Tenang Menaklukkan Panggung

* Mia Rahmadani

Avatar photo
Mia Rahmadani. (Foto: ist)

Tak semua orang nyaman berada di depan kamera atau berdiri di panggung luas dengan ratusan pasang mata memperhatikannya. Tapi bagi Mia Rahmadani, panggung baik panggung acara maupun panggung berita di depan kamera adalah ruang tempat ia menemukan dirinya. Ruang yang setiap hari ia taklukkan, bukan dengan kesempurnaan, tapi dengan keberanian untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik serta berupaya maksimal.

Perjalanan perempuan kelahiran Kepoh, 25 November 2000 ini bermula dari hal sederhana, kegemarannya berbicara. Ia menikmati menyusun kata, memainkan intonasi, dan menyampaikan pesan. Dari situlah ia mulai menyadari bahwa dirinya merasa “hidup” ketika berbicara di depan orang banyak. Pelan-pelan, dunia public speaking dan jurnalistik menjadi dua hal yang justru saling melengkapi dalam hidupnya.

Mia tumbuh di desa kecil di Toboali, Bangka Selatan, tempat yang jauh dari hingar-bingar dunia broadcasting. Ayahnya tidak tamat SD, ibunya hanya tamat SD. Namun justru dari kesederhanaan itulah Mia mendapat kekuatan dan kepercayaan penuh dari orang tua untuk memilih jalannya sendiri.

“Mereka di sisi lain menyadari keterbatasan terkait dunia pendidikan dan dunia luar, hanya nilai moral dan adab yang menjadi fondasi kuat selalu ditekankan, selebihnya kebebasan bereksplorasi dengan apapun yang saya minati itulah bentuk dukungan keluarga. Saya bersyukur didukung penuh oleh keluarga,” beber Mia yang kini bekerja sebagai pewara di Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) Bangka Belitung.

Mia kemudian kuliah di Sastra Inggris UBB angkatan 2019. Di kampus, kecintaannya pada public speaking berkembang semakin jelas. Ia mulai membawakan acara, lalu masuk dunia penyiaran, sesuatu yang awalnya tidak pernah ia bayangkan. Dan di situlah semuanya berubah.

Baca Juga  WPR Jadi Kunci, DPRD Babel Kebut Pengesahan Perda Pertambangan

Tidak banyak yang tahu, dua profesi itu, pewara dan jurnalis, sebenarnya menarik karakter Mia ke arah yang berbeda. Di panggung, ia harus hangat, cair, sering kali meriah. Di studio berita, ia harus tenang, serius, dan lugas.

Tapi Mia punya cara sendiri untuk menaklukkannya. Ia belajar membaca suasana setiap acara, apakah ia harus formal, energik, ramah, atau justru harus tegas. Segmentasinya banyak adalah acara pemerintahan, creative events, serta korporat, yang semuanya menuntut pembawaan berbeda.

Ada satu hal yang selalu ia lakukan setiap kali menerima job baru: mengamati.
Ia memperhatikan pewara lain, mencocokkan gaya yang pas, lalu menemukan celah yang cocok dengan dirinya.

“Saya belajar karakter panggung bukan dari teori, tapi dari pengalaman langsung di lapangan,” katanya.

Di sisi lain, dunia jurnalistik mengajarkannya kedisiplinan dan ketelitian. Menyiapkan naskah berita, melakukan wawancara, turun ke lapangan, hingga live report dalam situasi hectic membuatnya terbiasa sigap.

Ia pernah harus melaporkan langsung ke stasiun nasional sambil menyiapkan berita untuk stasiun lokal dalam waktu yang sangat singkat.

“Kedua profesi ini saling menguntungkan bagi saya. Saya ditempa di dunia berita dengan sejumlah isu yang wajib saya pahami karena berkenaan dengan dunia jurnalistik sehingga istilah itu saya dapatkan dengan metode belajar banyak hal mulai dari peran suatu instansi, struktur, alur dan sebagainya,” tukasnya.

Baca Juga  Hasil Lelang Jersey SEA Games 42 Kilometer Robi Syianturi Disalurkan untuk Pendidikan dan Air Bersih di Sibolga–Tapteng

Dari Wapres Ma’ruf Amin hingga menteri, kepala daerah, pimpinan perusahaan, hingga tokoh-tokoh lokal Bangka Belitung, semua pernah ia wawancarai dan menjadi pengalaman berkesan. Ia juga kerap memandu berbagai acara santai, mulai dari peresmian proruk, event olahraga hingga kegiatan lainnya. Pengalaman itu membuatnya semakin percaya diri ketika harus memandu acara besar, karena ia sudah terbiasa bertemu dengan beragam karakter penting.

Di balik suara tenangnya, Mia punya rutinitas sederhana dalam menjaga suaranya agar tetap prima, latihan olah vokal dua menit, makan sehat, tanpa rokok dan alkohol, serta istirahat cukup.

“Kelihatannya simpel, tapi itu yang paling menjamin performa. Suara itu aset, dan konsentrasi harus dijaga,” imbuhnya.

Ia tahu bahwa tampil prima bukan soal makeup atau busana saja. Suaranya, energinya, dan mentalnya harus dalam kondisi siap.

Yang membuat perjalanan Mia berbeda adalah caranya menghadapi tantangan. Ia tidak menolak perubahan karakter setiap acara, justru menikmatinya.

Baginya, panggung apa pun bisa ia hadapi selama ia mau belajar dan itulah prinsip yang terus membawanya maju belajar tanpa henti, bertumbuh tanpa takut.

Mia tidak pernah membayangkan akan menjadi pewara atau jurnalis. Tapi ia tidak berhenti bergerak. Tidak berhenti mencoba. Tidak berhenti membuka pintu baru.

“Saya terus asah sejumlah keterampilan selama di dunia penyiaran ini, selama saya terus berproses dan berprogres keterampilan yang saya punya pasti akan diakui seterusnya dan bermanfaat,” tutupnya optimis. (rul)

[Heateor-SC]