PANGKALPINANG, LASPELA – Antrean kendaraan mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pangkalpinang dan Sungailiat sejak beberapa hari terakhir. Pengendara terpaksa menunggu lama, bahkan ada yang pulang dengan wajah kecewa, ketika ketersediaan bakan bakar sudah habis.
Di beberapa SPBU, Pertamax tidak tersedia sama sekali, sementara Pertalite kian diburu sehingga antrean semakin memadati bahu jalan. Kondisi ini memicu keluhan warga yang merasa tidak mendapat kepastian terkait pasokan bahan bakar.
“Ini ada apa sebenarnya? Beberapa hari ini susah banget mendapatkan BBM, antreannya panjang, eceran nggak ada,” keluh Dimas, salah satu pengendara roda dua.
Ia menilai, jika terkendala cuaca buruk, semestinya Pertamina bisa melakukan antisipasi karena kondisi ini terjadi setiap tahun. Mestinya, bisa dilakukan langkah sebelum terkendala pengangkutan.
“Kalau karena cuaca, kan ini setiap tahun seperti ini. Berkaca dari tahun sebelumnya, jika cuaca buruk mestinya dilakukan antisipasi dong, lagi pula sekarang belum terlalu buruk juga sepertinya cuaca, ini ada apa?” ujarnya memperytanyakan.
Tidak hanya itu, kelangkaan di SPBU membuat harga eceran BBM di tingkat pedagang melonjak tajam. Di beberapa titik, Pertalite dijual jauh di atas harga normal, bahkan ada yang Rp15.000/ liter dari harga biasanya Rp12.000/ liter, namun tetap diburu warga yang membutuhkan untuk bekerja.
Doni, warga Pangkalbalam mecurigai kekurangan bahan bakar ini dikarenakan bbm bersubsidi digunakan untuk aktivitas pertambangan, penyalahgunaan ini memicu kurangnya bbm yang digunakan masyarakat.
“Harusnya kalau untuk usaha kan gunakan bbm industri jangan subsidi,” tegasnya.
Ia menilai, baik pemerintah maupun Pertamina tidak melakukan antisipasi untuk menyikapi kondisi tahunan yang terus berulang ini. Masyarakat sambungnya, tak butuh maaf atau pembelaan dari pejabat hingga kepala daerah, masyarakat hanya butuh kelancaran dan ketersediaan.
“Orang Bangka ni paling enak ngurusnya, walaupun katanya harga naik yang penting stoknya ada, barangnya ada, kalau nggak bisa beli banyak mereka beli sedikit, tapi kalau sudah barangnya kosong, ini yang bikin murka,” cecarnya kesal. (rul)







Leave a Reply