KOBA, LASPELA–Kepala Dinas Kesehatan Bangka Tengah, Zaitun menjelaskan dinas kesehatan mencatat jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) pada 2025 sebanyak lima kasus atau mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah kasus tersebut dipengaruhi oleh adanya program screening atau skrining kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah pusat sehingga kasus DBD dapat terdeteksi lebih awal.
“Pada 2025 ini tercatat sebanyak lima kasus DBD. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tiga kasus, salah satunya karena adanya program skrining yang dianjurkan pemerintah pusat,” kata Zaitun, Senin (19/1/2026).
Menurut Zaitun, skrining yang dilakukan secara lebih masif membuat petugas kesehatan lebih cepat menemukan dan mencatat kasus DBD yang sebelumnya berpotensi tidak terlaporkan.
Meski terjadi peningkatan kasus, Zaitun memastikan pihaknya terus mengoptimalkan berbagai langkah pencegahan untuk menekan penyebaran DBD di wilayah Bangka Tengah, salah satunya melalui penerapan program 3M.
“Kami terus mengoptimalkan program 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD.
“Pencegahan DBD tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh masyarakat,” kata Zaitun.
Dinas Kesehatan Bangka Tengah juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui puskesmas dan kader kesehatan terkait pentingnya pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan tempat tinggal, terutama saat musim hujan yang berpotensi meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti.
“Dengan penguatan edukasi dan konsistensi penerapan program pencegahan, kita berharap angka kasus DBD di Bangka Tengah dapat ditekan,” ujarnya. (*/ant/rel)
