Ketua KONI Bateng Beberkan Kunci Kesuksesan di Porprov VI Babel

BANGKA TENGAH, LASPELA – Banyak sejarah tercipta pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Bangka Belitung (Babel) Tahun 2023 yang diselenggarakan bulan Agustus 2023 lalu, khususnya bagi Kabupaten Bangka Tengah (Bateng). Untuk pertama kali, kontingen Bateng menjadi juara umum setelah di perhelatan sebelumnya sebagai tuan rumah hanya berhasil duduk di peringkat ketiga.

Tak sekadar juara umum saja, Bateng pun menorehkan rekor meraih medali emas terbanyak selama perhelatan Porprov Babel, yaitu 71 emas. Pada Porprov sebelumnya, Bateng meraih 55 emas. Raihan ini dilengkapi dengan keberhasilan Bateng meraih medali emas pada cabang olah raga (cabor) sepak bola.

Dalam kesempatan Podcast On The Spot LASPELA yang dibawakan langsung General Manager LASPELA, Bardian di lokasi Mangrove Munjang, Kurau, Bateng, Jumat (8/9/2023), Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bateng, Yasir membeberkan kunci kesuksesan kontingen Bateng pada Porprov VI Babel. Menurut Yasir, secara umum persiapan Bateng hampir sama dengan kabupaten/kota lain di Babel, yakni mengedepankan pembinaan prestasi (binpres). Namun, pembinaan di Bateng sudah berprores selama setahun sebelum Porprov.

“Kami menentukan parameter atlet yang standar untuk Porprov seperti apa. Jadi kalau bercerita jumlah orang, kami munculkan 50 naik ke 100, promo degradasi kami jalankan, dikelola kawan-kawan binpres, itu dibagi lagi, ada istilah pelatda, ada koordinator teknis,” terang Yasir mengawali wawancara podcast.

Jika melihat secara keseluruhan, Yasir mengatakan bahwa atlet Bateng cukup banyak. Namun, bercerita potensi sampai ke Porprov, itu dapat dilihat dari atlet yang dikirimkan sampai 200-an lebih. Parameter penilaian yang dilakukan sebelum Porprov dilihat dari berbagai event seperti kejurda maupun kejurprov.

Tak hanya sebatas penilaian kondisi internal atlet, Yasir pun menekankan timnya agar dapat menginventarisasi kondisi lawan. Misalnya pada kejurprov, ketika melihat kabupaten lain memiliki parameter tinggi untuk prestasi atlet, pihaknya dengan keras mengatur strategi untuk melampaui.

“Kalau filosofi, kami harus naik grafiknya dari lawan. Itu dikelola khusus kawan-kawan binpres,” tegas Yasir.

Terkait peran pelatih, Yasir meyakini bahwa konsistensi dalam proses melaksanakan program dan menentukan pelatihan merupakan kunci penting. Selain itu, keberadaan sarpras turut mendukung persiapan atlet lebih baik.

“Tahun sebelumnya, Bangka Tengah jadi tuan rumah Porprov, tentunya banyak sarana cabor yang disiapkan, dan alhamdulillah fasilitas terpenuhi untuk persiapan Porprov kali ini,” ujarnya.

Keberhasilan Bateng ini pun tidak terlepas dari anggaran yang disiapkan, baik untuk pembinaan prestasi, kegiatan sekretariat, sampai keberangkatan dan kepulangan kontingen di Porprov. Total dana Rp5 miliar menjadi bukti keseriusan Pemkab Bateng untuk mendapatkan prestasi tertinggi pada Porprov VI Babel.

“Dana ini dikelola sesuai peruntukkan, sehingga memunculkan atlet-atlet profesional. Kenapa profesional? Karena atlet ini yang sudah memenuhi standar, dan itu kami targetkan 2 bulan sebelum berangkat, tapi grafik medali sudah dimunculkan satu tahun sebelumnya,” tegas Yasir.

Yasir pun tidak menampik bahwa pihaknya sudah memiliki cabor-cabor yang diunggulkan untuk mendulang banyak medali. Kemudian, ada cabor lain yang harus dipres agar mampu bersaing dengan potensi cabor unggulan dari kabupaten/kota lain.

“Tanpa dikasih tahu medali banyak di cabor mana saja, ateltik, takraw, taekwondo. Bahkan kejutan di cabor panahan sama menembak. Kejutannya keren dalam arti alhamdulillah dapat medali. Sampai terakhir sepak bola dapat emas, ending akhir berkat kawan-kawan oficial, semua tercapai,” katanya.

Dalam upaya pencapaian emas, KONI Bateng sudah memiliki target kunci yaitu 64 emas. Kemudian, melihat potensi atlet, target tersebut naik menjadi 84 emas. Hingga akhirnya, target realisasi diturunkan menjadi 72 emas, meleset 1 medali, Bateng pun pulang dengan 71 medali emas.

“Kenapa target kunci? Ini tidak boleh turun, karena kalau turun otomatis peringkat turun. Dari 64, yang mana yang jadi potensi, akhirya muncul 84, jadi dari 64 ke 84. Tetapi ending akhir 2 hari setelah kami tiba di Porprov, kami turunkan 72, ternyata meleset 1, cuma 71 medali,” ulas Yasir.

Dari 20 cabor yang dipertandingkan pada Porprov VI Babel, Bateng mengirimkan 18 cabor saja. Semua berhasil membawa pulang medali, minimal perunggu. Ada 2 cabor, yaitu tenis meja dan tenis lapangan yang tidak berpartisipasi, karena mendekati Porprov, kepengurusan 2 cabor tersebut tidak aktif.

“Atlet ada, tapi lihat grafik belum memenuhi beberapa target, tapi tetap kita persiapkan, kita bina tapi karena belum ada kepengurusan, kami belum bisa berangkatkan,” tambah Yasir.

Yasir pun mengakui bahwa pihaknya sangat terbantu dengan tim dari PNS Dispora Bateng yang memahami Sport Science. Hal ini memudahkan persiapan teknis, yakni parameter fisik harus sinkron dengan kesehatan.

“Keberuntungan di Bateng, banyak PNS baru lulusan UPI, UNJ di Dispora yang punya pengetahuan dengan sport sciense, nyatu. Kami yang paham di lapangan, didampingi mereka, bisa ada titik temu, yang menjadikan sebuah konsep,” jelasnya.

Bercerita program pembinaan prestasi usia dini, Yasir mengungkapkan bahwa hal tersebut juga sudah dilakukan, khususnya di Pengkab. Namun, berbicara untuk Porprov selanjutnya, KONI tetap membidik atlet yang sudah siap untuk bertanding.

“Suka tidak suka, kita harus pembinaan profesional, tetapi ku rasa kalau atlet usia dini, Dispora melakuan hal sama (pembinaan), kita jadikan mitra, anak ini limitnya seperti apa, kami sinkronkan dengan Dispora untuk pembinaan usia dini,” ujarnya.

Sebagai atlte panjat tebing, Yasir ikut menyayangkan cabor tersebut tidak dipertandingkan di Porprov kemarin. Dia mengakui ada kekecewaan dari para atlet terkait. Namun, Yasir menegaskan agar prestasi tetap harus dipertahankan.

“Mereka tetap latihan, apalagi ada satu atlet Bateng sudah di pelatnas untuk persiapan olimpiade, itu jadi motivasi. Bulan 10 ada pra-PON panjat tebing, kami bersiap,” tegasnya.

Disinggung soal bonus, hal ini sudah menjadi komitmen bersama Pemkab Bateng, termasuk KONI. Bupati Bateng pun sudah launcing, bahwa untuk peraih emas perorangan mendapat Rp35 juta. Jika tidak ada halangan, semua bonus akan dibagikan di bulan Oktober.

“Dukungan Pemda maksimal, yang menentukan keberhasilan adalah hasil, kami di Porprov berhasil, berarti dukungannya maksimal,” imbuhnya.

Kesuksesan Bateng kali ini tentunya menjadi standar tinggi yang mesti dicapai kepengurusan KONI Bateng berikutnya. Hanya, dengan kondisi dukungan pemerintah, kondisi atlet yang tentunya perlu polesan matang, dan memperbanyak potensi atlet, Yasir yakin Bateng masih bisa menjadi juara umum pada Porprov Babel selanjutnya.

Menutup podcast, Yasir menyebutkan 4 kunci agar prestasi olahraga, khususnya di Bateng terus berada di posisi terbaik. Pertama, organisasi apapun khususnya olahraga, harus solid. Kedua, tidak ada yang dilakukan itu instan, semua butuh proses yang lama. Ketiga, Babel memiliki banyak potensi, khususnya ateltik yang dapat berbicara banyak di kancah nasional dengan catatan pembinaan lebih matang. Keempat, support anggaran.

“Sudah waktunya kita bicara bahwa kesejahteraan atlet. Anak-anak sekarang sudah pintar, kalau dia ngasil (menghasilkan pendapatan, red) dak kawa dia lari (ke luar daerah). Itu peran kita dan pemerintah untuk memberikan perhatian,” pungkasnya. (aka)