Home / BANGKA BELITUNG / Curahan Hati Wanita Asal Toboali Menuntut Ilmu di Negeri Beruang Merah

Curahan Hati Wanita Asal Toboali Menuntut Ilmu di Negeri Beruang Merah

Opini Sellita
*Covid-19: Pulang ke Tanah Air atau Tetap Tinggal

Sellita remaja wanita usia 25 tahun, warga kelurahan Teladan, kecamatan Toboali, kabupaten Bangka Selatan yang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Higher School of Economics Moscow, Rusia, jurusan, politik, ekonomi, filsafat dengan progran studi ekonomi telah tinggal selama 2 tahun di Moscow, Rusia.

Dan saat ini, wanita muda ini memberikan opini pada Kamis, 26 Maret 2020 terkait dengan kondisi tanah air yang sedang dilanda wabah virus corona atau Covid-19 selama beberapa pekan ini.

Dunia tengah dilanda wabah global COVID-19. Tidak ada yang mengira dan tanpa terduga wabah ini begitu cepat menyerang hampir seluruh bagian di muka bumi. Semua penduduk dunia mulai gelisah dan resah akan penyebaran yang begitu cepat dari virus ini.

Sesuai dengan singkatannya COVID-19, virus ini dinamakan Corona Virus yang mulai menyebar sejak Desember 2019 dari Negara pembawa yakni China. WHO sebagai organisasi kesehatan dunia telah menyatakan bahwa virus corona sebagai “pandemic global”.

Hal ini berarti COVID-19 bukan masalah yang harus dihadapi oleh satu Negara saja akan tetapi telah menjadi ancaman bagi setiap Negara di dunia.

Dunia bagian utara, Rusia sebagai negeri beruang merah juga telah menerima laporan bahwa sebanyak 438 kasus dari COVID-19 dan 262 kasus di Ibukota Moskow. Pemerintah Rusia sendiri telah mengambil kebijakan penutupan perbatasan darat, laut dan udara terhitung sejak 18 Maret 2020.

Melihat kondisi yang terjadi seperti sekarang ini, sangat tidak dianjurkan untuk melakukan kunjungan kepada Negara lain kecuali dengan keperluan yang mendesak. Pemerintah Rusia pun menganjurkan kepada masyakarat untuk tetap berdiam diri dirumah dan membatasi aktivitas sosial.

Hampir seluruh kegiatan formal dan informal di Rusia telah dirumahkan. Termasuk sekolah, kantor dan pekerjaan lainnya. Seluruh universitas di Rusia juga telah memberlakukan kebijakan kuliah online sejak 16 Maret 2020 seperti Higher School of Economics, Moscow State University, MGIMO University, Saint Petersburg State University dan lain sebagainya.

Higher School of Economics – 20 Myasnitskaya ulitsa Moscow telah mengeluarkan keputusan Rektor Yaroslav Kuzminov bahwa kegiatan pembelajaran akan dilakukan jarak jauh (online) terhitung sejak 16 Maret 2020 dan akan berakhir sampai Juni 2020 atau kuliah offline akan diberlakukan kembali pada tahun ajaran akademik baru September 2020.

Kebijakan ini dibuat berdasarkan atas isu global yang melanda dunia dianggap sebagai isu serius yang belum pasti kapan akan berakhir.

Kebijakan ini tentunya sebagai bentuk antisipasi yang buat untuk mencegah penyebaran virus melalui kontak sosial. Pemerintah Rusia juga mengimbau untuk melakukan self-isolate dirumah bagi setiap masyarakat.

Walikota Moskow, Sergei Sobyanin mengatakan setiap warga lanjut usia akan menerima pembayaran 4.000 rubel ($50) atau sekitar 900.000 rupiah sebagai imbalan yang telah mengikuti anjuran dari pemerintah.

Melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa asing maupun lokal memilih untuk meninggalkan lingkungan universitas seperti asrama dan memilih untuk pulang kerumah masing-masing. Hal ini tentunya menjadi dilemma bagi mahasiswa asing yang jauh dari Rusia seperti mahasiswa-mahasiswa dari Asia.

Keinginan untuk pulang pun semakin besar bagi mahasiswa melihat proses pembelajaran yang dipindahkan melalui sistem online sampai Juni 2020, terutama bagi mahasiswa Indonesia di Rusia.

Akan tetapi, dilema yang dirasakan menjadi keresahan bagi Mahasiswa Indonesia karena kasus yang terjadi di tanah air lebih besar jika dibandingkan dengan kasus yang ada di Rusia.

Tidak hanya itu, beberapa maskapai internasional juga telah membatasi penerbangan ke beberapa Negara termasuk Indonesia terhitung sejak 20 Maret 2020. Bahkan sebagai mahasiswi HSE Moscow, Hartati (26th) harus melupakan angan-angannya sementara waktu untuk bertemu keluarga dan sanak saudara di Indonesia dalam waktu dekat karena maskapai yang akan digunakan telah membatalkan penerbangannya ke Indonesia pada bulan Mei 2020.

Disisi lain, pilihan untuk menetap di Rusia pun menjadi pilihan terakhir bagi mahasiswa asing. Karena sebagian besar mahasiswa tinggal sementara di Rusia untuk itu mahasiswa lebih memilih untuk tinggal di asrama yang merupakan tempat tinggal bersama dengan mahasiswa lainnya.

Tinggal di asrama merupakan pilihan yang harus diambil untuk mahasiswa saat ini. Walaupun tinggal di asrama bukanlah pilihan yang cukup tepat untuk melakukan self-isolate karena tempat bersama merupakan wadah yang rentan untuk melakukan kontak sosial satu sama lain.

Sejauh ini, memang beberapa asrama telah menerapkan kebijakan dengan melakukan cek suhu sebelum dan sesudah meninggalkan asrama. Salah satu asrama yang menerapkan kebijakan ini adalah asrama 7 HSE (1-Y Saratovskiy Proyezd, Moscow).

Akan tetapi cara tersebut tentunya belum efektif untuk memerangi virus ini karena virus ini merupakan virus baru yang gejalanya muncul setelah beberap hari bahkan beberapa minggu.

Sebagai mahasiswa asing, kami hanya bisa mengikuti peraturan dan kebijakan yang ada di Rusia guna untuk melakukan tindakan pencegahan. Kami hanya berharap wabah yang melanda dunia ini segera berakhir sehingga aktivitas akan kembali berjalan normal seperti sedia kala.

About nputralaspela

x
Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: