Babel Masuk Tiga Besar Tingkat Kerusakan Gigi Anak, PDGI dan Dinkes Pangkalpinang Luncurkan UKGS

Avatar photo
Ketua PDGI Cabang Pangkalpinang, drg. Widyanita, Minggu (7/12/2025).

PANGKALPINANG, LASPELA – Tingginya angka kerusakan gigi pada anak usia sekolah di Pangkalpinang dan Bangka Belitung telah menarik perhatian serius dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Pangkalpinang.

Ketua PDGI Cabang Pangkalpinang, drg. Widyanita Wahab mengungkapkan jika Bangka Belitung menempati peringkat tiga besar nasional dalam hal kerusakan gigi pada anak.

Menurut drg. Widyanita, masalah ini bukan hanya soal kebersihan gigi, tetapi juga terkait langsung dengan masalah gizi dan kesehatan anak.

“Kerusakan gigi pada anak adalah masalah serius. Gigi yang rusak atau hilang memengaruhi kemampuan anak untuk mengunyah dengan baik, yang pada gilirannya memengaruhi penyerapan nutrisi. Kondisi ini berisiko memperburuk stunting, yang masih menjadi masalah kesehatan serius di beberapa daerah di sini,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).

Ia juga mengungkapkan, bahwa meskipun kerusakan gigi pada anak sudah menjadi perhatian utama, pemahaman orang tua tentang pentingnya kesehatan gigi masih sangat minim.

Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa perawatan gigi yang tepat sejak dini dapat mencegah berbagai masalah kesehatan jangka panjang.

Salah satu wilayah yang menunjukkan dampak nyata dari kerusakan gigi adalah Air Itam, yang juga merupakan salah satu lokus stunting di Pangkalpinang.

Di wilayah ini, banyak anak yang mengalami masalah gigi, yang memperburuk status gizi mereka.

Untuk mengatasi hal ini, PDGI bersama dengan Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kota Pangkalpinang telah meluncurkan berbagai inisiatif.

Salah satunya adalah program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS), yang melibatkan tenaga kesehatan dari puskesmas untuk memberikan edukasi kepada siswa mulai dari TK hingga SMP.

“Kami terus mendorong agar anak-anak sejak usia dini sudah mendapatkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi mereka. Di tingkat SMA/SMK, kami lebih fokus pada skrining gigi, karena banyak anak sudah memasuki fase gigi permanen,” tambah drg. Widyanita.

Terkait isu kualitas air di Bangka Belitung yang diketahui memiliki pH asam akibat kandungan timah, drg. Widyanita mengonfirmasi bahwa meskipun air dapat berpengaruh terhadap kesehatan gigi, penyebab utama kerusakan gigi tetap berasal dari kebiasaan hidup.

“Yang lebih penting adalah kebiasaan menyikat gigi yang harus dilakukan setiap hari. Tanpa itu, kerusakan gigi akan terus meningkat, terlepas dari kondisi air di daerah ini,” tegasnya.

Melalui program-program edukasi yang sedang dijalankan, PDGI berharap dapat mengurangi angka kerusakan gigi dan memperbaiki status gizi anak-anak di Pangkalpinang.

Upaya bersama ini diharapkan dapat menurunkan prevalensi stunting yang masih menjadi masalah kesehatan utama di wilayah ini, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak usia dini. (dnd)

 

Leave a Reply