Hari Amal Bakti(HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia diperingati setiap tanggal 3 Januari, bertepatan dengan hari lahir Kementerian Agama Republik Indonesia pada tahun 1946, tidak lama setelah Indonesia merdeka. Penetapan tanggal ini menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, Kementerian Agama Republik Indonesia telah memikul amanah strategis dalam menjaga kehidupan beragama agar tetap selaras dengan cita-cita kebangsaan, persatuan, dan keadilan sosial.
Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia bukan sekadar penanda usia yang panjang, tetapi juga menjadi ruang refleksi mendalam bagi seluruh jajaran untuk meninjau kembali kiprah, arah, dan kontribusi lembaga ini terhadap kehidupan beragama di Indonesia. Mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju,” HAB ke-80 menjadi panggilan moral sekaligus pengingat bahwa kerukunan merupakan fondasi utama bagi kedamaian serta kemajuan bangsa.
Dalam catatan sejarahnya, kehadiran Kementerian Agama bukan semata lahir dari tuntutan sosiologis,melainkan merupakan kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Republik ini tidak dibangun oleh satu golongan, melainkan oleh sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini.
Para founding fathers Kementerian Agama meletakkan cita-cita besar agar lembaga ini berkontribusi nyata dalam membina kehidupan keagamaan yang damai, sekaligus membuka jalan selebar-lebarnya bagi terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera
Sepanjang tahun 2025, kita telah bekerja keras membangun fondasi “Kemenag Berdampak.” Kita membuktikan bahwa semangat ini bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang hasilnya mulai dirasakan oleh umat. Transformasi digital yang kita lakukan secara masif telah menghadirkan layanan keagamaan yang lebih dekat, transparan, dan cepat.
Kita juga memperkuat fondasi ekonomi umat melalui ribuan pesantren, pemberdayaan ekonomi sosial keagamaan, seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, diakonia, derma/kolekte, dana punia, dana Paramita,dan dana kebajikan. Program-program tersebut tidak hanya mendorong kemandirian lembaga keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara umum.
Kini, umat manusia menghadapi tantangan besar bernama Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kita hidup di era VUCA Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity di mana perubahan berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton. Kita harus memiliki kedaulatan AI.
Jika dahulu para ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah, maka hari ini ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai substansi AI dengan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat,sejuk, dan mencerahkan.
Kita harus memastikan bahwa algoritma masa depan tidak hampa dari nilainilai ketuhanan dan kemanusiaan. AI harus kita kawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan,bukan pemicu disinformasi dan perpecahan.
HAB Kemenag ke-80 juga menjadi momen refleksi atas tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Islam saat ini. Perkembangan teknologi dan media sosial membawa peluang sekaligus tantangan. Informasi yang begitu cepat menyebar sering kali memicu kesalahpahaman dan sikap intoleran. Pendidikan Islam dituntut untuk adaptif, mampu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, serta akhlak yang kuat agar tidak mudah terprovokasi.
Dalam konteks ini, peran Kementerian Agama sangat penting untuk memastikan bahwa pendidikan Islam tetap relevan dengan zaman, tanpa kehilangan nilai dasarnya. Pendidikan Islam harus mampu menjawab persoalan modern, sekaligus menjadi penyejuk di tengah dinamika sosial. Dengan pendekatan moderasi beragama, Kemenag berusaha menghadirkan wajah Islam yang damai, ramah, dan mencerdaskan.
Kerukunan dan sinergi juga harus tercermin dalam pelayanan publik. Kementerian Agama melayani seluruh umat beragama tanpa membeda-bedakan. Layanan keagamaan, pendidikan, dan pembinaan umat harus dilakukan dengan prinsip keadilan dan keterbukaan. Sikap ini sejalan dengan pendidikan Islam yang mengajarkan keadilan sebagai nilai utama dalam kehidupan sosial.
Namun, keberhasilan menjaga kerukunan tidak bisa hanya dibebankan kepada Kementerian Agama. Masyarakat juga memiliki peran besar. Pendidikan Islam mengajarkan bahwa setiap individu adalah pendidik bagi lingkungannya. Sikap dan perilaku sehari-hari menjadi contoh nyata bagi orang lain. Jika setiap orang mampu menjadi teladan dalam menjaga kerukunan, maka harmoni sosial akan terwujud dengan sendirinya.
Secara operasional, moto “Amal Bakti & Ikhlas Beramal” diimplementasikan ke dalam “5 Budaya Kerja” Kementerian Agama yang meliputi; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab, dan keteladanan. Integritas bermakna keselarasan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar.
Profesionalitas berarti bekerja secara disiplin, kompeten dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Inovasi berarti menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Tanggung jawab bermakna bekerja secara tuntas dan konsekuen. Keteladanan bermakna menjadi contoh yang baik bagi orang lain.
Tentu saja, kelima budaya kerja tersebut bukan sekedar slogan yang hanya dihafal dengan yel-yel tertentu. Yang terpenting, bagaimana kelima budaya kerja tersebut menjadi karakter setiap pegawai Kementerian Agama dalam menjalankan tugasnya melayani umat.
Hari Amal Bakti ke-80 harus menjadi titik tolak untuk mempertegas kembali jati diri Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai lembaga yang melayani umat dengan sepenuh hati. Melalui pemaknaan Hari Amal Bakti sebagai momentum pembaruan, Kementerian Agama Republik Indonesia dapat tampil lebih adaptif, inovatif, dan dekat dengan masyarakat.
Jika momentum ini benar-benar dimanfaatkan, Kementerian Agama Republik Indonesia bukan hanya mampu bertahan di tengah perubahan kelembagaan nasional, tetapi juga bangkit sebagai institusi yang semakin relevan, terpercaya, dan strategis bagi masa depan Indonesia. Dengan umat yang rukun dan bersinergi, Indonesia akan terus melangkah sebagai bangsa yang damai, kuat, dan maju.
Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80. Semoga Kementerian Agama Republik Indonesia terus meneguhkan pengabdiannya dalam merawat umat yang rukun dan bersinergi, sehingga Indonesia senantiasa tumbuh sebagai bangsa yang damai dan maju.(*)







Leave a Reply