Opini  

Metafisika  Isra’ Mi’raj; Refleksi Keseimbangan Hubungan Manusia, Tuhan dan Alam

Oleh: Rusydi Sulaiman (Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Studi Islam (Islamic Studies) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung dan Direktur Madania Center Bangka Belitung)

Avatar photo
Rusydi Sulaiman

Manusia merupakan makhluk, berasal dari unsur tertentu dari alam yang juga diciptakan untuk tujuan tertentu—ibadah. Allah adalah Dzat yang menciptakan makhluk-makhluk-Nya.

Dalam upaya menyeimbangkan hubungan antara Yang Menciptakan (Allah Swt.) dan yang diciptakan, khususnya manusia, dibatasi dengan ibadah utama, yaitu shalat yang proses pewahyuan-nya melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.

Muhammad SAW, sosok yang diutamakan

Ketika begitu banyak nabi dan rasul yang diutus ke muka bumi, hanya sedikit dari mereka yang dianugerahkan mukjizat. Mukjizat muncul seketika atau sengaja dilekatkan atas otoritas Allah Swt., karena situasi tertentu yang dihadapi nabi dan rasul saat berdakwah dan untuk melemahkan (yu’jiz) tantangan yang mereka hadapi.

Diantara nabi dan rasul yang memiliki mukjizat adalah: Adam as., Idris as., Nuh as., Shaleh as., Ibrahim as., Syua’ib as., Musa as., Yusuf as., Daud as., Sulaiman as. dan Isa as.

Mukjizat-mukjizat tersebut sangat menakjubkan. Nabi Adam misalnya, mengetahui semua nama sedetail-sedetailnya dan bersujud malaikat kepadanya; Nabi Idris, menulis dengan pena dan menjahit baju dari bahan kain;

Nabi Nuh, berusia panjang (1450 tahun) dan gagah, tidak beruban, bergigi lengkap dan pemberlakuan syari’ah tertentu di zamannya; Shaleh as., berhadapan dengan kaum Tsamud; Nabi Ibrahim, selamat dan merasa dingin dari api, awal bersiwak dan istinja’ dengan air, awal berkhitan dan memakai celana serta awal menjamu tamu di kediamannya; Nabi Syuaib, datangnya adzab Allah bagi Kaum Madya;

Nabi Musa, laut terbelah, tongkatnya berubah jadi ular, terpancarnya air dari batu karenanya; Nabi Yusuf, berparas ganteng dan menakjubkan bagi yang memandang, dan menta’bir mimpi; Nabi Daud, melunakkan besi;

Nabi Sulaiman, menaklukkan jin, setan, angin, burung dan hantu; dan Nabi Isa, menghidupkan yang mati dan turunnya hidangan makanan. Namun demikian, Nabi Muhammad memiliki lebih banyak mukjizat. Peristiwa Isra’ (QS.Al-Isra’ (17):1 dan Mi’raj (QS.An-Najm (53):12-18) adalah salah satu mu’jizat—sangat metafisik; merefleksikan keseimbangan hubungan manusia, Tuhan dan alam.

Baca Juga  BERHARAP PERUBAHAN

Hadiah Isra’ Mi’raj

Ketika begitu berat ujian dan cobaan yang menimpa Nabi Muhammad Saw sangat sabar dan tegar dalam menghadapinya.

Maka dari itu, sangat beralasan bila peristiwa Isra’ Mi’raj dihadiahkan kepadanya, selain itu Rasulullah juga merupakan pribadi yang baik, taat dengan empat sifat ini, yaitu: shiddiq,  Amanah, tabligh dan fathanah.

Isra’ bermakna diperjalankannya Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), didampingi Malaikat Jibril dan Buraq, dua makhluk cahaya yang sangat patuh kepada Allah, al-Khaaliqul-Ma’buud.

Penggunaan kata,”subhaana” di awal Surat Al-Isra’ bersifat penegasan muthlak “tanziihun muthlaqun, Li dzikril-Asyyaa’ al-‘Ajabiyah Al-Mu’jizah” (untuk menyebutkan sesuatu yang menakjubkan dan mukjizat). Allah berkahi lingkungan disekitarnya untuk tampakkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt.

Adapun Mi’raj adalah perjalanan vertikal dari Baitul Maqdis ke langit ke-7—Sidratul Muntaha, disebutkan dalam QS. An -Najm (53):12-18).  Setelah berjumpa dengan nabi-nabi tertentu di langit tertentu dan peristiwa lainnya, Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril (dalam bentuk aslinya) di waktu yang lain (nazlatan ukhraa) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga, tempat tinggal. Artinya Muhammad saw sebagai manusia telah diangkat derajat kemanusiaannya.

Sungguh Nabi Agung tersebut berada di tempat dimana tiada manusia manapun sebelumnya yang menggapai posisi tersebut.

Muhammad Saw menggapai,”a’laa maraatibisy-Syarafi, sementara dirinya adalah hamba Allah (‘abdun) yang juga diciptakan, dan Sidratul Muntaha mengindikasikan, “al-Makaan al-Ladziy yantahii ‘indahu ‘llmul-Khalaaiqi walau bil-Wahyi” (tempat dimana berakhirnya pengetahuan manusia walaupun dengan wahyu), disebut, “al-Manzilah ar-Rafii’ah lir-Rasuuli ‘inda Rabbihi” (kedudukan tertinggi bagi Rasulullah di sisi Tuhannya).

Artinya manusia pun diapresiasi Tuhan, Allah Swt. Walaupun diciptakan, dan makhluk-makhluk lain tunduk kepadanya. Melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, Allah membuktikan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Baca Juga  BERHARAP PERUBAHAN

Pensyari’atan Shalat Lima Waktu

Suatu hal yang proses pewahyuannya tersendiri adalah Shalat Lima Waktu (ash-Shalawaatul-Khamsu), yaitu dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Atas saran Musa as., “Irji’ ilaa Rabbika was’alhut-Takhfiifa” (baliklah  kepada Tuhan mu, dan mintalah keringanan kepada-Nya), berkuranglah jumlah waktu shalat tersebut menjadi lima waktu—17 raka’at (Shubuh, 2; Zhuhur, 4; Ashar, 4; Maghrib, 3; dan Isya’, 4 raka’at), secara numerik Al-Qur’an identik dengan Bulan Rajab; Ra’a, huruf kesepuluh; Jim, huruf kelima, dan ba’ adalah huruf kedua, menjadi 17 bila dijumlahkan, dan 27 Rajab adalah waktu berlangsungnya peristiwa Isra’Mi’raj.

Lagi pula Rajab adalah salah satu bulan suci (Arba’atun Hurum) yang disebutkan dalam QS. At-Taubah (9):36, dimana setiap manusia dianjurkan intens beribadah dan berbuat baik, dan sebaliknya dilarang bersikap zhalim kepada sesama dan makhluk lainnya. Tujuannya adalah perkuat keseimbangan hubungan manusia, Tuhan dan alam.

Metafisika Isra’ Mi’raj

Pesan yang diambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj tidak sebatas pensyari’atan shalat, melainkan mengandung makna terdalam terkait dengan upaya manusia menggapai derajat tinggi di hadapan Tuhan, Allah Swt dalam bentuk ibadah yang utamanya adalah Shalat Lima Waktu di sela rutinitas kesehariannya.

Artinya shalat harus dioptimalkan menjadi hakikat ibadah (haqiiqatul-Ibaadah)—adanya keterkaitan hubungan kejiwaan seorang hamba dengan Tuhannya saat beribadah (muraabathah).

Hal itu muncul bila adanya sikap keterlamaan dalam beribadah, khususnya shalat (mudaawamah). Iman sebagai potensi Ruhani akan meningkat menjadi ketakwaan, yaitu prestasi Ruhani.

Dengan kualitas shalat, manusia akan diangkat derajatnya di sisi Allah, dan shalat yang diwahyukan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi indikator amal manusia dalam semangat menyeimbangkan hubungan manusia, Tuhan dan alam.  “Ash-Shalaah Mi’raajul-Mu’miniin”. Wassalam. (*)

[Heateor-SC]