TOBOALI, LASPELA – Penggunaan internet di masa Pandemi seperti sekarang cukup meningkat tajam dengan penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen, atau 202,6 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia 274,9 juta jiwa.
Peningkatan itu juga disumbangkan oleh pengguna di level usia anak-anak atau pelajar. Demi mengarahkan para pelajar menjadi pengguna internet yang baik, Direktorat Pemberdayaan informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI kembali melaksanakan Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bangka Selatan (Basel).
Webinar bertajuk “Literasi Digital bagi Pendidik dan Anak Didik diera Pandemi” ini, dijelaskan Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, ini bertujuan mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar berbagai dampak negatif penggunaan internet.
“Hasil survei literasi digital yang kita lakukan bersama Siberkreasi dan Katadata pada 2020 menunjukkan bahwa indeks literasi digital Indonesia masih pada angka 3,47 dari skala 1 hingga 4. Hal itu menunjukkan indeks literasi digital kita masih di bawah tingkatan baik,” katanya lewat diskusi virtual.
Dosen Sekolah Vokasi IPB Medhanita Dewi Renanti, S.Kom.,M.Kom memaparkan, pendidikan di era pandemi sudah mengalami perubahan yang sangat besar karena pandemi tidak hanya berimbas pada sektor kesehatan dan ekonomi saja, akan tetapi juga terjadi pada sektor pendidikan.
“Pentingnya multikultural, benturan budaya adalah hal yang pasti karena perbedaan antara peradaban tidak hanya rill, tetapi juga mendasar. Dunia makin menyempit, interaksi beda peradaban makin meningkat, modernisasi ekonomi dan sosial dunia yakni tercabutnya identitas lokal, dan memperlemah negara-negara sebagai sumber identitas. Barat menjadi episentrum kekuatan budaya yakni menjadi kiblat budaya, tapi juga kesadaran budaya yaitu kembalinya fenomena asal,” katanya.
Sementara, praktisi pendidikan ramah anak Dr(Cand) Rr Vemmi Kesuma Dewi,M.Pd, memaparkan tantangan dan peluang pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurutnya, tantangan justru datang dari guru dan siswa sebagai pelaku PJJ, karena pola pendidikan belum terbiasa dengan pembelajaran tanpa tatap muka, dan ketersediaan infrastruktur pendukung yang juga belum memadai.
“Peluang pembelajaran jarak jauh menjadi efektif bila terdapat sinergitas yang baik antar seluruh elemen pendidikan, dan siswa menjadi lebih paham mengenai penggunaan jaringan internet dan lebih berwawasan luas. Karena dapat mencari informasi baru di internet lebih sering daripada sebelumnya,” katanya.
Untuk itu, digital skill bagi tenaga pendidik berkaitan erat dengan kemampuan individu dalam mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak serta sistem operasu digital dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketrampilan guru diera pandemi, terampil membuat media pembelajaran yang menarik, terampil memanfaatkan media sosial dalam konteks pendidikan, terampil menggunakan sear engine untuk mencari materi pembelajaran, terampil menggunakan game based learning, terampil berbahasa asing, critical thinking, mengikuti perkembangan teknologi, melakukan discovery learning, melakukan collaborative dan blended learning, mengoptimalkan potensi siswa dan membuat media belajar menarik sedangkan kemampuan wajib siswa diera 4.0 yakni critical thinking, problem solving, language skill,” jelasnya.
Pada sesi ketiga, pembicara Jasman sebagai Kepala SMA Negeri 1 Lepar Pongok mengatakan, digital ethics merupakan bagian dari kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital atau netiquet dalam kehidupan sehari-hari.
“Media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama. Sedangkan tujuan dari digital ethics Menjaga perasaan, kenyamanan, dan keamanan digital setiap ‘warga’ internet supaya terhindar dari perilaku yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.
Dikatakan Jasman, ada beberapa jenis Network Etiqquete (Netiket) yakni, One to one Communication dan One to Many Communication. Sedangkan softskill ber-Literasi Digital meliputi mengakses informasi sesuai netiket, menyeleksi dan analisis informasi, membentengi diri dari tindakan negatif, membangun relasi sosial, verifikasi pesan sesuai standar netiket, dan memproduksi dan mendistribusi informasi.
“Digital Ethics sebagai panduan berperilaku terbaik di ruang digital membawa individu untuk bisa menjadi bagian masyarakat digital, berada di domain ‘kolektif, informal,” katanya.
Kepala SD Muhammadiyah Toboali, Syahrullah memberikan strategi dan kiat bagi orang tua dalam mempersiapkan anak menghadapi zamannya. Menurutnya yang pertama bagi orang tua yakni keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi pembentukan pribadi dan karakter setiap individu. Orang tua memegang peran penting dan strategis dalam mengantarkan pendidikan bagi putra-putrinya.
“Yang kedua, apakah ayah dan bunda sudah mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital saat ini? Dan ketiga, Perkembangan teknologi digital tidak dapat dihindari, oleh karena itu ayah dan bunda perlu terus belajar dan mengembangkan diri agar dapat mendampingi dan memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan potensi anak-anak kita,” jelasnya.
Ia juga membagikan tips menjaga keamanan digital bagi anak-anak di dunia maya yakni dengan tetap melakukan komunikasi dengan terbuka, manfaatkan fitur perlindungan teknologi, temani anak saat mengakses internet, ajarkan anak untuk tetap berperilaku baik di dunia maya, berikan anak ruang untuk berekreasi dan mengekspresikan diri.
“Kemudian tunjukkan konten yang sesuai dengan usianya, mengimbangi waktu penggunaan media digital dengan interaksi di dunia nyata, meminjamkan anak perangkat digital sesuai keperluan. Selanjutnya, memilihkan program/ aplikasi positif dan menelusuri kegiatan anak di dunia maya,” bebernya.
Sementara para peserta mengikuti dengan antusias seluruh materi yang disampaikan dalam webinar ini, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada para narasumber.
Webinar ini merupakan satu dari rangkaian dua belas webinar yang akan diselenggarakan di wilayah kabupaten Bangka Selatan selama 2021. Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi pada webinar-webinar yang akan dilaksanakan pada pertengahan Agustus mendatang.