Opini  

Kampung dan Semangat Berperadaban

Oleh: Rusydi Sulaiman, Guru Besar dalam Kepakaran Bidang Pengkajian Islam ( Islamic Studies IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung & Direktur Madania Center

Avatar photo
Rusydi Sulaiman

Suatu pagi beberapa hari lalu seorang nenek yang tinggal di sebuah dusun di Desa di negeri ini bercerita perihal fakta yang dialaminya, yaitu: kehilangan 1 tabung gas dan kelengkapan dapur lainnya.

Keluhan itu disampaikan kepada isteri pemilik toko sembako salah satu pengurus Masjid Kampung di Desa tersebut.

Selain itu terjadi berturut-turut beberapa kasus pencurian sebelumnya. Belum lagi fakta lain yang mengindikasikan rawannya daerah tersebut.

Dalam hal komunikasi sosial, belum juga sepenuhnya aman. Jangankan fenomena kurang etis dalam berkomunikasi, tapi sikap tidak berakhlak (dek beradat dan dek beradab–Bahasa Melayu Bangka) pun terjadi di tengah masyarakat, bahkan jauh dari kesan bermoral–sangat-sangat mengusik pikiran dan jiwa penduduk setempat.

Wajar saja bila muncul rasa khawatir pada diri mereka akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sembari mempertanyakan sikap pasif aparat desa.

Begitulah bentuk perilaku komunitas tertentu di desa atau kampung tersebut di negeri ini. Bisa jadi di beberapa kampung di daerah lain; tidak mencerminkan budaya dan peradaban baik.

Kebudayaan dimaksud adalah beberapa wujud, yaitu: wujud ideal, wujud kelakuan dan wujud benda. Yang pertama berupa ide, gagasan, pemikiran, faham, teori bahkan ideologi dan idealisme yang bersumber dari akal ( logika); kedua berupa sikap, perilaku, moral, akhlak, etika, kebiasaan dan tradisi serta nilai (value) bersumber dari kalbu; dan yang ketiga berupa wujud material peradaban (high culture).

Wujud-wujud tersebut tidak akan melekat pada pribadi- pribadi yang tidak baik.

Artinya fakta-fakta yang ditunjukkan selama ini tidaklah baik, jauh dari obsesi tokoh-tokoh setempat akan terwujudnya masyarakat utama atau masyarakat Madani (civil society).

Al-Farabi menyebutnya sebagai masyarakat di negara utama (al-Madiinah al-Faadhilah), dan bertolak belakang dengan negara bodoh ( al-Madiinah al-Jaahilah) sebagaimana yang dimaksud penulis.

Tidak sedikit tokoh mengitarinya–guru, ulama, dosen, cendekiawan dan orang berpengaruh. Rasa-rasanya sulit berbuat–menegur, menasehati dan memberi pemahaman atau sebaliknya sengaja membiarkannya berlalu.

Hal itu dilakukan karena komunitas tersebut sulit ditegur, dan juga mereka enggan ditegur; merasa menang dan merasa tidak berdosa. “Rajulun laa yadriy annahu laa yadriy, wa huwa jaahil murakkab” (seseorang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Maka ia sangat bodoh).

Tidak menegur juga ada baiknya, namun “wa dzaalika ad’aful-Iiman” ( itu adalah selemah-lemah iman).

Tingkatkan Kepedulian

Setiap individu di tengah masyarakat mendambakan lingkungan sekitarnya aman dan tertib, kecuali yang tidak waras. Maka dari itu, sikap saling bertegur sapa, saling mengingatkan, saling menghargai dan berempati sangatlah penting.

Siapapun diharapkan memiliki kepedulian terlebih aparat desa. Sikap “Dak Kawa Nyusah” –Bahasa Melayu Bangka (tidak mau peduli urusan orang lain atau malas sekali) perlu diminimalisir.

Maksudnya, terkait dengan lingkungan buruk di daerah tertentu, tingkatkan kepedulian. Bila tidak, maka kejahatan dan perilaku menyimpang bertambah semarak dan menjadi-jadi, dan para pelakunya merasa menang; bangga akan dosanya.

Pertahankan Reputasi Kampung

Kampung tidak sebatas tempat berkumpulnya sekelompok orang atau komunitas tertentu yang disebut masyarakat tak berguna ( crowded community), melainkan mereka menyatu, bermasyarakat dalam kebersamaan karena faktor tertentu dan untuk keberlangsungan kehidupan yang bermakna.

Kampung dimaksud–dalam filosofi kampung di Pulau Bangka–adalah bagian dari kebudayaan warisan pribumi Bangka yang bermula dari memarung hingga terbentuknya kampung dimaksud dan tradisi nganggung.

Begitu nilai kearifan lokal di desa atau kampung mewarnai masyarakat sehingga mereka berbudaya dan berperadaban tinggi. Artinya ketika munculnya kejahatan dan perbuatan menyimpang di sebuah desa atau kampung belakangan ini, maka hal tersebut sangat bertolak belakang dengan hakikat kampung dan segala yang melekat kepadanya.

Reputasi kampung sebagai tempat yang agung mesti dipertahankan. Bangga menjadi orang kampung, pastinya.

Semangat Berperadaban

Berbudaya itu pasti, karena terkandung didalamnya semangat membiasakan diri berbuat baik dan tanamkan nilai-nilai kearifan, lebih spesifik budaya lokal dimana orang kampung tinggal ( menetap).

Namun sebagai bekal lebih, berperadaban menjadi lebih baik, karena hal tersebut identik dengan supremasi wujud benda. Bila disebut peradaban modern, maka ia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Hal tersebut yang membedakan seseorang dengan lainnya–lebih berperadaban (civilized person) selain dua wujud lain dipredikatkan.

Ilmu pengetahuan wajib dibekali, tidak sebatas rasionalisasi; penguatan kompetensi kognitif, melainkan ke arah memperkuat kepribadian dan integritas diri. Setelah itu penguasaan teknologi sebagai bentuk adaptasi dan penyesuaian diri, tidak sebatas konsumsi.

Faktanya, begitu banyak bentuk penyimpangan dan modus kejahatan akibat pemanfaatan salah terhadap ilmu dan teknologi. Seakan-akan berperadaban; pintar dan canggih, tapi hakikatnya tidak demikian karena tidak bersumber dari diri sendiri.

Eksis atau tidaknya sebuah peradaban terkait dengan fenomena manusia berdasarkan kegiatan atau perilakunya.Perilaku muncul dalam dua bentuk, yaitu observable foundation dan non-observable foundation.

Non-observable adalah conceptual foundation, yaitu segala kerangka kerja mental sebagai analogi untuk menjelaskan perilaku tersebut. Peradaban adalah scientific world view pada jiwa individu dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Berikutnya manusia harus berada pada titik kesadaran ( mode-spirutual sehingga memungkinkannya membuat pilihan untuk membuat rancangan untuk mencegah kemusnahan dan berlangsungkan kehidupan yang berperadaban.

Menyemai Generasi Berperadaban

Mengatasi lingkungan buruk disebabkan oleh banyaknya kejahatan dan perbuatan menyimpang seperti yang terjadi di desa atau kampung tertentu di negeri ini sesungguhnya tidaklah mudah.

Langkah strategis sekalipun perlu waktu lama adalah bekal agama dan pendidikan sejak dini bagi anak-anak. Merekalah berikutnya mengambil peran penting wujudkan masyarakat Madani di desa atau kampung di negeri ini. “Innahum fityatun aamanuu bi Rabbihim wazidnaahum hudaa”.

Dukungan semua pihak sudah pasti diperlukan untuk memperadabankan desa atau kampung di lingkungan kita selain penguatan kelembagaan sentra-sentra pendidikan yang sudah hadir sebelumnya. Kampung dan Semangat Berperadaban. Wassalam. (*)

[Heateor-SC]