Bupati Bangka Barat Jamu Dubes Australia dan Keluarga Perang Dunia II

Avatar photo

MENTOK, LASPELA  — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat (Babar) menjamu perwakilan Kedutaan Besar (Dubes) Australia dan keluarga korban tragedi Perang Dunia II,  di Rumah Dinas Bupati, Minggu (15/2/2026) malam.

Sekilas, pertemuan tersebut bukan sekadar jamuan makan malam, tetapi menjadi ruang berbagi cerita, mengenang sejarah, sekaligus mempererat hubungan kemanusiaan yang telah terjalin puluhan tahun.

Mentok kembali menjadi titik perhatian karena jejak sejarahnya yang kuat dalam peristiwa Perang Dunia II. Kehadiran keluarga korban dari Australia memberi nuansa emosional tersendiri, mengingat kota kecil di ujung barat Pulau Bangka itu pernah menjadi saksi berbagai peristiwa penting di masa perang.

Baca Juga  Termakan Rayuan Buaya Darat, Remaja di Babar Jadi Korban Pencabulan  

Bupati Bangka Barat, Markus, menilai pertemuan tersebut sebagai momen refleksi bersama, bukan hanya agenda formal pemerintah daerah.

Menurut Markus, sejarah tidak boleh berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi harus menjadi pelajaran bersama lintas generasi dan bangsa.

“Malam ini kita berkumpul dalam suasana penuh kehangatan untuk mempererat tali silaturahmi yang lahir dari sebuah sejarah yang begitu mendalam. Mentok menyimpan jejak peristiwa besar yang pernah menjadi perhatian dunia,” ucapnya.

Dikatakan Markus, mengenang tragedi bukan untuk membuka luka lama, melainkan membangun pemahaman dan empati agar peristiwa serupa tidak terulang.

Baca Juga  Polisi Ringkus Tiga Tersangka Pencuri Sawit, Dua Orang Masih DPO

“Atas nama masyarakat Bangka Barat, khususnya Mentok, saya menyampaikan rasa duka yang mendalam. Namun dari kepedihan masa lalu, kita belajar menumbuhkan semangat kebersamaan dan membangun ikatan kekeluargaan yang kuat,” ujarnya.

Pertemuan itu berlangsung sederhana namun penuh makna. Tidak banyak rangkaian acara formal, lebih banyak dialog santai dan interaksi langsung antara tamu undangan.

Dari meja makan hingga perbincangan ringan, malam itu menjadi pengingat bahwa sejarah bisa menjadi jembatan persahabatan, bukan sekadar lembaran arsip. (oka)

[Heateor-SC]