Scoot Buka Rute Internasional ke Belitung, Harga Tiket Mulai Rp400 Ribu

PANGKALPINANG, LASPELA — Kabar baik bagi pariwisata Indonesia, khususnya di Belitung. Maskapai berbiaya rendah Scoot resmi membuka rute internasional baru yang menghubungkan Singapura dengan Belitung dan Pontianak mulai Mei hingga Juni 2026.

Langkah ini tidak hanya memperluas jaringan penerbangan, tetapi juga menjadi sinyal kuat kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi daerah di Kepulauan Bangka Belitung.

Rute Singapura–Belitung dijadwalkan mulai beroperasi pada awal Mei 2026 dengan frekuensi dua kali seminggu menggunakan pesawat Embraer E190-E2. Sementara itu, rute Singapura–Pontianak akan menyusul pada akhir Juni 2026 dengan tiga kali penerbangan per minggu.

Dengan dibukanya jalur ini, wisatawan mancanegara kini memiliki akses lebih mudah dan langsung menuju Belitung tanpa harus transit panjang. Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan kunjungan turis asing, terutama dari Singapura dan sekitarnya.

Harga tiket pun terbilang kompetitif. Untuk rute Singapura–Belitung, tarif mulai dari sekitar Rp1,3 juta sekali jalan, sedangkan dari Belitung ke Singapura bahkan mulai dari kisaran Rp400 ribuan.

Bupati Belitung, Djoni Alamsyah, menyambut positif pembukaan rute ini. Ia optimistis penerbangan internasional akan memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kepercayaan diri daerah di mata dunia.

“Ini akan menguatkan perekonomian kita serta kesempatan kita untuk tampil lebih percaya diri di tingkat internasional. Kekuatan terbesar Belitung bukan pada bangunan megah, tetapi keasrian alam yang harus kita jaga,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran rute ini bukan sekadar soal transportasi, tetapi juga kesiapan menyeluruh daerah dalam menyambut wisatawan, mulai dari pelayanan, keramahan masyarakat, hingga kualitas destinasi.

Pihak Bandara H.AS Hanandjoeddin juga menyatakan kesiapan penuh. Executive General Manager bandara, Hernindya Arie, menyebutkan berbagai pembenahan tengah dilakukan.

Mulai dari peningkatan fasilitas terminal dengan sentuhan budaya lokal Belitung, hingga perbaikan sisi operasional seperti apron untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penerbangan.

“Kami ingin menghadirkan identitas lokal dalam wajah bandara, namun tetap modern,” tutupnya. (rul/*)