Dorong Pengembangan Budidaya Aren, Bappeda Jadikan Desa Sungkap Pilot Project

PANGKALPINANG, LASPELA — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melalui bidang penelitian dan pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah (Bappeda) mendorong Desa Sungkap, Kecamatan Simpang Katis Bangka Tengah (Bateng) menjadi percontohan pengembangan budidaya aren di Babel.

Peneliti Bappeda Babel, Nurul Ihsan mengatakan, sebelumnya Bappeda sudah menginisiasi pembudidayaan aren sebagai kelanjutan dari kajian tahun sebelumnya terkait dengan skema perhutanan sosial. Salah satu isu yang berkembang adalah keberadaan sawit dalam kawasan hutan.

“Salah satu alternatif yang diusulkan adalah aren sebagai strategi jangka benah sawit. Lalu diawal tahun kami, termasuk dengan Dr.  Slamet Wahyudi melakukan diskusi dengan Dr. Kastana dari IPB sebagai bagian dari tim kajian tahun 2022 untuk menindaklanjuti soal aren ini,” kata Ihsan, Selasa (15/8/2023).

Setelah berdiskusi dengan Prof Ervizal Amzu sebagai salah satu ahli Konservasi Kehutanan IPB, kemudian disusun proposal dengan skema matching fund kedaireka.

Tim melihat proses pembuatan gula aren (kabung) pada tahap pemasakan air nira. (Foto: ist)

“Jadi semacam pembiayaan bersama antara Dikti dengan Pemda. Terkait lokus, kami coba observasi awal ke desa-desa penghasil gula aren d Pulau Bangka. Pilihannya jatuh ke Sungkap karena mereka sudah memiliki kebun kelompok aren seluas 2 ha,” urainya.

Menuju desa ekowisata diakui Ihsan butuh proses yang panjang, jangka pendek adalah menjadikan Desa Sungkap sebagai sentra pembibitan aren di Pulau Bangka. Sejauh ini, Bappeda Bangka Tengah sebagai bagian tim dari awal sudah juga berencana untuk mengembangkan potensi aren di daerah ini.

“Hasil survey kami, aren di Pulau Bangka cukup berpotensi menjadi sumber pendapatan dimana eksisting dari 3 pohon aren penyadap bisa mendapatkan penghasilan Rp200-300 ribu per hari dan itu hampir merata di semua pengrajin aren di Pulau Bangka,” jelasnya.

Namun demikian, sambung Ihsan aren ini baru bisa dipanen pada usia sekitar 7 tahun sehingga sebaiknya tanaman aren dikombinasikan dengan tanaman lainnya.

Pihaknya menyadari, kendala utama yang dihadapi penyadap aren di Pulau Bangka adalah terbatasnya jumlah pohon karena masih mengandalkan bibit yang tumbuh alami.

“Oleh karena itu, sasaran program pertama kami adalah pelatihan pembibitan agar populasi tanaman aren bertambah,” imbuhnya.

Disinggung mengubah pola pikir masyarakat yang cenderung ingin cepat menghasilkan, Ihsan menegaskan memulai dari desa yang ada penyadap arennya atau yang telah berhasil mengelola aren dan menjadikan sumber pendapatan.

“Karena mereka adalah orang yang sudah mendapatkan manfaat ekonominya. Memang kalau mulai dari desa yang tidak punya pengalaman aren pasti sulit,” akunya.

Ia menambahkan, dalam program ini Bappeda Babel tak sendirian, tetapi melibatkan Bappeda Bangka Tengah , Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Tengah , Disperindagkop UKM Bangka Tengah, Dinas Pertanian Bangka Barat, dan stakeholder terkait lainnya, sedangkan dari pihak kampus (dikti) dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Ervizal A.M. Zuhud (AMZU), MS atau Prof AmZu (dosen Manajemen  Kehutanan dan Lingkungan), Prof. Nuri Andarwulan (dosen Ilmu dan Teknologi Pangan), Dr. Kastana Sapanli (dosen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan) dan dari Universitas Djuanda (UNIDA) Rosy Hutami (dosen Teknologi Pangan). (*/chu)

%d blogger menyukai ini: