Home / BANGKA BELITUNG / Sejarah Cual (2) > Naga Bertarung Hingga Burung Hong

Sejarah Cual (2) > Naga Bertarung Hingga Burung Hong

MENENUN kain Cual, awalnya merupakan tradisi kekriyaan bangsawan di Muntok yang bergelar “Abang” dan “Yang”, terutama perempuan keturunan dari Ence’ Wan Abdul Hayat (Lim Tau Kian), jadi tidak mengherankan bila beberapa motif Cual mendapat pengaruh Cina sepert Naga Bertarung, Burung Hong, dan motif Kembang Cina.

Pada sekitar abad 18 Masehi, tenun Cual merupakan salah satu kriya etnik nusantara yang memiliki fungsi religius, untuk upacara, kepentingan magis dan untuk fetish. Fungsi primer dari tenun Cual adalah sebagai pakaian kebesaran bangsawan di Bangka, pakaian pengantin atau upacara yang berhubungan dengan daur kehidupan (life cycle) dan pakaian pada hari-hari kebesaran Islam dan adat lainnya, sebagai hantaran pengantin ataupun sebagai mahar pada acara nyurung barang yang langsung menggambarkan status sosial (pangkat dan kedudukan) seseorang pada masa itu.

Cual sendiri berasal dari kata “celupan awal” pada benang yang akan diwarnai. Tenun Cual merupakan perpaduan antara teknik sungkit (songket) dan tenun ikat, namun yang menjadi ciri khasnya yang mendasar adalah pada susunan motif yang menggunakan teknik tenun ikat, hal inilah yang menjadikan tenun Cual sebagai kriya etnik Melayu Bangka dan membedakan dengan jenis tenunan dan songket dari etnis lainnya di nusantara.

Jenis motif tenun Cual antara lain dengan susunan motif bercorak penuh (penganten bekecak), dan motif ruang kosong (jande bekecak), dengan ide garapan motif yang digali dari kekayaan flora dan fauna lokal di pulau Bangka. Khusus untuk motif fauna biasanya ditenun dengan disamarkan mengingat orang Bangka yang beragama Islam.

Dari dua jenis motif tersebut terkandung makna simbolik dan filosofis yang mendalam bagi pemakai dan orang yang memandangnya. Kehalusan tenunan, tingkat kerumitan motif, ide garapan yang dipakai dan warna pada tenun Cual mengandung makna filosofi hidup, hasil kontemplasi perjalanan religi dan budaya penenunnya dan sebagai lambang identitas serta karakter budaya Melayu Bangka.

Tenun Cual sangat terkenal karena tekstur kainnya yang begitu halus, adanya harmoni antara sungkit, ikat dan motif sehingga tidak ada sesuatu yang dominan dari yang lain, warna celupan benangnya tidak berubah, dan ragam motif seakan timbul jika dipandang dari kejauhan sebagai simbol masyarakat Melayu Bangka yang rendah hati dan selalu menjaga marwah.

Berbagai motif tenun Cual lama yang saat ini tersisa dan tersimpan dengan baik antara lain seperti motif Bebek-bebek, Naga Bertarung, Burung Hong, Kembang Cina, Seroja atau Lotus, Teratai, Kembang Cempaka dan Kembang Gajah, Garuda, Lebah dan Kembang Pelawan, Ketuyut atauKantung Semar atau merupakan kombinasi dari motif-motif tersebut.

<<Sebelumnya          Selanjutnya>>

(Sumber dikutip dari buku Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung, Akhmad Elvian, Tahun 2015)

About Isromi LASPELA

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: