Opini  

ARBA’ATUN HURUM

Oleh: Rusydi Sulaiman (Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung)

Avatar photo
Rusydi Sulaiman

Setiap orang yang mengaku beragama pasti berupaya tingkatkan kualitas keimanannya menuju ketakwaan sebagai prestasi ruhani untuk dapatkan ridha Allah.

Terlebih di Bulan Ramadhan, gerakan kejiwaan itu lebih meningkat daripada bulan-bulan lainnya. Janji Allah perihal kebaikan di bulan tersebut memberi ghirah tersendiri sehingga seseorang intens beramal shaleh.

Arba’atun Hurum adalah tawaran berbuat baik melingkupi duabelas bulan Hijriyah sepanjang tahun sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah (9):36)—Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa”.

Kesadaran beragama seseorang terkait erat dengan amal perbuatannya dalam bulan-bulan tertentu. Bila baik, maka cenderung baik. Sebaliknya bila buruk, maka cenderung buruk.

Sebagai awal bulan tahun Hijriyah dan juga dalam konteks “Arba’atun Hurum”, Muharram memiliki peran penting dalam semangat pensucian diri, apalagi bulan tersebut memuat beberapa peristiwa penting dalam sejarah sebagian nabi Allah sebagai pribadi-pribadi pilihan. Sudah semestinya mereka diteladani. Nuansa itu menggerakkan logika dan jiwa orang-orang beriman (mukminuun).

Berikutnya Bulan Rajab, terdiri dari tiga huruf. Huruf “Ra” (10); “jim” (5 dan “ba’ )2), berjumlah 17 secara numerik Al-Qur’an, mengindikasikan jumlah rakaat shalat.

Sedangkan bulan Rajab diturunkannya perintah shalat lima waktu (ash-Shalawaat al-Khamsu). Angka 17 juga dinisbatkan ke surat Al-Isra ayat 1 dalam Al-Qur’an, dan secara spesifik berlangsung peristiwa Isra’ dan Mikraj Nabi Muhammad Saw. sebagai mukjizat. “Amrun Khaariqun lil-‘Aadati Tazhharu ‘alaa yadi man Yad’iya ar-Risaalah aw an-Nubuwwah” (sesuatu diluar kebiasaan, tampak pada orang yang mengemban risalah dan kenabian).

Bulan Sya’ban adalah estafet ke Ramadhan. Muatan kebaikan Sya’ban sangat berpengaruh terhadap tahapan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. “Awwaluhu Rahmah wawasathuhu maghfirah wa aakhiruhu ‘itqun minan-Naar” (sepuluh hari pertama, anugerah; sepuluh hari kedua, ampunan; dan sepuluh hari ketiga, terbebas dari api neraka). Intensitas amal shaleh sebagai komitmen keagamaan selama bulan puasa tersebut menjadi seorang mukmin beruntung menjadi suci kembali.

Maka dari itu berhak baginya berlebaran—saling memaafkan satu sama lain sambil bermuhasabah atas perbuatan sebelumnya.

Lebar atau lebaran adalah salah satu dari empat perbuatan baik (laku sing papat), yaitu: luber (rezeki berlimpah), lebur (meleburkan diri dengan sesama), dan labur (mengecat rumah menjadi baru/bersih—kesemua sikap tersebut diharapkan menyatu dalam diri setiap hamba Allah setelah beribadah sebulan penuh dan akumulasi kebaikan bulan-bulan sebelumnya.

Dua bulan tersisa sebagai bagian dari Arba’atun Hurum adalah Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Setiap mukmin diharapkan mewarnainya dengan kebaikan pula.

Sesuai pesan dalam QS. At-Taubah (9):36) tersebut, bahwa orang yang beragama terlebih mukmin tidak boleh zhalim terhadap dirinya dan juga kepada orang lain dalam dua bulan suci tersebut sehingga menjadi husnul-Khatimah.

Dalam Arba’atu Hurum dan Bulan Ramadhan, segala bentuk kemaksiatan hendaknya semakin dijauhi dan amal kebajikan semakin dioptimalkan; menjaga lisan, menahan amarah, memperkuat silaturahim, serta memperbanyak ibadah menjadi wujud nyata sekaligus apresiasi tinggi terhadap kesucian bulan-bulan tersebut.

Bila hal demikian itu dibuktikan, berarti seorang hamba benar-benar telah memuliakan Allah Swt. Selanjutnya ia terhindar dari perbuatan yang merugikan dirinya.

Sekali lagi, Arba’atun Hurum adalah pijakan dan sangat terkait dengan kesucian Bulan Ramadhan. Maka dari itu, mari kita warnai bulan suci tersebut dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk penghambaan kita kepada-Nya. Wassalam.(*)

[Heateor-SC]