Home / BANGKA BELITUNG / Sejarah Cual (1) > Perempuan Bangka Penenun Hebat

Sejarah Cual (1) > Perempuan Bangka Penenun Hebat

Pada tahun 1803 Masehi Sultan Kesultanan Palembang Darussalam Muhammad Bahauddin (masa pemerintahan tahun 1776-1803 Masehi) digantikan oleh Raden Hasan bergelar Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin II (masa pemerintahan 1803-1821 Masehi) dan kekuasaan atas pulau Bangka penguasaannya diserahkan kepada Abang Muhammad Tajib bergelar Tumenggung Kerta Wijaya (anak Abang Ismail bergelar Tumenggung Kerta Menggala).

Dalam Semaian 2, Carita Bangka, Het Verhaal van Bangka Tekstuitgave Met Introductie en Addenda, E.P. Wieringa,1990, Vakgroup Talen en Culturen van Zuidoost-Azie en Oceanie Rijksuniversiteit te Leiden, halaman 119, dinyatakan ”…Tumenggung Kerta Wijaya dan di bawahnya satu saudaranya dari Tumenggung Kerta Menggala nama Abang Muhammad Saleh diangkat serta digelar rangga citra nindiata dan anak dari datuk Kumbang bernama abang Yunus diangkat serta digelar demang wirada perana, di bawahnya satu iparnya nama abang Muhammad menjadi jurutulis”.

Bersamaan dengan pengangkatan jabatan tumenggung diangkat juga oleh Sultan Palembang Darussalam Sultan Susuhunan Mahmud Badaruddin II seorang depati di pulau Bangka yaitu Bahrin (putera Depati Karim atau Depati Anggur) sebagai penguasa di daerah Djeroek (menurut H. Amsan A. Rahman Jr dalam makalah Perjuangan Depati Bahrin dan Perlawanan Amir Terhadap Belanda di Bangka, Depati Bahrin lahir antara tahun 1770-1775 Masehi).

Pada tanggal 20 Mei 1812 Masehi, pasukan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Robert Rollo Gillespie menguasai Kota Muntok dan kemudian memproklamirkan, bahwa Inggris berkuasa atas pulau Bangka serta mengubah nama pulau Bangka menjadi Duke of York’s Island dan nama Muntok diubah menjadi Minto untuk kehormatan bagi Sir G. Elliot Earl of Minto, seorang gubernur jenderal Inggris di India.

Pada masa pemerintahan residen Inggris Mayor MH Court, jabatan tumenggung di pulau Bangka yang berkedudukan di Kota Muntok dihapuskan dan wilayah administrasi pemerintahan dan pertambangan di pulau Bangka dibagi atas tiga divisi yaitu pada bagian Utara pulau Bangka (northern division) terdiri atas 4 stocade, wilayah bagian Barat pulau Bangka (western division) terdiri atas 5 stocade dan terakhir wilayah bagian Selatan Timur pulau Bangka (south east division) yang meliputi hampir separuh pulau Bangka terdiri atas Pangkalpinang (stocade of Pangkal Penang), Sungaiselan (Godong Selan), Bangkakota (Old Settlement of Banko Kotlo), Koba (Koba), Paku (Pakoo), Permis (Permissang), Olim (Oolim), dan Toboali (stocade of Tooboo-alie) (Elvian, 2012: 64-65).

Pemerintahan di Kota Minto (Muntok) setelah dihapuskannya jabatan tumenggung kemudian diatur oleh residen Inggris Mayor MH Court yaitu, diserahkan kepada Abang Muhammad Saleh, bergelar rangga citra nindiata diberi wilayah kekuasaan atas Kampoeng Keranggan, kemudian kepada Abang Yunus bergelar demang wirada perana diberi wilayah kekuasaan atas Kampoeng Pemuhun dan Kampoeng Patemun (Kampung Teluk Rubiah), dan selanjutnya kepada Abang Muhammad yang menjadi jurutulis diberi wilayah kekuasaan atas Kampoeng Jiran-Peranakan dan Kampoeng Siantan (Kampung Tanjung), serta kepada Abang Abdul Raoef bin Abang Tawi (pemimpin orang-orang Muntok yang pindah ke Lingga dan Singkep) yang kemudian membantu Inggris dalam menaklukkan Palembang diberi kekuasaan atas Kampoeng Pekauman Dalam.

 

<<Sebelumnya          Selanjutnya>>

(Sumber dikutip dari buku Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung, Akhmad Elvian, Tahun 2015)

About Isromi LASPELA

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: