PANGKALPINANG, LASPELA – Cokelat CandU, industri cokelat artisan pertama di Bangka Belitung, menerima bantuan dari Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat yaitu bantuan berupa mesin pengolahan cokelat.
Tidak hanya itu, sebanyam 300 bibit kakao, dan 35 karung pupuk petani melalui komunitas KOKOA (Komunitas Kovertur Bangka) yang diharapkan menjadi langkah penting dalam pengembangan industri kakao lokal dan pemberdayaan petani.
Merinda Haris, Owner Cokelat CandU sekaligus Ketua KOKOA, menyampaikan rasa syukurnya atas kepedulian UBB yang nyata terhadap pengembangan industri kakao di Bangka Belitung.
“Tentunya kami sangat senang sekali mendapatkan bantuan ini, karena saya merasa UBB dalam hal ini akademisi sangat peduli tentang industri cokelat yang ada di Bangka. Aksi kepedulian ini tertuang dalam aksi nyata berupa bantuan mesin, bibit, dan juga pupuk untuk komunitas kakao,” katanya, Jumat (29/8/2025).
Sehingga memang kepeduliannya tergambarkan dalam aksi nyata karena kita sedang membangun industri cokelat di Bangka Belitung, ingin menggarap potensi kakao di Babel.
Ia menjelaskan bahwa komunitas KOKOA telah berkembang dari awalnya 30 anggota menjadi 30–40 orang saat ini, dengan bertambahnya petani baru yang mulai bergabung.
“Harapannya saya ingin akan lebih banyak lagi yang peduli dengan kakao, bukan hanya UBB saja, tapi akan banyak sekali pihak yang peduli dengan kakao—bukan hanya satu atau dua pihak, tapi kita bersama-sama se-Babel bergerak memajukan kakao,” tambahnya.
Dr. Reniati, Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi UBB dan Ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Cabang Bangka Belitung, menyampaikan bahwa pengembangan komoditas seperti kakao menjadi sangat penting untuk ketahanan ekonomi daerah yang selama ini masih bergantung pada sektor tambang.
“Kita melihat dari struktur ekonomi kita, pertama itu distribusi pengolahan kita itu 21 persen dengan didominasi oleh timah. Kemudian yang kedua baru lapangan usaha pertanian dan perdagangan serta ritel. Jadi kita melihat 2024 ketika tata kelola timah kita bermasalah, ternyata perekonomian kita langsung turun 0,77 persen. Ini membuktikan bahwa ketika kita menaruh semua telur dalam satu keranjang, itu berbahaya. Kita harus membuka semua peluang komoditas unggulan yang tidak hanya timah,” jelas Reniati.
Ia menilai bahwa cokelat memiliki potensi besar sebagai komoditas pangan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.
“Saya melihat kenapa cokelat? Karena saya melihat ini adalah salah satu komoditas pangan, dan gilirasisasi (hilirisasi) itu menurut saya lebih powerful dibandingkan hilirisasi mineral. Kenapa? Karena penduduk kita itu masih banyak petani. Jadi ketika kita fokus pada hilirisasi pangan, maka kita mensejahterakan masyarakat kita secara luas,” ujarnya.
Kedua, pihaknya juga memberikan nilai tambah dan lebih sustainable di pertanian, dan ketiga, kita lebih memiliki ketahanan pangan yang kuat.
Sebagai bagian dari kegiatan ini, Merinda Haris juga menjadi narasumber dalam sesi pelatihan bertajuk “Strategi Pemasaran Berbasis Digital pada Pelaku UMKM dan Petani Kakao” yang diadakan oleh Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi UBB.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas para petani dan pelaku UMKM dalam memasarkan produk kakao secara digital. Reniati juga menekankan keunikan produk Cokelat CandU yang low sugar dan lebih sehat.
“Cokelat disukai banyak orang, baik anak-anak maupun orang tua, dan banyak sekali manfaatnya, bahkan bagi penderita gangguan kesehatan mental, cokelat bisa membantu mengurangi stres. Dan cokelat yang dikembangkan Cokelat CandU ini punya keunikan dengan kandungan mineralnya yang lebih unik dari yang lain. Kedua, dia low sugar dan itu lebih healthy. Untuk itu, saya melihat bahwa harganya juga semakin meningkat dan petani juga bisa fokus ke cokelat,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Masyarakat DIKTI, yang digagas oleh tim dosen Universitas Bangka Belitung:
• Dr. Reniati, S.E., M.Si
• Dr. Devi Valeriani, S.E., M.Si
• Dr. Rostiar Sitorus, S.P., M.PSi
Kolaborasi antara Cokelat CandU dan UBB ini menjadi langkah awal untuk menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan di Bangka Belitung. (dnd)
Leave a Reply