Hari Ibu ke 79, Perempuan HKTI Pangkalpinang Dorong Perlindungan Anak dan Kesetaraan Gender Lewat Seminar 

Avatar photo
Cece Dessy saat menghadiri seminar motivasi publik untuk Perlindungan Perempuan, Minggu (21/12/2025).

PANGKALPINANG, LASPELA – Dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-79, perempuan HKTI Kota Pangkalpinang menggelar seminar motivasi publik yang menyoroti isu kekerasan terhadap perempuan dan anak serta pentingnya kesetaraan gender.

Kegiatan ini mendapat apresiasi tinggi dari Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan modern.

“Hari ini kegiatan seminar motivasi publik terhadap perlindungan perempuan sangat luar biasa. Ibu-ibu dan komunitas perempuan menunjukkan semangat tinggi untuk menambah wawasan dan kemampuan diri. Ini perlu kita apresiasi dan gaungkan,” ujar Dessy, Minggu (21/12/2025).

Menurutnya, perempuan kini telah melampaui peran tradisional yang berkutat pada dapur, sumur, dan kasur, dan telah merambah ke sektor ekonomi, politik, sosial, budaya, serta lingkungan.

Dessy menegaskan, budaya patriarki tidak lagi menjadi penghalang bagi perempuan untuk mengambil peran lebih aktif dalam masyarakat.

“Perempuan harus tetap dihormati, tetapi juga harus punya peran sendiri dan terus meningkatkan keterampilan serta kualitas diri. Keterwakilan perempuan dalam politik, misalnya, sudah semakin baik. Di Provinsi Bangka Belitung mencapai sekitar 20%, sementara di tingkat nasional, 129 dari 500-an anggota legislatif adalah perempuan,” jelasnya.

Wakil Wali Kota juga menyoroti kolaborasi pemerintah dengan lembaga terkait untuk memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak.

“Kami memiliki hotline Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, PPA Kota, serta bekerja sama dengan kepolisian untuk memudahkan masyarakat melaporkan kekerasan. Advokasi dan edukasi melalui lembaga hukum serta pemerintah sangat penting agar korban merasa aman dan tahu langkah yang harus ditempuh,” tambah Dessy.

Sementara itu, Ketua HKTI Kota Pangkalpinang, Herlia Andita, yang menyoroti masih maraknya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, termasuk di lingkup keluarga.

Menurutnya, banyak kasus pelecehan seksual ditutup-tutupi karena rasa malu keluarga, sehingga korban tidak mendapat perlindungan yang layak.

“Banyak ibu yang menutup kasus meskipun anaknya diperkosa oleh bapak kandung atau bapak tiri. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua. Bapak kandung harus kita ‘cut’. Jika tidak berani menindak, pelecehan seksual dan kekerasan rumah tangga akan terus terjadi,” tegas Herlia.

Ia menekankan pentingnya keberanian melapor agar korban tidak terus menjadi korban, dan masyarakat memahami prosedur hukum yang tersedia.

Herlia juga menggarisbawahi pentingnya kesetaraan gender. “Perempuan sekarang lebih maju, mandiri, dan bahkan ada yang menjadi tulang punggung keluarga.

Kesetaraan gender bukan berarti menolak laki-laki, tetapi saling menghargai. Perempuan mampu dan tidak lemah, namun tetap menghargai peran laki-laki,” ujarnya.

Dalam tindak lanjut, HKTI berencana melakukan edukasi dan sosialisasi terkait perlindungan hukum dan prosedur pelaporan bagi korban kekerasan.

Kegiatan ini akan melibatkan pihak kepolisian, PPA, serta lembaga hukum lain agar masyarakat yang menghadiri seminar dapat mengetahui tahapan melaporkan kekerasan dan mendapatkan perlindungan yang tepat.

Kegiatan ini mencerminkan upaya kolaboratif antara pemerintah kota dan komunitas perempuan dalam meningkatkan kesadaran publik, mendorong keberanian untuk melapor, dan memperkuat perlindungan bagi perempuan dan anak di Kota Pangkalpinang. (dnd).

 

[Heateor-SC]