Ekonomi Babel Tumbuh 4,09 Persen, BI Ajak Semua Pihak Perkuat Sinergi Hadapi 2026

Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Bangka Belitung yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Bangka Belitung memaparkan perkembangan ekonomi dan inflasi daerah.

PANGKALPINANG, LASPELA — Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 2025 tumbuh 4,09 persen. Di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlanjut, Bank Indonesia (BI) mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi agar pertumbuhan ekonomi daerah tetap terjaga pada 2026.

Hal ini ditekankan dalam diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Triwulan I 2026 untuk memaparkan perkembangan ekonomi dan inflasi daerah sekaligus memperkuat sinergi menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas kondisi ekonomi Bangka Belitung serta langkah strategis menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengatakan kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai economic advisor bagi pemerintah daerah.

“Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas perkembangan ekonomi Bangka Belitung secara triwulanan sekaligus mempersiapkan agenda besar di akhir tahun, yakni Babel Economic Forum,” kata Rommy.

Ia menyebutkan perekonomian Bangka Belitung pada 2025 tumbuh 4,09 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang sejumlah sektor utama seperti pertanian, perdagangan, perikanan, pariwisata, ekonomi syariah, serta UMKM.

Selain itu, konsumsi rumah tangga dan akselerasi investasi juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tetap terjaga menunjukkan ekonomi Bangka Belitung terus bergerak ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sektor keuangan, kinerja perbankan di Bangka Belitung juga menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit pada Januari 2026 tercatat tumbuh 15,77 persen secara tahunan, sementara dana pihak ketiga meningkat 4,53 persen dengan rasio kredit bermasalah yang masih terjaga di level 2,84 persen.

Perkembangan digitalisasi sistem pembayaran juga terus meningkat. Jumlah pengguna QRIS telah mencapai 232.288 pengguna, dengan nilai transaksi tumbuh 113,31 persen dan volume transaksi meningkat hingga 164 persen.

Rommy menambahkan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah tantangan pasokan di kawasan Sumatera.
Ia pun mengajak seluruh pihak menjaga optimisme dan memperkuat sinergi agar perekonomian daerah terus tumbuh.

“Optimisme, komitmen, dan sinergi harus terus kita jaga agar ekonomi Bangka Belitung dapat terus berkembang dan semakin kuat ke depan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ekonom Strategis Bank Danamon, Hosianna E. Situmorang, menekankan pentingnya semangat OKS (Optimisme, Komitmen, dan Sinergi) dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global pada 2026.

Ia menyebut perekonomian global masih dibayangi berbagai risiko, mulai dari dinamika politik internasional hingga ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.

Karena itu, menurutnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Ia mengatakan tekanan global terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah dari sekitar Rp16.200 per dolar AS pada awal 2025 hingga mendekati Rp17.000.

“Ketidakpastian global ini kemungkinan akan berlangsung cukup panjang. Karena itu kita perlu menjaga optimisme, komitmen, dan sinergi agar ekonomi tetap dapat bertahan,” ujar Hosianna.

Menurutnya, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor, namun juga menjadi tantangan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor, terutama bahan baku industri dan energi.

Hosianna juga menilai konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu tekanan inflasi di Indonesia.

“Jika harga minyak global meningkat, tentu ada potensi tekanan terhadap inflasi di Indonesia, karena kita masih menjadi negara pengimpor minyak,” tutupnya. (chu/*)

[Heateor-SC]