanggil untuk memberi dukungan apalagi trust sudah didapat.
Dalam konteks sejarah Nusanantara, PTKIN adalah lembaga yang sudah cukup lama berdiri bahkan telah mengukir sejarah tertentu dalam konteks penguatan peradaban.
PTKIN yang mewujud menjadi IAIN, STAIN dan berikutnya menguat kelembagaannya dalam bentuk UIN sesungguhnya tidak berpijak pada “totak break” peradaban.
Begitu banyak sentra pendidikan sebelumnya di beberapa daerah yang secara tidak langsung menginspirasi pembentukan PTKIN tersebut.
IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung secara kelembagaan juga mengindikasikan hal tersebut. Awalnya adalah YPPNI (Yayasan Pondok Pesantren Nurul Ihsan) sebagai induk kemunculan YPIB (Yayasan Perguruan Islam Bangka), berdasarkan Akte Notaris Muljono Josohardjono, Nomor 16, tanggal 7 September 1995.
Berdirilah STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah), berikutnya STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) dan kemudian STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam).
Sebuah PTKIN bernama STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung hadir pada tanggal 17 Oktober 2004, berdasarkan Kepres RI., Nomor 93, tahun 2004.
Setelah 14 tahun berlalu, bertranformasi kelembagaan menjadi lembaga besar di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu: IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (5 April 2018–di masa kepemimpinan Dr.Zayadi Hamzah, M.Ag), berdasarkan Peraturan Presiden RI. Nomor 30, tahun 2018.
Pastinya sudah cukup panjang sejarah PTKIN tersebut; setidaknya sudah tiga dekade sejak kehadiran YPPNI yang berbasis di Baturusa Bangka, bahkan lebih lama lagi bila dihitung sejak terjadinya intensifikasi Islam di Bangka pasca Tradisi Naon di Mekkah.
Merujuk kepada sejarah panjang islamisasi di kepulauan ini, lebih spesifik IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, masyarakat berharap kelembagaannya menguat menjadi PTKIN berintegritas sesuai visi yang dikonsep, yaitu: Unggul, Religius dan Profesional. Bila hal itu terwujud, maka ia akan membuat bahagia para sesepuh yang telah menggagas.
Setidaknya generasi sesudah mereka telah berbuat, membuktikan idealisme mereka. Pastinya predikat sebagai PTKIN satu-satunya di Bumi Serumpun Sebalai tersebut memberi sentuhan tersendiri bagi sivitas akademikanya untuk berbuat banyak bagi masa depan lembaga.
Berikut ini beberapa hal yang mungkin dapat dijadikan pijakan bagi sivitas akademika, khususnya pimpinan dalam melangkah–menyertai lembaga ini, yaitu:
Pertama, Tidak Melupakan Masa Lalu. “al-Fadhlu lil-Mubtadiy wa in Ahsanal-Muqtadiy” (keutamaan bagi yang mengawali walaupun pengikut atau yang melanjutkannya lebih baik).
Artinya dalam proses mengelola sebuah lembaga, kita mesti ingat jasa para pendahulu sehingga sebuah lembaga berdiri tegak dan hingga saat masih ada.
Sebagaimana diurai, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung tidak serta merta berdiri. Beberapa tokoh telah berperan signifikan dalam sejarah penguatan kelembagaannya.
Secara administratif formal, pastinya beberapa ketua/ rektor dan beberapa pimpinan dari periode ke periode. Penetapan nama Syaikh Abdurrahman Siddik misalnya untuk nama lembaga bukan tanpa alasan–salah satunya adalah kontribusi pemikiran ulama tersebut selama menetap satu dekade lebih di Bangka.
Beberapa karyanya diamalkan oleh murid-muridnya termasuk di PTKIN ini. Sebaik-baik orang yang melanjutkan, keutamaan melekat bagi yang mengawali, maka mereka tidak boleh dilupakan. Al-Faatihah lahum. Berkonsultasi kepada para pendahulu yang masih hidup terkait dengan semangat mengelola lembaga adalah langkah baik dan strategis.
Kedua, Berusaha Menikmati. Apapun kondisi IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, maka ia tetap almamater terbaik bagi sivitas akademikanya.
Dosen misalnya berusaha menikmati profesi sebagai pejabat fungsional dan juga tugas tambahan berupa jabatan struktural yang diamanatkan kepadanya. Unsur-unsur dalam Tridharma Perguruan tinggi adalah pijakan dalam berkhidmah atas dasar hak dan kewajiban.
Dosen bukan sebatas pengajar, melainkan pendidik profesional bagi mahasiswanya. Mahasiswa memiliki hak dididik dan diberi pelayanan setelah ia resmi menjadi bagian dari sivitas akademika.
Dua unsur substansial di perguruan tinggi tersebut berada dalam satu kesatuan pendidikan ( take and give). Begitu juga tenaga kependidikan dan unsur lain di dalamnya baiknya berusaha menikmati tugas pengabdiannya.Ikhlas beramal.
Ketiga, Selalu dalam Kebersamaan. Tidak mudah bersama, bekerja sama dan selalu dalam kebersamaan kecuali bagi yang mendambakannya.
Beberapa fakta menunjukkan adanya kerenggangan, ketidaksepahaman bahkan konfliks yang sebelumnya pernah mewarnai. Namun demikian, apapun masalahnya; sebab dan ikhtiyar yang dilakukan, anggap saja itu dinamika.
Selanjutnya bermuhasabah dan jadikan masa lalu sebagai pijakan untuk melangkah, menjadi lebih baik dari sebelumnya–Unggul, Religius dan Profesional.
Mari melangkah bersama, saling mengingatkan, bekerja sama dan sama- sama bekerja serta selalu dalam kebersamaan.
Keempat, Berharap Perubahan. Setelah sekian lama berlangsung kepemimpinan di PTKIN satu-satunya di kepulauan ini, pastinya sudah banyak yang telah diperbuat. Baik atau buruk, kurang atau lebih, hal itu biasa karena tidak ada manusia sempurna. Apresiasi harus diberikan kepada para pimpinan sebelumnya.
Di akhir masa jabatan Prof.Dr.Irawan, M.S.I., telah dibentuk panitia penjaringan rektor baru untuk periode berikutnya, terhitung sejak akhir April 2026. Penetapannya berada di tangan Menteri Agama setelah melalui tahapan seleksi.
Siapapun rektor terpilih, maka ia adalah pimpinan sesungguhnya bahkan akan menjadi pemimpin dengan kekuatan pengakuan publik ( de jure dan facto).
Berikutnya melangkah pasti dan berorientasi ke depan untuk kemajuan lembaga–IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Semangat Baru Pasti Bisa. Mudah-mudahan terwujud. Semua berharap perubahan. Wassalam. (*)



