Jadi Sinyal untuk Pemda, Harga Pangan Dorong Inflasi Pangkalpinang Naik ke 2,58 Persen di Akhir 2025

Avatar photo
BPS Kota Pangkalpinang saat menggelar Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (5/1/2026).

PANGKALPINANG, LASPELA — Tekanan harga kebutuhan pokok kembali terasa di Kota Pangkalpinang pada penghujung 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Desember 2025 mencapai 2,58 persen, meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri, menyampaikan bahwa lonjakan inflasi ini terutama dipicu oleh kenaikan harga berbagai komoditas pangan strategis, seperti daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, dengan tingkat inflasi mencapai 7,16 persen,” ujar Dewi saat memaparkan Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (5/1/2026).

Secara data, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Pangkalpinang naik dari 104,83 pada Desember 2024 menjadi 107,53 pada Desember 2025.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,17 persen, sementara inflasi year to date (y-to-d) tercatat sama dengan inflasi tahunan, yakni 2,58 persen.

Tak hanya ayam dan cabai, sejumlah komoditas pangan lain seperti bawang merah, bayam, kangkung, beras, ikan tenggiri, ikan selar, cumi-cumi, hingga ikan singkur ikut menekan kenaikan harga.

Di luar sektor pangan, emas perhiasan, angkutan udara, serta sewa rumah juga tercatat memberi kontribusi terhadap inflasi.

Tekanan harga juga terasa pada berbagai kelompok pengeluaran lainnya. Kelompok transportasi mengalami inflasi 1,92 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 3,68 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,22 persen.

Sementara itu, kelompok kesehatan mencatat inflasi 1,52 persen dan perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga sebesar 0,52 persen.

Di sisi lain, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. BPS mencatat deflasi pada kelompok pendidikan sebesar 9,90 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,21 persen.

“Penurunan harga tersebut dipengaruhi oleh turunnya biaya sekolah, harga telepon seluler, hingga sejumlah kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Dari sisi kontribusi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penentu utama inflasi dengan andil sebesar 2,25 persen. Disusul kelompok transportasi sebesar 0,26 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 0,21 persen.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, inflasi Desember 2025 tercatat lebih tinggi dari inflasi Desember 2024 yang hanya 0,76 persen, dan juga melampaui inflasi Desember 2023 sebesar 2,01 persen.

Menurut Dewi, tren ini menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat langkah pengendalian harga.

“Terutama pada komoditas pangan dan sektor transportasi, guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil,” katanya. (dnd)

 

[Heateor-SC]