Inflasi Tahunan Babel Terendah di Indonesia

* Sinergi dan Kolaborasi Semua Stakeholders

 

PANGKALPINANG, LASPELA – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tercatat mengalami inflasi tahun ke tahun (y-on-y) sebesar 1,21 persen dan inflasi bulan ke bulan (m-to-m) sebesar 0,13 persen.

Angka ini menjadikan posisi Kepulauan Bangka Belitung menjadi wilayah dengan inflasi terendah se-Indonesia.

“Angka ini jauh di bawah angka inflasi nasional yang sebesar 2,57. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Papua Tengah dengan inflasi sebesar 4,76,” kata Kepala BPS Babel, Toto Haryanto Silitonga di Pangkalpinang, Kamis (1/2/2024).

Disampaikan Toto, andil inflasi y-on-y utamanya disumbang oleh komoditas beras, sigaret kretek mesin (skm), dan sawi hijau. Sementara itu andil inflasi m-to-m utamanya disumbang komoditas ikan kembung, daging ayam ras, bawang merah.

“Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran serta Pj Gubernur Safrizal dan jajarannya dalam hal pengendalian inflasi. Karena intervensi langsung itu di makanan yang banyak berperan. Oleh karena itu antispasi kemarin operasi pasar, bahkan sudah ada statement untuk distributor dan keterlibatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Sekali lagi kita mengapresiasi jajaran Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” ucapnya.

Sebelumnya, dikatakan Toto pada Juni 2023 lalu, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi daerah dengan inflasi terendah yaitu sebesar 2,41. Data ini jauh dibawah nasional (inflasi nasional 4%). Meski demikian terdapat beberapa komoditi yang menyebabkan inflasi di Babel terjadi antara lain, Beras, Sigaret Kretek Mesin dan Sawi Hijau.

Sementara itu, Pj Gubernur Safrizal mengatakan inflasi Babel terendah se-Indonesia patut disyukuri dan ini merupakan tantangan untuk mempertahankannya.

“Mempertahankan itu biasanya lebih berat dari mencapai, hasil rilis BPS akan ditindaklanjuti atau analisa oleh pemerintah provinsi dan kabupaten kota dalam rangka pengendalian pertumbuhan ekonomi dan penanganan inflasi,” ujarnya.

Dia menambahkan, terdapat strategi yang dilakukan yaitu ‘ADA’. A pertama, Availability yaitu ketersediaan stok bahan pokok, dengan cara mendorong setiap pelaku produksi, pemerintah akan membantu para produsen untuk mewujudkan hal tersebut.

Kedua adalah D, distribusi. Distribusi dilakukan secara efisien dan memastikan semua komoditas lancar, tanpa adanya biaya yang tak terduga.

A selanjutnya adalah affordability dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan operasi pasar, bantuan sosial atau bantuan keuangan.

“Tentu dalam mengendalikan inflasi ini harus ada strategi perkuatan produksi atau kelancaran transportasi barang pokok, kemudian distribusi diperlancar,” tutupnya.(chu)