Home / BANGKA BELITUNG / Dukungan Pengusaha Kafe Kota Koba di Tengah Kekhawatiran Wabah COVID-19

Dukungan Pengusaha Kafe Kota Koba di Tengah Kekhawatiran Wabah COVID-19

KOBA, LASPELA- Penghasilan Para pengusaha kafe di Kota Koba Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) mengalami penurunan hingga lebih dari 50% semenjak pemberlakuan social distancing oleh pemerintah dan dibatasinya jam operasional mereka sampai dengan Pukul 20.00 WIB. Meski harus menelan pil pahit, para pelaku usaha mengaku mendukung usaha pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Coronavirus disease 2019 (COVID-19) dengan menerapkan social distancing.

Pengelola Kong Djie Coffee Koba, Budi, mengatakan bahwa akhir-akhir ini jumlah pengunjung di kafenya mengalami penurunan, terlebih lagi saat pemberlakuan pembatasan jam operasional, bila kondisi seperti ini tetap berlangsung, ia kuatir usaha-usaha kecil akan gulung tikar karena omset yang didapat tidak mampu menutupi biaya operasional.

“Kami mendukung usaha pemerintah untuk untuk menerapkan social distancing demi keselamatan semua masyarakat, dan untuk menyiasati sepinya pengunjung kami juga membuka delivery order, semoga wabah COVID-19 cepat berakhir agar kami tetap tegak berdiri dan tidak gulung tikar,” kata Budi, Senin (30/3/2020).

Pemilik Gubuk Kopi, Rian, menuturkan bahwa omset penjualannya menurun hingga lebih dari 50%, pada waktu sebelum pemberlakuan pembatasan, rata-rata penghasilannya sekitar Rp. 2 juta/ hari, tetapi kini penghasilannya hanya Rp. 500 ribu/ hari, Rian mengaku memaklumi pemberlakuan yang diterapkan oleh pemerintah saat ini demi kebaikan bersama, dan ia menerima kebijakan tersebut.

“Saya sadar ini untuk kebaikan bersama, memang katanya di Babel masih belum ada yang positif, tetapi kita harus waspada, kita nurut saja agar penanggulangan virus ini cepat selesai, kan lebih baik mencegah daripada mengobati, saya juga rutin menyemprotkan disinfektan di kafe saya,” kata Rian.

Pemilik Kopitia Tanpa M, Arul, mengungkapkan bahwa saat ini usahanya mengalami penurunan penjualan di kisaran diatas 50%, yang biasanya minimal Rp 750 ribu per hari kalau ramai bisa sampai Rp. 1 juta keatas, sekarang dibawah Rp. 500 ribu.

“Saya pernah mengakali dengan memberlakukan konsep delivery order, tetapi masih tidak efektif, dan saya sudah menerapkan SOP guna pencegahan penularan COVID-19 seperti menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan sebelum tutup kafe kami menyemprotkan disinfektan,” ujar Arul.(*)

About wahyulaspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: