PANGKALPINANG, LASPELA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 sebagai momentum refleksi perjalanan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sepanjang 2025 sekaligus proyeksi kondisi 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”, Jumat (28/11/2025) malam.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Beny Okta Tutuarima mengatakan kegiatan ini merupakan agenda tahunan Bank Indonesia untuk menyampaikan pandangan terkini mengenai kondisi perekonomian global, nasional, dan regional, termasuk tantangan dan prospek ke depan, serta arah kebijakan strategis Bank Indonesia.
“Pertemuan ini dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, organisasi perangkat daerah, pimpinan perbankan, pelaku usaha, akademisi, dan media,” ujarnya.
Beny menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir. Ia menegaskan bahwa sinergi menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan ekonomi di Bangka Belitung.
“Kehadiran para tamu undangan mencerminkan sinergi dan kolaborasi nyata antara Bank Indonesia dengan berbagai pihak untuk bersama-sama membangun dan memajukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ucapnya.
Dijelaskan Beny, pertumbuhan ekonomi menguat di 2025, dimana perekonomian Bangka Belitung menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 mencapai 3,21 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 0,13 persen.
Pertumbuhan ekonomi Babel tersebut terutama ditopang oleh sektor perdagangan, informasi dan komunikasi, serta pertanian. Dalam satu dekade terakhir, sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan menjadi struktur utama perekonomian daerah.
Menurut Beny, arah kebijakan BI selaras dengan arahan Gubernur Bank Indonesia serta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menekankan penguatan ekonomi nasional.
“Ke depan, sinergi dan kolaborasi kebijakan antara daerah dan nasional, termasuk antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia, diharapkan mampu mengakselerasi transformasi ekonomi dan menjaga stabilitas,” ungkapnya.
Lanjuy Beny, konsumsi dan ekspor masih dominan hal ini dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tercatat konsisten menjadi penopang utama pertumbuhan, bersama ekspor dan investasi.
“Komoditas unggulan seperti timah, crude palm oil (CPO), dan perikanan turut mendorong perbaikan ekonomi Babel sepanjang 2025,” terangnya.
Dengan optimisme menyongsong 2026, ia menekankan pentingnya optimalisasi potensi lokal untuk mendorong ekspor, menarik investasi, membuka lapangan kerja, serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, meski inflasi terkendali, kewaspadaan harus ditingkatkan dimana inflasi Bangka Belitung hingga Oktober 2025 berada di level rendah dan stabil, yakni 2,51 persen. Meski demikian, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi tekanan inflasi menjelang akhir tahun, terutama terkait harga pangan dan kondisi cuaca.
“Ke depan, sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan tujuh program unggulan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Daerah (GNPID). Ini merupakan komitmen kami bersama pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan dan kemandirian pangan di Bangka Belitung,” tutupnya. (chu)







Leave a Reply