Gelar Seminar Internasional, IAIN SAS Babel Hadirkan Narasumber dari Malaysia

Avatar photo
Editor: Iwan Satriawan
International Conference on Islamic Counseling Studies 2025, di kampus IAIN SAS Babel, Jumat (28/11/2025).

MENDO BARAT, LASPELA — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung menggelar International Conference on Islamic Counseling Studies 2025 dengan menghadirkan narasumber dari Malaysia, sebagai upaya penguatan kajian keilmuan dalam bidang bimbingan dan konseling Islam.

Kegiatan yang mengusung tema “Searching for Meaning; Strengths to Enhance Resilience and Well-being” itu berlangsung di Aula Terpadu Lantai I kampus setempat, Jum’at (28/11/2025).

Konferensi internasional tersebut menghadirkan tiga narasumber dari Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia (PEKA), yakni Muhammad Saffuan bin Abdullah, KB., PA selaku counsellor dan pengarah PEKA & IKRAM Malaysia,  Datin Dr. Siti Taniza Toha selaku President of Persatuan Kaunselor Pendidikan Malaysia, serta Hishamudin Bin Salleh, (Mental Health & Medical First Aider).

Selain itu, turut menjadi narasumber dari IAIN SAS Babel, yakni Plt Kaprodi BKI FDKI, Nurviyanti Cholid, M.Pd.I. sementara rangkaian konferensi ini dimoderatori oleh Wahyudi.

Rektor IAIN SAS Babel, Irawan menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada para narasumber dari Malaysia yang telah berkenan hadir dan berkontribusi dalam penguatan tradisi akademik di lingkungan IAIN SAS Babel.

Ia menekankan bahwa kerja sama lintas negara ini merupakan langkah strategis dalam menjawab dinamika persoalan psikososial kontemporer.

Rektor menegaskan bahwa kehadiran para ahli dari PEKA Malaysia tidak hanya memperkaya perspektif teoretik, tetapi juga memberikan kontribusi praktis terhadap pengembangan model layanan konseling yang berorientasi pada ketangguhan (resilience) dan kesejahteraan (well-being).

“Terimakasih kepada seluruh tamu yang hadir, serta selamat datang para narasumber dari PEKA Malaysia yang telah berkenan hadir di kampus IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung,” ucapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), Rusydi Sulaiman mengatakan bahwa kehadiran para Datuk dan Datin dari Malaysia ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan wujud nyata kolaborasi akademik yang produktif.

Ia menekankan bahwa selama ini kecenderungan akademisi Indonesia untuk belajar ke Malaysia cukup tinggi, dan kali ini pihaknya memandang penting untuk menjadikan Bangka Belitung sebagai ruang temu dan pertukaran keilmuan yang setara.

Rusydi menjelaskan bahwa kegiatan konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian kerja sama antara Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) FDKI, Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Fakultas Tarbiyah dengan PEKA Malaysia.

Dalam pandangannya, urgensi kajian konseling Islam semakin mengemuka seiring meningkatnya kompleksitas permasalahan yang dihadapi individu dan masyarakat.

Ia merujuk pada prinsip-prinsip keislaman yang menegaskan bahwa setiap manusia tidak terlepas dari ujian dan permasalahan hidup. Dari perspektif tersebut, konselor diposisikan bukan sekadar sebagai pendengar, tetapi sebagai pendamping yang membantu individu menemukan makna dan kekuatan dari pengalaman hidupnya.

“Kegiatan ini sangat penting, karena setiap manusia punya masalah.
Dikutip dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, bahwa setiap orang punya masalah dan diharapkan setiap orang mampu mengatasi masalah.

Namun faktanya, kata Rusydi, ada orang yang mampu mengatasi masalahnya dan mampu mengatasi masalah orang lain, sebaliknya ada orang yang tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri dan juga tidak mampu mengatasi masalah orang lain.

“Jadi, jangan sampai kita mampu mengatasi masalah orang lain, tapi tidak mampu mengatasi masalah kita sendiri,” bebernya.

Selain itu, ia juga mengutip kata hikmah bahwasannya ‘kesehatan itu adalah mahkota, tak seorangpun yang mampu melihat kesehatan kecuali orang-orang yang sakit’.

Ia mengaitkan pandangan ini dengan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan kondisi psikososial mahasiswa serta masyarakat luas.

Dalam konteks ini, keberadaan organisasi konselor seperti PEKA dan keterlibatannya dalam kolaborasi dengan FDKI IAIN SAS Babel dinilai strategis untuk merumuskan pendekatan-pendekatan konseling yang lebih kontekstual, baik untuk menghadapi masalah pribadi, sosial, maupun problem-problem lain yang bersifat multidimensional.

Di Bangka Belitung, ada tiga kegiatan yang dilakukan yakni pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional di Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja yang melibatkan sekitar 50 santri, pelatihan internasional bagi mahasiswa Program Studi BKPI dan BKI yang diikuti lebih dari 70 mahasiswa, serta puncak kegiatan berupa penyelenggaraan International Conference on Islamic Counseling Studies 2025. (mah)

Leave a Reply