Home / BANGKA BELITUNG / Cegah Ambruknya UMKM di Bateng Gegara COVID-19, Apri Panzupi Dorong Pemkab Bateng Berkomunikasi dengan Pihak Perbankan

Cegah Ambruknya UMKM di Bateng Gegara COVID-19, Apri Panzupi Dorong Pemkab Bateng Berkomunikasi dengan Pihak Perbankan

KOBA, LASPELA- Anggota DPRD Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), Apri Panzupi, dorong Pemkab Bateng agar berkomunikasi dengan pihak perbankan guna mengantisipasi sejak dini geliat pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan populasi terbesar dalam dunia usaha Kabupaten Bateng yang cenderung menurun akibat dari pandemi COVID-19.

Apri mengatakan bahwa di tengah pandemi COVID-19 saat ini, usaha para pelaku UMKM terganggu sehingga para pelaku usaha mengalami kesulitan untuk membayar angsuran kepada bank, sehingga ia berharap ada komunikasi antara pemkab dengan pihak bank untuk memberikan sedikit relaksasi likuiditas untuk sistem angsuran yang saat ini sedang berjalan.

“Kelangsungan usaha mereka perlu menjadi perhatian bersama, dan yang mungkin bisa disikapi oleh Pemkab Bateng dalam waktu dekat ini adalah dana bergulir yang ditempatkan oleh Pemkab Bateng di Bank Syariah Babel sebesar Rp. 6,5 miliar,” kata Apri, Senin (1/6/2020).

Menurut Apri, dana tersebut memang diperuntukkan bagi nasabah yang merupakan pelaku UMKM, dengan jumlah nasabah dari dana sebesar Rp. 6,5 miliar tersebut sebanyak 223 UMKM, dan sistem yang digunakan adalah sistem executing yang berarti resiko ada pada perbankan, dan dana pemkab Bateng bersifat tetap.

“Misalnya ada nasabah yang melakukan penunggakan atau kredit macet, hal itu resikonya ada di perbankan, dan dana Rp. 6,5 miliar tadi tetap, artinya tidak bisa berkurang karena itu sudah menjadi konsekuensi perjanjian antara pemkab dengan pihak bank,” ungkap Apri.

Apri berharap agar upaya merelaksasi likuiditas sistem pembayaran angsuran ini dapat mengamankan UMKM yang ada di Bateng, karena kalau tidak ada intervensi dari pemerintah, menurutnya rasio kredit macet pasti meningkat.

“Kita mengharapkan ada campur tangan pemerintah terhadap program dana bergulir tersebut,” pinta Apri.

Selain itu, Apri mengungkapkan bahwa konsekuensi apabila likuiditas UMKM tidak ditangani dengan tepat, maka pihak bank pun akan mendapatkan catatan buruk dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap kinerja dari Bank Syariah Babel, apabila rasio kredit macet meningkat.

“Demi menyelamatkan dunia UMKM dan perbankan, saya yang berada di Komisi II DPRD Bateng siap untuk dilibatkan dalam hal ini untuk melakukan diskusi bersama dengan pihak eksekutif, perbankan, dan para pelaku usaha,” sebut Apri.(jon)

About wahyulaspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: