MENDO BARAT, LASPELA — Buku Arsitektur Pesantren dinilai sangat relevan dan aktual dengan kondisi kepesantrenan saat ini, khususnya dalam menjawab tantangan penguatan sistem nilai dan peradaban pesantren modern.
Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag, dalam kegiatan Bedah Buku Arsitektur Pesantren dan Seminar Guru bertema Guru sebagai Pilar Arsitektur dalam Pembentukan Karakter, yang digelar di Pondok Pesantren Modern Daarul Abror Bangka, Sabtu (7/2/2026).
Rusydi Sulaiman yang juga Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik, Bangka Belitung mengatakan, buku karya Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH tersebut disusun secara sistematis dan memiliki pijakan konseptual yang kuat.
“Buku Arsitektur Pesantren ini sangatlah aktual dengan kondisi kepesantrenan saat ini, khususnya Pondok Pesantren Modern Daarul Abror Bangka sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang banyak mengadopsi dimensi-dimensi yang yang telah diraih oleh penulis buku tersebut,” ujarnya.
Ia menilai, penulis mampu menyuguhkan konsep yang kokoh mengenai sistem nilai dan peradaban Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang diramu dari trilogi buku The Garden of Wisdom.
Menurut Rusydi, keterbukaan Pondok Pesantren Modern Daarul Abror dalam mengundang para profesional dan profesor untuk memberikan penguatan keilmuan merupakan langkah strategis dalam pengembangan pesantren ke depan.
“Daarul Abror harus bergerak secara terstruktur. Marilah kita membaca secara sistematis dan menulis secara konseptual,” pesannya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Daarul Abror Bangka, KH. Sofyan Abu Yamin mengatakan, kegiatan bedah buku dan seminar guru tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas para pendidik di lingkungan pesantren.
“Kita panggil para profesional kepakaran dan para Profesor untuk mengisi kegiatan di Ponpes Modern Daarul Abror, supaya nular/nyelangket keprofesionalan atau pengetahuannya kepada para guru,” kata KH Sofyan.
Ia juga menyampaikan sebuah pesan tentang pentingnya integrasi ilmu dan pengabdian dalam dunia pendidikan pesantren.
“Ilmu harus diperoleh dengan belajar, keberkahan diperoleh dengan mengabdi, dan kebermanfaatan diperoleh dengan taat,” ujarnya.
Sebagai penulis buku, Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH menjelaskan bahwa Arsitektur Pesantren lahir dari kajian mendalam terhadap trilogi karya pimpinan Gontor yang kemudian dianalisis dan diramu menjadi satu buku utuh.
“Buku Arsitektur Pesantren ini muncul berasal dari trilogi buku (dari 3 buku Kiyai Gontor/pimpinan Gontor), yaitu: The Garden of Wisdom, dengan masing-masing kurang lebih 200 an halaman. Di dalamnya mengandung pesan, nasehat, amanat yang kemudian dibaca, dipahami, dianalisis dan dituangkan menjadi satu buku dengan judul “Arsitektur Pesantren” kurang lebih 200-an halaman karya saya saat ini,” jelasnya.
Guru Besar bidang Ilmu Tasawuf dan Aqidah Filsafat Islam dan Deputi Wakil Rektor Bidang Akademik di Universitas Darussalam Gontor itu juga menyebutkan bahwa latar belakang berikutnya terkait buku ini ditulis yakni Gontor telah berkiprah satu abad dan melampaui kategori Pesantren biasa.
Kemudian banyak kajian melihat Gontor secara parsial; kurikulum, disiplin, manajemen.
Selain itu, buku ini berangkat dari kebutuhan membaca Gontor secara utuh dan mendalam, dan Gontor dipahami sebagai nilai sistem makna, dan sistem peradaban.
Kegiatan tersebut diikuti oleh para guru di lingkungan Pondok Pesantren Modern Daarul Abror Bangka sebagai bagian dari upaya penguatan karakter dan kualitas pendidikan pesantren. (mah)









