Lembaga Sensor Film RI Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri

▪️Agar Masyarakat Cerdas Memilih dan Memilah Film

PANGKALANBARU, LASPELA – Untuk mengajak seluruh komponen masyarakat agar cerdas dalam memilah dan memilih tontonan film dikehidupan sehari-hari, Lembaga Sensor Film RI menggelar sosialisasi budaya sensor mandiri, yang berlangsung di Hotel Novotel Kabupaten Bangka Tengah, Selasa (21/6/2022).

“Diharapkan pentingnya kolaborasi semua pihak karena edukasi ini menjadi kegiatan seumur hidup, di mana setiap tahun ada angkatan dan jenjang usia yang berbeda namun harus tetap diberikan edukasi agar mereka cerdas memilih dan memilah film tontonan,” kata Ketua LSF RI, Rommy Fibri Hardiyanto dalam paparannya.

Menurutnya, literasi film dan digital selalu dibutuhkan dan tidak akan berhenti agar masyarakat selalu paham dan cerdas dalam menyikapi perkembangan dunia digital dan perfilman.

“Dampak globalisasi yang begitu kuat, di mana akses media yang besar memberi kemudahan untuk mengakses sesuatu. Untuk itu budaya sensor mandiri juga harus kita terapkan disetiap komponen masyarakat,” ujarnya.

“Intinya di sini kita selalu mendukung kreativitas anak bangsa karena memang fungsinya LSF adalah memberi pedoman dan bantuan kepada pemilik film, menyortir dan memberi penilaian serta penelitian untuk semua film yang akan ditayangkan ke publik,” tambah Rommy.

Setiap tahun Lembaga Sensor Film (LSF) RI menayangkan 40.000 judul film untuk 4 jenis penayangan. Ada bioskop, televisi, informatika, dan compact disk (CD) yang digandakan.

Dan di tahun 2022 ini tercatat hingga pertengahan tahun sudah lebih dari 20.000 film yang disajikan ke masyarakat umum, untuk 4 golongan umur, semua umur (SU), usia 13 tahun (D13), usia 17 tahun (D17) dan dewasa untuk usia 21 tahun (D21).

“Oleh karena itulah kita ingin masyarakat mengerti bagaimana memilah dan memilih tontonan film, seperti misalkan ada keterangan film itu untuk siapa, apakah untuk semua umur (SU) atau untuk usia17 tahun dan 21 tahun,” jelasnya.

Selain mengajak masyarakat untuk cerdas memilih dan memilah tontonan, LSF RI berupaya membangun desa sensor mandiri, seperti ditahun lalu sudah ada desa sensor mandiri, di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Masyarakat perlu cerdas memilih dan memilah tontonan sehingga kriteria desa sensor mandiri bisa masuk dan ini penting sekali,” tuturnya.

Untuk Babel kita juga sedang berupaya melihat ada tidaknya desa sensor mandiri, dan ini akan kami lakukan diskusi lebih lanjut dengan Pemprov Babel,” ujarnya.

Dia menambahkan, meski namanya desa sensor mandiri, jangan di bayangkan semua desa masuk desa sensor mandiri, karena seperti di klaten dan madiun meski desa kecil tapi masyarakatnya cukup paham untuk memilah dan memilih tontonan sehingga dinamakan desa sensor mandiri.

“Untuk Babel kita juga sedang berupaya melihat ada tidaknya desa sensor mandiri, dan ini akan kami lakukan diskusi lebih lanjut dengan Pemprov Babel,” tutupnya. (wa)

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d blogger menyukai ini: