Belum lama–beberapa hari yang lalu, Presiden Prabowo Subianto melalui salah satu menterinya mengukuhkan beberapa tokoh tertentu sebagai pahlawan nasional–sebuah kebijakan strategis dalam konteks mengenang dan mengapresiasi sejarah masa lalu.
Namun semangat tersebut tidak semuanya diamini, melainkan penetapan satu-dua tokoh dikritik bahkan sempat menjadi polemik di kalangan tertentu. Mengapa Si Pulan, Kok bukan yang lain?
Kesangsian tersebut bisa jadi benar bila syarat keterpenuhannya sebagai pahlawan nasional belum cukup atau terlalu dipaksakan karena tendensi tertentu?
Mudah-mudahan pemerintah sudah memiliki standar khusus dalam menilai hingga menetapkan tokoh-tokoh tertentu sebagai pahlawan nasional di negeri ini.
Lalu siapakah pahlawan sesungguhnya? Pastinya siapapun yang berjasa, dan jasanya dikenang orang-orang atau generasi sesudahnya, disebut pahlawan.
Ia adalah sosok yang membangkitkan jiwa banyak orang sehingga mereka termotivasi melangkah ke arah yang lebih baik sambil meneladaninya, bahwa seorang pahlawan wajar ditokohkan.
Seseorang disebut pahlawan karena keterpenuhan syarat-syarat tertentu dalam dirinya: kekuatan kepribadian, integritas diri, kekuatan wujud ideal dan penguasaan bidang keahlian tertentu yang kemudian diakui oleh masyarakat luas.
Pahlawan nasional dalam perspektif negara misalnya dapat dikukuhkan karena beberapa pertimbangan.
Bila ada kritik, maka hal itu wajar dan dimaklumi karena pengkritik memiliki sudut pandang berbeda dan atau mungkin ada pertimbangan lain. Jangan- jangan juga tendensius dan sangat emosional!
Bila kita sebut bahwa ada pahlawan di rumah kita, maka ia adalah orangtua kita, apakah ibu ataupun ayah.
Ibu melahirkan anak-anaknya, lalu bersama ayah keduanya membesarkan mereka hingga berhasil dan menjadi generasi berkualitas.
Bayangkan bila kedua orangtua tidak menyertai kehidupan kita, dipastikan hampa ( tidak bermakna).
Bersyukurlah akan keberadaan dan peran keduanya. Orangtua adalah pahlawan dan mengalahkan pahlawan manapun.
Lebih spesifik seorang ibu, karena kekuatan kepribadiannya, maka ia disebut Guru Utama “”al-Ummu ustaadzatul-Asaatidzah””Al-Ummu Madrasatul-Uulaa” ( ibu adalah sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Hormatilah orangtua karena mereka pahlawan sesungguhnya.
[19/11, 09.51] Abi Rusydi Rusydi: Perjuangan dan pengorbanan orangtua tiada Tara, tiada siapapun yang mampu menandinginya.
Maka logis sekali bila ada perkataan; “Satu ibu mampu mengurus sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu mampu mengurus satu ibu”.
Itulah kekuatan kepahlawanan orangtua–sangat dirasakan oleh anak-anaknya.
Selanjutnya orangtua yang pahlawan pastinya melahirkan pahlawan. Pahlawan memberi sentuhan tersendiri–membesarkan orang-orang disekitarnya.
Siapapun bisa menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri ketika ia memahami hakikat kepahlawanan itu sendiri–memiliki jati diri, adanya kepastian sikap dan prinsip hidup serta berwawasan luas, lebih spesifik kompeten di bidang keahlian tertentu.
Keberadaan dirinya diakui dan diapresiasi masyarakat. “Baik jadi orang penting, tapi lebih penting jadi orang baik”. Sentuhan kebaikannya menyebar untuk tujuan kemaslahatan. Sekali lagi, pahlawan adalah sosok yang dirasakan.
Seorang anak disebut pahlawan bila ia tegar dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain. “Innal-Fataa man Yaquulu haa Ana dzaa, wa laisal-Fataa man Yaquulu kaana Abiy” (sesungguhnya pemuda adalah yang mengatakan: ‘ inilah saya”, dan bukanlah pemuda yang mengatakan:”ini ayah saya”)–sebuah hikmah yang bertujuan meneguhkan jiwa setiap orang, terkhusus anak untuk menjadi diri sendiri (be yourself) sekaligus pahlawan. Wassalam.(*)







Leave a Reply